jurnalistik.co.id – Andy Burnham menepis penilaian bahwa pemerintahannya bergaya “tax and spend socialist”, setelah sejumlah komentar menyebut pasar kini meragukan kesungguhan Perdana Menteri dalam memangkas belanja.
Dalam tanggapannya, Burnham menegaskan ia siap mengambil “difficult decisions” terkait ekonomi, sekaligus menyatakan pemerintah telah lebih dulu membuat pilihan-pilihan sulit sejak ia mulai menjabat.
Komentar tersebut muncul setelah Andy Haldane, mantan kepala ekonom Bank of England yang pernah memberi nasihat ekonomi kepada Burnham, menyampaikan bahwa investor menjadi makin waspada terhadap rencana-rencana pemerintah.
Haldane menyebut pasar menilai kepemimpinan Burnham sebagai “tradisional tax and spend socialist”, seraya menyinggung kekhawatiran seputar kemauan untuk mengurangi belanja.
Ia juga mengatakan bahwa pelaku pasar yang sebelumnya sempat bersikap lebih hati-hati namun terbuka pada musim panas, kini berkembang ke posisi “studied scepticism” pada bulan September.
Lebih jauh, Haldane menyampaikan bahwa “fiscal Achilles Heel” pemerintahan sejauh ini adalah ketidakmauan dan/atau ketidakmampuan untuk memotong pengeluaran publik.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor mempertanyakan apakah pemerintah bersedia menanggung risiko kemarahan dari anggota parlemen Partai Buruh di kubu belakang ketika pengurangan belanja publik dilakukan.
Dalam wawancara di LBC, Haldane juga mendorong Burnham agar tidak menaikkan pajak lebih lanjut.
Terkait agenda fiskal, Haldane menggambarkan situasi sebagai pilihan yang “straight choice” antara menaikkan pajak atau melakukan pemangkasan belanja pada “yearly spending statement” yang dijadwalkan pada 28 Oktober.
Burnham merespons dengan menolak gambaran tersebut, mengatakan bahwa penilaian itu tidak menggambarkan realitas.
“That doesn’t tell the story. We are not that,” kata Burnham kepada sejumlah penyiar.
Pada kesempatan kunjungan, Burnham mengakui bahwa anggaran bulan depan akan menghadapi tantangan, termasuk karena inflasi yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Ia mengaitkan kenaikan inflasi tersebut dengan “situation in the Middle East”.
Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang menghindari keputusan sulit terkait belanja publik.
Burnham menyebut sejumlah langkah yang menurutnya menunjukkan adanya keputusan sulit lebih awal, termasuk “reprioritising” sebagian pengeluaran pemerintah selama musim panas untuk menutup kebutuhan dari pengumuman awal terkait biaya hidup.
Berita Terkait
Ia juga mengatakan rollout digital ID telah disetop.
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa kebijakan yang diambil justru memperlihatkan pemerintah tetap akan mengambil langkah sulit agar ekonomi tetap berada di jalur yang semestinya.
Di sisi lain, ruang gerak Burnham pada penyusunan Budget juga dibatasi komitmen politiknya terhadap janji manifesto Partai Buruh pada pemilu terakhir, yakni tidak menaikkan tarif utama pajak penghasilan, PPN (VAT), maupun National Insurance.
Burnham juga berjanji mempertahankan target utang dan belanja yang sebelumnya ditetapkan oleh pemerintahan pendahulunya.
Situasi ini menjadi lebih sulit setelah kenaikan biaya untuk melayani utang yang sudah dimiliki Inggris memperburuk tekanan fiskal.
Sejumlah prediksi menyebut kenaikan biaya servis utang, yang berjalan beriringan dengan latar ekonomi yang memburuk akibat perang Iran, berpotensi mengikis bantalan sekitar ÂŁ24 miliar.
Bantalan tersebut merupakan warisan dari pemerintahan Starmer, sehingga fleksibilitas kebijakan berikutnya bisa makin menipis.
Sejak mulai menjabat, Burnham menyebut pemerintah telah mengalokasikan sekitar ÂŁ1,8 miliar untuk intervensi biaya hidup.
Sebagian pendanaan, katanya, akan berasal dari pengalihan dana di dalam anggaran yang sudah ada pada kementerian dan lembaga pemerintah.
Dalam proses kebijakan, muncul pula kritik terhadap usulan menggunakan dana yang semula diperuntukkan bagi program digital ID untuk mendanai pemotongan VAT pada tagihan listrik rumah tangga.
Kritik itu disampaikan oleh seorang sekutu Starmer yang menyoroti bahwa pendanaan untuk skema digital ID sendiri belum dikonfirmasi.
Di saat yang sama, Burnham juga berjanji menambah dana pertahanan seperti yang sebelumnya dijanjikan Starmer sebelum ia keluar pada musim panas.
Meski begitu, keputusan mengenai kapan menargetkan belanja militer sebesar 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) ditunda hingga tahun berikutnya.
Dengan Budget yang mendekat, perdebatan tentang pilihan antara menaikkan pajak dan memotong belanja tetap menjadi pusat perhatian, terutama setelah Haldane menyebut pasar kini menaruh kecurigaan pada kemampuan pemerintah mengurangi pengeluaran publik.
Burnham sendiri memilih menempatkan narasinya pada tindakan-tindakan yang ia sebut telah diambil, sambil menyatakan kesiapan untuk menjalankan keputusan sulit demi menjaga ekonomi tetap pada jalurnya.












