Bisnis & Ekonomi

Prabowo Lantik Suahasil Nazara, Rotasi Menkeu Kedua di Era Kabinet Merah Putih Soroti Tekanan Fiskal

×

Prabowo Lantik Suahasil Nazara, Rotasi Menkeu Kedua di Era Kabinet Merah Putih Soroti Tekanan Fiskal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bloomberg Technoz - Berita Ekonomi & Bisnis Terbaru Hari Ini

jurnalistik.co.id – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada Senin, 14 September 2026. Ia menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang menempati jabatan tersebut pada periode sebelumnya.

Pelantikan ini menandai rotasi kursi Menteri Keuangan untuk kali kedua di era Kabinet Merah Putih. Sebelumnya, pada September 2025, Purbaya ditunjuk untuk menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

Perubahan di posisi bendahara negara tersebut dipandang oleh Bank Danamon sebagai bagian dari kesinambungan arah kebijakan fiskal. Menurut bank, proses pergantian ini bergerak sejalan dengan target yang telah ditetapkan pemerintah.

Meskipun demikian, Bank Danamon tetap menekankan bahwa dinamika fiskal ke depan tidak akan tanpa tantangan. Fokusnya, terutama pada upaya menjaga keseimbangan antara agenda pertumbuhan yang ambisius dengan ruang fiskal yang kian terbatas.

Bank Danamon melihat bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027. Dalam kerangka yang sama, pemerintah juga menetapkan defisit fiskal sebesar 2,40% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun tersebut.

Namun, proyeksi Bank Danamon menunjukkan arah yang lebih konservatif dibanding target pemerintah. Bank menilai pertumbuhan ekonomi pada 2027 diperkirakan berada di kisaran 5,1%.

Bersamaan dengan itu, Bank Danamon memperkirakan defisit fiskal sekitar 2,75% terhadap PDB. Angka ini tetap ditempatkan dalam koridor aturan fiskal yang pemerintah sebutkan, yaitu batas defisit sebesar 3%.

Dengan proyeksi tersebut, perbedaan terbesar muncul pada besaran defisit dan laju pertumbuhan dibanding sasaran awal. Bank Danamon menempatkan perbedaan proyeksi itu sebagai sinyal perlunya perhatian pada daya dorong ekonomi, terutama saat tekanan terhadap anggaran meningkat.

Secara kebijakan, rotasi Menteri Keuangan kerap menjadi momen penegasan kesinambungan. Di sisi lain, pergantian peran juga dapat dibaca sebagai penguatan agenda pengelolaan anggaran yang harus tetap konsisten dengan target yang sudah dipasang pemerintah.

Dalam pandangan Bank Danamon, langkah saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian keputusan yang bertujuan menjaga arah fiskal tetap berjalan. Rangkaian tersebut diperkirakan akan berinteraksi dengan target pertumbuhan dan parameter defisit yang ditentukan untuk 2027.

Tantangan yang disoroti Bank Danamon berangkat dari dua aspek utama. Pertama, pemerintah membawa agenda pertumbuhan yang ambisius. Kedua, ruang fiskal yang tersedia untuk mendukung agenda tersebut dinilai semakin terbatas.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan sensitivitas kebijakan. Saat target pertumbuhan dan target defisit harus berjalan bersamaan, setiap penyesuaian strategi biasanya membutuhkan pertimbangan yang lebih ketat, agar defisit tidak melewati batas aturan yang ditetapkan.

Bank Danamon juga menilai proyeksi yang lebih konservatif menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam membaca perkembangan ekonomi. Dengan pertumbuhan yang lebih rendah dari target 6%, implikasinya biasanya berkaitan dengan dinamika penerimaan dan kebutuhan belanja yang harus dikelola secara disiplin.

Di level defisit, estimasi 2,75% terhadap PDB menempatkan posisi pemerintah tetap dekat dengan batas 3%. Artinya, ruang manuver kebijakan fiskal masih ada, tetapi tidak sebesar jika defisit berada jauh di bawah ambang.

Dalam konteks itu, rotasi Menkeu kedua di era Kabinet Merah Putih menjadi sorotan karena jabatan tersebut berada pada pusat pengambilan keputusan fiskal. Pengelolaan defisit, termasuk strategi menjaga keseimbangan antara kebutuhan belanja dan dukungan pada pertumbuhan, akan menjadi ujian yang berulang.

Meski demikian, Bank Danamon tidak melihat perubahan kursi Menteri Keuangan sebagai pemutusan arah. Bank menempatkannya sebagai proses kesinambungan fiskal, selama kebijakan tetap selaras dengan target yang sudah ditetapkan pemerintah.

Ke depan, tantangan fiskal yang ditekankan Bank Danamon kemungkinan akan berpusat pada bagaimana agenda pertumbuhan bisa didorong tanpa membuat tekanan terhadap defisit meningkat berlebihan. Karena itu, proyeksi Bank Danamon—pertumbuhan 5,1% dan defisit 2,75%—dipakai sebagai gambaran tantangan yang harus dihadapi hingga 2027.

Dengan menegaskan bahwa defisit berada dalam batas aturan fiskal 3%, Bank Danamon juga menekankan pentingnya disiplin dalam menjaga parameter fiskal. Penekanan ini menjadi relevan ketika target pemerintah berada pada 2,40% defisit, sementara proyeksi bank menunjukkan defisit yang lebih tinggi namun masih terkendali.

Dalam keseluruhan lanskap tersebut, pelantikan Suahasil Nazara oleh Prabowo Subianto membawa babak baru pengelolaan fiskal di periode kabinet berjalan. Pergantian ini terjadi pada momentum ketika target pertumbuhan dan target defisit menjadi titik tumpu kebijakan ekonomi ke depan.

Dengan kata lain, rotasi Menkeu kedua di era Kabinet Merah Putih bukan hanya persoalan pergantian personal. Ia juga terkait dengan tantangan menjaga kesinambungan fiskal sekaligus menghadapi batas ruang anggaran, sebagaimana disoroti Bank Danamon melalui proyeksi untuk 2027.