jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir tahun tetap mengacu pada target yang telah ditetapkan pemerintah. Pernyataan itu disampaikan saat ia ditemui seusai Danantara Technology Investment Forum, Senin (26/10/2026).
Menurut Suahasil, kerangka kerja penerbitan SBN telah diarahkan pada target defisit APBN. Ia menegaskan pemerintah telah menetapkan angka penerbitan yang sejalan dengan sasaran tersebut.
“Sesuai target kita menuju kan sudah kita umumkan, target defisit kita, di 2,85% dari PDB itu udah ada angka penerbitannya kan, kita bekerja dengan target segitu,” kata Suahasil.
Pernyataan itu muncul di tengah kondisi defisit anggaran yang menunjukkan pelebaran. Defisit APBN pada bulan September 2026 tercatat mencapai Rp319 triliun, atau setara 1,24% dari PDB.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Pada periode sebelumnya, defisit tercatat hanya 0,9% terhadap PDB.
Dalam konteks pembiayaan, pemerintah juga mencatat realisasi pembiayaan utang. Realisasi pembiayaan utang pemerintah mencapai Rp494,3 triliun hingga 30 September 2026.
Nilai tersebut setara 59,4% dari target pembiayaan utang bersih tahun ini sebesar Rp832,2 triliun. Dengan demikian, porsi realisasi hingga akhir September berada di lebih dari setengah target tahunan.
Suahasil menekankan bahwa penerbitan SBN tetap berada pada jalur target yang telah diumumkan. Ia tidak mengaitkan rencana penerbitan hanya pada kondisi defisit bulan berjalan, melainkan pada angka target yang sudah dihitung sejak awal.
Berita Terkait
Di forum yang ia hadiri pada Senin (26/10/2026), pemerintah terlihat menyampaikan pesan konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan pembiayaan. Meski defisit September melebar dibandingkan periode sebelumnya, acuan penerbitan SBN masih diarahkan ke target defisit 2,85% dari PDB.
Dengan penerbitan SBN yang tetap diarahkan sesuai sasaran, perhatian berikutnya beralih pada perkembangan realisasi pembiayaan utang hingga akhir tahun. Angka hingga 30 September memperlihatkan adanya progres, yaitu Rp494,3 triliun atau 59,4% dari target pembiayaan utang bersih Rp832,2 triliun.
Seruan konsistensi tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah mengikat arah kebijakan pembiayaan pada target yang telah ditetapkan. Dalam periode setelah September 2026, pelaksanaan penerbitan SBN diharapkan tetap mempertimbangkan capaian realisasi pembiayaan yang sudah berjalan.
Suahasil menempatkan rencana penerbitan SBN sebagai bagian dari skenario pembiayaan yang sudah dihitung sejak tahap awal. Dengan kerangka tersebut, pemerintah tetap memakai angka target sebagai pedoman utama, sehingga proses kebijakan tidak bergantung pada fluktuasi singkat di satu bulan pelaporan.
Di saat yang sama, pelebaran defisit pada September memberi gambaran bahwa kebutuhan pembiayaan berjalan dinamis. Namun, pemerintah menyatakan arah kebijakan tidak berubah, karena acuan yang digunakan adalah sasaran defisit yang telah ditetapkan, termasuk angka defisit 2,85% terhadap PDB yang menjadi rujukan penerbitan.
Perkembangan pembiayaan juga tampak dari realisasi utang hingga 30 September 2026. Pemerintah mencatat realisasi pembiayaan utang mencapai Rp494,3 triliun, yang berarti sudah melampaui setengah dari target pembiayaan utang bersih tahun ini sebesar Rp832,2 triliun. Posisi capaian tersebut digunakan sebagai indikator progres pelaksanaan pembiayaan sepanjang tahun.
Dengan capaian realisasi yang sudah terbentuk sampai akhir September, fokus kebijakan setelahnya diarahkan pada kelanjutan konsistensi pembiayaan. Pemerintah juga menegaskan bahwa penerbitan SBN diharapkan tetap mengikuti target yang telah diumumkan, sambil mempertimbangkan perkembangan yang sudah terjadi dalam realisasi pembiayaan utang pada periode berjalan.
Di kesempatan tersebut, Suahasil kembali menegaskan bahwa rencana penerbitan SBN bukan keputusan reaktif, melainkan bersandar pada angka target defisit yang telah dipublikasikan. Dengan acuan tersebut, penerbitan ditempatkan sebagai bagian dari rancangan pembiayaan yang sudah disusun sejak awal.
Sejalan dengan itu, pemerintah juga menggunakan capaian realisasi pembiayaan utang sampai 30 September 2026 sebagai pertimbangan arah kebijakan. Realisasi utang sebesar Rp494,3 triliun atau 59,4% dari target pembiayaan utang bersih Rp832,2 triliun menjadi penanda progres, sekaligus pengingat agar konsistensi pembiayaan tetap dijaga hingga akhir tahun.












