Bisnis & Ekonomi

Ribuan pekerja Barclays menuntut perubahan aturan kerja dari kantor dan kompensasi sekali bayar

×

Ribuan pekerja Barclays menuntut perubahan aturan kerja dari kantor dan kompensasi sekali bayar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Thousands of Barclays staff make return-to-office demands

jurnalistik.co.id – Unite, serikat yang mewakili sekitar 36.000 pekerja Barclays, meluncurkan penolakan terhadap rencana perubahan aturan kerja yang mendorong lebih banyak hari di kantor mulai bulan depan. Serikat itu meminta bank membatalkan kebijakan tersebut dan menggantinya dengan skema yang dinilai lebih adil bagi karyawan.

Menurut perusahaan, pekerja yang sebelumnya diharapkan bekerja di kantor dua hari per minggu akan diminta hadir minimal tiga hari setiap pekan. Unite menilai langkah itu berpotensi menambah beban harian, terutama terkait biaya perjalanan serta kebutuhan pengasuhan anak.

Desakan Unite disampaikan setelah Barclays mengedarkan memo kepada staf pada Juli. Dalam memo itu, Barclays juga menetapkan ekspektasi agar para pemimpin senior bekerja di kantor setidaknya empat hari dalam seminggu.

Unite menyebut ribuan karyawan mengumpulkan tanda tangan dalam sebuah surat terbuka yang menyerukan agar Barclays mundur dari keputusannya. Rick Coyle, petugas nasional Unite, mengatakan jumlah penandatangan “continues to rise”. Ia juga menegaskan bahwa Barclays “is trying to fix a problem that doesn’t exist”.

Dalam penjelasan surat terbuka tersebut, pekerja mengaitkan kebijakan kerja hibrida yang tengah berjalan dengan kinerja yang dinilai baik. Surat itu menyebut para pekerja telah menyampaikan “strong financial results and improved customer services” dengan aturan kerja dari rumah yang berlaku saat ini.

Selain meminta pembatalan aturan, Unite juga merumuskan serangkaian tuntutan untuk memberikan pengecualian atau kompensasi ketika frekuensi kehadiran meningkat. Serikat tersebut mendorong adanya perlindungan bagi karyawan yang menghadapi biaya perjalanan dan persoalan pengasuhan yang lebih berat.

Di antara usulan yang dirangkum Unite adalah pemberian pengecualian untuk komuter dengan durasi perjalanan lebih dari 40 menit atau jarak lebih dari 35 mil. Serikat juga meminta adanya pengecualian selama periode Natal, musim panas, serta libur sekolah, sebagai langkah mitigasi agar beban kerja dan logistik tidak meningkat secara seragam.

Unite juga mengusulkan batas maksimum satu hari kerja di kantor bagi para pengasuh (carers). Mereka menambahkan perlunya fleksibilitas untuk dukungan pengasuhan yang sifatnya “wrap-around childcare”, yakni skema yang mencakup kebutuhan di luar jam standar.

Untuk menyerap dampak biaya, Unite meminta agar pemberian voucher pengasuhan anak dan opsi penitipan di lokasi (onsite creches) dieksplorasi. Serikat juga memasukkan tuntutan pembayaran sekali (one-off payment) yang ditujukan sebagai kompensasi terhadap biaya yang muncul akibat peningkatan frekuensi kehadiran di kantor.

Barclays, dalam tanggapannya, menyatakan memahami pentingnya menyeimbangkan fleksibilitas dan kebutuhan bekerja bersama di lokasi fisik. Dalam pernyataan yang dikutip, bank mengaku “recognised the benefits of balancing flexibility for colleagues with the importance of working together in our physical locations”.

Bank juga menyebut aturan “minimum time in office requirements” tidak bersifat seragam untuk semua tim. Spokesperson Barclays mengatakan, “Our minimum time in office requirements vary by business area, reflecting the nature of the work and the needs of the business.”

Barclays menolak menyebut secara spesifik berapa jumlah staf yang bakal terdampak oleh perubahan tersebut. Namun, laporan BBC memahami bahwa terdapat perbedaan aturan berdasarkan divisi, dengan contoh bahwa para investment bankers diharuskan berada di kantor lima hari per minggu.

Dalam bantahan yang dilontarkan Unite, serikat menilai gagasan memperketat kebijakan kerja hibrida bukanlah solusi yang tepat. Rick Coyle menilai perusahaan mencoba mengatasi masalah yang sebenarnya tidak perlu, sementara pekerja menganggap kebijakan kerja yang lebih fleksibel sudah berjalan dan produktif.

Perdebatan ini muncul di tengah tren kembalinya pekerja ke kantor yang banyak terjadi setelah pandemi Covid-19. Sejak masa pembatasan mereda, sejumlah organisasi di berbagai sektor berupaya menarik pekerja kembali, meski bukti-bukti yang dibahas dalam laporan-laporan sebelumnya kerap menunjukkan model hibrida dapat sesuai dengan kebutuhan kerja.

Di Inggris, beberapa perusahaan disebut menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Amazon, Boots, dan JP Morgan, misalnya, disebut pernah memperkenalkan aturan yang menuntut staf kantor pusat untuk hadir setiap hari sesudah pandemi.

Di luar perbankan, pandangan terhadap kerja jarak jauh juga beragam. Ewan Venters, executive chair Paul Smith, menyampaikan dalam podcast Big Boss Interview bahwa bekerja dari rumah “just doesn’t work” untuk kalangan muda. Ia juga mendorong pemerintah agar tidak terlalu ikut mengatur keputusan mengenai tempat karyawan bekerja.

Pada saat yang berbeda, Revolut menyatakan perubahan kebijakan terkait kerja dari rumah akan dilakukan bertahap. Pada Juni, bank digital itu mengumumkan bergeser dari kebijakan “remote-first” untuk perekrutan baru pada tahun 2027. Meski demikian, untuk karyawan yang sudah ada, kebijakan tersebut dikatakan tidak akan berubah.

Konflik kebijakan di Barclays kini berada di titik tarik-menarik antara kebutuhan perusahaan untuk bekerja bersama di lokasi dan tuntutan pekerja agar fleksibilitas tetap memiliki ruang, terutama ketika biaya perjalanan dan pengasuhan anak ikut membesar. Unite menilai keputusan yang akan diterapkan bulan depan perlu dikaji ulang, sementara Barclays menegaskan bahwa variasi aturan mengikuti karakter pekerjaan dan kebutuhan bisnis.