jurnalistik.co.id – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, pada Senin (14/9). Fasilitas ini dirancang sebagai platform pengembangan sekaligus pengujian bioetanol dalam skala pilot.
Bioethanol Development Center dikembangkan untuk mencakup rangkaian proses yang lebih lengkap. Mulai dari pengembangan bahan baku (feedstock), budidaya, pengujian teknologi, hingga validasi tahapan produksi bioetanol. Dengan demikian, pengembangan tidak berhenti pada satu segmen, tetapi diarahkan menjadi ekosistem riset dan penerapan teknologi secara bertahap.
Peluncuran dihadiri berbagai pemangku kepentingan, termasuk unsur pemerintah, Pertamina, industri, akademisi, serta mitra strategis. Di antaranya Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu; Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan; Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero) Ahmad Siddik Badruddin; dan Direktur Utama Pertamina NRE John Anis.
Selain itu, hadir pula Gubernur Provinsi Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Dari sektor industri otomotif dan ekosistem pendukung, turut bergabung Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto serta Presiden Direktur Toyota Tsusho Indonesia (TTI) Toru Murakami.
Pendekatan multi-feedstock dan multi-generation
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menjelaskan bahwa tujuan pembangunan fasilitas ini menitikberatkan pada teknologi berbasis pendekatan multi-feedstock dan multi-generation technology. Strategi tersebut memanfaatkan beragam potensi bahan baku untuk pengembangan produksi bioetanol generasi pertama (1G) maupun generasi kedua (2G).
Menurut John, pendekatan itu diharapkan mampu mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus mendorong pembentukan ekosistem bioetanol nasional. Pada kesempatan yang sama, momentum peluncuran ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU).
MoU pertama merupakan Kesepakatan Bersama antara Pertamina NRE dan Pemerintah Provinsi Lampung untuk pengembangan agribisnis, ketahanan energi, dan pangan di Provinsi Lampung. MoU kedua adalah Nota Kesepahaman antara Pertamina NRE, TMMIN, TTI, serta Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (raBit). Kolaborasi ini diarahkan untuk menjajaki potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia, termasuk kajian kelayakan, pengembangan dan pemanfaatan teknologi, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Berita Terkait
Lampung sebagai ekosistem penguatan bioetanol
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyampaikan bahwa pengembangan bioetanol dapat membentuk ekosistem yang mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, serta masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan. Ia menekankan potensi Lampung melalui kalimat: “Lampung memiliki 430 ribu KL, dengan strategi utama reaktivasi, sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pilot Bioethanol Development Center atau pusat pengembangan percontohan biomassa, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung, serta konversi pabrik, sehingga dapat mendukung ketahanan energi,” ujar Todotua, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).
Sementara itu, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyampaikan apresiasi kepada Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM serta Gubernur Lampung atas tersusunnya pembangunan Bioethanol Development Center. John kemudian menambahkan bahwa sorgum dipandang sebagai bahan baku yang menarik untuk dikembangkan karena memiliki potensi produktivitas dan siklus panen yang kompetitif.
John menyebut, “Yang menarik dari sorgum ini, selain produktivitasnya, siklusnya juga bisa tiga kali panen dalam setahun,”. Pengembangan sorgum di Lampung, menurutnya, diarahkan dengan pendekatan multi-generation: nira dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol generasi pertama (1G), sedangkan batang atau bagian biomassa yang tersisa setelah pengambilan nira dapat dikembangkan menjadi bahan baku bioetanol generasi kedua (2G).
Skala pilot hingga tahapan proses
Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan sebagai fasilitas pilot dengan kapasitas produksi bioetanol hingga 60 kiloliter per tahun. Fasilitas ini akan dipakai untuk menguji berbagai kombinasi bahan baku dan teknologi, mulai dari pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi, termasuk tahapan pre-treatment untuk pengolahan bahan baku 2G.
John juga menyatakan komitmen program tersebut melalui kalimat: “Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation,”. Dengan adanya fasilitas ini, peluncuran sekaligus menjadi penanda dimulainya pengembangan Lampung sebagai pusat bioetanol yang dibangun secara end-to-end, dari pengembangan dan budidaya bahan baku hingga pengolahan serta validasi teknologi.
Ke depan, hasil pengujian pada skala pilot akan menjadi dasar bagi technical, economic, and commercial assessment untuk menentukan kelangkapan pengembangan menuju skala demonstrasi dan komersial. Melalui tahapan itu, Bioethanol Development Center diarahkan agar mampu mengubah proses pengembangan menjadi pertimbangan yang lebih matang untuk penerapan pada fase berikutnya.












