jurnalistik.co.id – Perdagangan saham Sesi I pada Selasa (3/11/2026) mencatat pelemahan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan Sesi I, indeks turun 2,62% ke level 4.963,06, seiring aktivitas investor asing yang cenderung melepas kepemilikan di pasar.
Menurut laporan Mirae Asset Sekuritas yang dirujuk dalam pemberitaan, tekanan jual bersih investor asing tercatat mencapai Rp831,55 miliar. Kondisi tersebut menjadi salah satu penopang mengapa pergerakan indeks pagi hingga siang hari bergerak melemah.
Pelepasan saham oleh investor asing terlihat paling menonjol pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Di kinerja Sesi I, investor asing mencatat net sell pada BBRI sebesar Rp173,45 miliar, yang kemudian ikut menekan harga saham perseroan.
Akibat arus jual tersebut, saham BBRI turun 3,19% dan bergerak ke level Rp2.730 per saham. Turunnya BBRI turut memberi bobot pada arah IHSG yang pada akhirnya ditutup merah sepanjang Sesi I.
Selain BBRI, beberapa emiten lain juga masuk dalam daftar nilai net sell terbesar selama sesi berjalan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi salah satu yang mengalami pelepasan dengan nilai net sell Rp95,77 miliar, disusul PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) sebesar Rp69,4 miliar.
Di bawah ANTM, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga tercatat mengalami net sell Rp59,93 miliar. Berikutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net sell senilai Rp54,46 miliar dalam transaksi investor asing pada Sesi I.
Dengan komposisi tersebut, pola transaksi investor asing pada awal perdagangan menunjukkan kecenderungan dominan untuk menjual saham di beberapa nama berlikuiditas tinggi. Situasi ini selaras dengan kinerja IHSG yang bergerak turun, mencerminkan bahwa sentimen pelepasan berada di jalur yang lebih kuat dibanding akumulasi beli bersih.
Berita Terkait
Meski demikian, tidak semua pergerakan investor asing sepenuhnya berada pada sisi jual. Dalam catatan net buy terbesar, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) mencatat pembelian bersih hingga Rp37,87 miliar, dan merespons dengan penguatan harga.
Pergerakan BRIS pada Sesi I terlihat sejalan dengan minat pembelian tersebut. Saham BRIS menguat 1,48% ke level Rp1.030 per saham setelah investor asing membukukan net buy paling besar di antara saham-saham yang dikejar.
Masih terkait aksi beli investor asing, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masuk daftar net buy dengan nilai Rp27,88 miliar. Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat net buy Rp16,63 miliar, diikuti PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) sebesar Rp13,42 miliar, serta PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) senilai Rp12,34 miliar.
Secara keseluruhan, gambaran arus dana investor asing pada Sesi I menunjukkan dua sisi yang bergerak bersamaan: pelepasan bersih yang menekan indeks, serta akumulasi beli yang memberi penyangga pada beberapa saham terpilih. Namun, dengan nilai net sell yang lebih besar, arah pasar pada akhirnya tetap mengikuti dominasi tekanan jual.
Bagi pelaku pasar, data tersebut dapat menjadi rujukan untuk membaca peta minat investor asing pada level saham. Ketika arus net sell terkonsentrasi pada emiten tertentu seperti BBRI, TLKM, ANTM, BUMI, dan TPIA, maka dampaknya cenderung cepat terlihat pada arah IHSG di fase perdagangan awal.
Jika dibandingkan besarnya arus, tekanan jual investor asing pada Sesi I terlihat jauh lebih dominan. Nilai net sell bersih mencapai Rp831,55 miliar, sedangkan daftar net buy terbesar yang tercatat justru didukung beberapa emiten perbankan dan konsumer dengan total sekitar Rp108,14 miliar dari BRIS, BMRI, BBNI, DMAS, dan ICBP. Perbedaan skala ini membantu menjelaskan mengapa penguatan yang muncul di sejumlah saham tetap tidak mampu membalik arah IHSG yang berakhir melemah.
Di tingkat pergerakan harga, pola tersebut tampak dari respons pasar pada saham yang menjadi fokus pelepasan dan pembelian. BBRI yang mengalami net sell terbesar juga terkoreksi lebih dalam ke level Rp2.730 atau turun 3,19%, sementara BRIS—yang mencatat net buy paling besar—bergerak berlawanan dengan menguat 1,48% ke Rp1.030. Dengan demikian, arus investor asing pada awal perdagangan membentuk dua kecenderungan sekaligus, tetapi bobot tekanan jual pada saham-saham berlikuiditas tinggi lebih cepat menyalurkan sentimen ke laju indeks.












