Bisnis & Ekonomi

Menjelang Rebalancing MSCI, IHSG Berpeluang Tembus Level 6.454

×

Menjelang Rebalancing MSCI, IHSG Berpeluang Tembus Level 6.454

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jelang Rebalancing MSCI, IHSG Diproyeksi Tembus Level 6.454

jurnalistik.co.id – Menjelang pengumuman rebalancing MSCI pada 12 Agustus 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (10/8/2026). Sejumlah analis menilai peluang kenaikan masih terbuka, termasuk potensi mendekati dan menembus area level 6.454.

Secara teknikal, IHSG diproyeksikan berupaya membangun momentum breakout pada area resistance terdekat. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut reli penguatan yang sedang berlangsung dapat menjadi pemicu pergerakan lanjutan.

“Secara teknikal pergerakan IHSG berpotensi membangun momentum breakout pada resistance terdekat karena faktor reli penguatan,” ujar Nafan lewat risetnya yang dipublikasi Senin ini.

Penguatan tersebut turut dipantau melalui indikator Stochastics K_D yang menunjukkan sinyal positif. Selain itu, Moving Average 20 dan Moving Average 60 telah membentuk pola golden cross, yang biasanya menjadi pertanda awal menguatnya tren.

Untuk level pergerakan, IHSG memiliki area support di 6.354 dan 6.292. Sementara itu, resistance berada di area 6.454 serta 6.554, sehingga pergerakan Senin diproyeksikan menguji zona tersebut.

Valuasi masih menjadi penopang

Di sisi fundamental, penilaian pasar terhadap saham Indonesia dinilai masih relatif menarik. Nafan mencatat Price to Earnings Ratio (P/E) berada di level 9,76 kali, dan angka ini relatif lebih rendah dibandingkan beberapa regional markets setelah tekanan yang terjadi pada semester I-2026.

Menurutnya, kondisi valuasi yang lebih terjangkau tersebut berpotensi kembali menarik minat investor terhadap pasar saham Indonesia. Indikasi minat tersebut tercermin dari arus dana investor asing.

Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), investor asing mencatatkan daily net foreign buy sebesar Rp 917,23 miliar. Namun, bila dilihat secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan net foreign sell senilai Rp 95,42 triliun, sementara kinerja IHSG year to date (YTD) tercatat turun 25,87 persen.

Sentimen global ikut menguatkan risk appetite

Selain faktor domestik, sentimen global juga disebut mendukung pergerakan IHSG. Nafan menilai penguatan bursa saham AS pada perdagangan Jumat memberikan isyarat positif bagi pasar regional Asia, termasuk Indonesia.

Dalam data yang dirujuk, indeks S&P 500 naik 0,62 persen dan mencetak rekor baru. Nasdaq menguat 1,30 persen, sedangkan Dow Jones naik 0,28 persen.

Penguatan tersebut terjadi setelah rilis data tenaga kerja AS atau US nonfarm payroll lebih lemah dari perkiraan. Situasi ini meningkatkan harapan pasar bahwa kebijakan The Fed akan lebih akomodatif, sehingga persepsi terhadap prospek investasi menjadi lebih kondusif.

“Hal ini positif bagi risk appetite pada bursa regional Asia, termasuk Indonesia,” papar Nafan.

Dengan kombinasi sinyal teknikal yang mulai mengarah ke potensi breakout serta dukungan sentimen global, pasar menanti reaksi IHSG pada area resistance 6.454. Meski demikian, pergerakan tetap perlu dicermati dari dua sisi, yakni kemampuan mempertahankan support 6.354 dan 6.292 sekaligus mengikuti dinamika ketika IHSG menguji batas atas di 6.454 hingga 6.554.

Menjelang rebalancing MSCI pada 12 Agustus 2026, fokus pelaku pasar cenderung beralih pada kelanjutan reli IHSG dari perdagangan sebelumnya. Dalam pandangan teknikal yang ada, pergerakan Senin diproyeksikan menguji resistance 6.454 terlebih dahulu sebelum arah lanjutan ditentukan di sekitar level berikutnya, yaitu 6.554.

Sejumlah indikator yang disebut dalam telaah teknikal juga menegaskan peluang penguatan tetap terjaga. Stochastics K_D yang menunjukkan sinyal positif serta terbentuknya golden cross pada Moving Average 20 dan Moving Average 60 umumnya dipakai untuk membaca awal konsolidasi menjadi tren lanjutan, dengan syarat IHSG mampu menjaga area support 6.354 dan 6.292.

Di sisi lain, arus dana investor asing tetap menjadi cerminan dinamika sentimen yang sedang berlangsung. Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), investor asing mencatatkan daily net foreign buy Rp 917,23 miliar. Namun, secara kumulatif sepanjang tahun berjalan, investor asing masih membukukan net foreign sell Rp 95,42 triliun, sementara IHSG year to date (YTD) turun 25,87 persen.