Bisnis & Ekonomi

Rupiah Catat Rekor Terendah, IHSG dan Saham Perbankan Turun

×

Rupiah Catat Rekor Terendah, IHSG dan Saham Perbankan Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG dan Saham Bank Tertekan - Market

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh level terendah baru terhadap dolar AS, yang disebut sebagai level “All Time Low/ATL”. Pelemahan ini ikut menekan kinerja saham-saham perbankan dan membuat perdagangan di pasar saham ikut tertekan.

Di tengah kondisi tersebut, saham bank-bank besar ikut melemah seiring rupiah yang bergerak turun. Tekanan yang berulang turut menyeret IHSG untuk kembali berada di zona merah.

Pada perdagangan Kamis (29/10/2026), IHSG mencatat pelemahan lebih dari 2% dan sempat menyentuh level 5.147. Gerak indeks yang melemah mencerminkan respons pasar terhadap penguatan dolar AS serta pergerakan imbal hasil di pasar obligasi global.

Menurut data Bloomberg, rupiah spot ditutup melemah 0,17% ke posisi terendahnya di level Rp18.183/US$. Angka itu sekaligus menjadi penutupan terendah nilai tukar rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka, yang sebelumnya tercatat pada Rabu (28/10/2026).

Pergerakan rupiah tersebut terutama dipicu oleh lonjakan indeks dolar Amerika Serikat yang kembali menguat hingga 102,48. Bersamaan dengan itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS juga ikut menambah tekanan, dengan US Treasury naik 3,3 basis poin (bps) hingga berada di atas 5,02%.

Dalam penelusurannya, penguatan dolar dan yield US Treasury juga berkaitan dengan kondisi pasar komoditas, khususnya minyak mentah. Harga Brent disebut kembali “memanas” dan sempat berada di kisaran US$115 per barel, dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengencangkan sentimen risk-off.

Ketika sentimen risk-off menguat, preferensi investor cenderung bergeser pada aset yang dianggap lebih aman, sementara aset berisiko mendapatkan tekanan. Kombinasi penguatan dolar serta kenaikan yield menjadi faktor yang kemudian membuat pasar lebih berhati-hati, termasuk pada saham-saham yang sensitif terhadap kondisi makro dan arus modal.

Di sektor perbankan, pelemahan nilai tukar ikut memengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap prospek kinerja emiten. Karena itu, ketika rupiah melemah lebih dalam, pergerakan saham bank besar cenderung bergerak seiring dengan tekanan tersebut dan berkontribusi pada pelemahan IHSG.

Dengan rupiah yang telah berada pada posisi ATL/All Time Low, pasar kemungkinan akan tetap memantau perkembangan lanjutan dari indeks dolar AS, pergerakan US Treasury, serta arah harga Brent. Setiap perubahan pada indikator-indikator tersebut dapat menentukan apakah tekanan ke pasar saham akan mereda atau justru berlanjut pada sesi berikutnya.

Pelemahan rupiah hingga level terendah baru juga membuat pelaku pasar membaca ulang arah arus modal dalam waktu dekat. Saat dolar menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik, biaya pendanaan global cenderung dipersepsikan lebih ketat. Dalam kondisi seperti ini, saham-saham yang dianggap lebih rentan pada sentimen makro dan perubahan likuiditas global biasanya lebih cepat terkena dampaknya, sehingga pergerakan indeks menjadi lebih berat untuk kembali ke teritori positif.

Selain itu, korelasi antara penguatan dolar dan kenaikan yield US Treasury memperlihatkan bahwa tekanan tidak berdiri sendiri. Di pasar yang sedang risk-off, pelaku cenderung memilih instrumen yang dipandang lebih aman dan mudah dicairkan, sementara aset berisiko cenderung menghadapi pengurangan posisi. Pergeseran preferensi tersebut kemudian ikut membentuk pola perdagangan, termasuk pada saham perbankan yang pergerakannya selama ini terseret oleh dinamika nilai tukar.

Dengan rupiah yang sudah berada pada posisi ATL/All Time Low, fokus pasar pada beberapa indikator kunci kemungkinan tetap tinggi. Investor akan memperhatikan perkembangan indeks dolar AS, pergerakan US Treasury, serta pergerakan harga Brent yang disebut kembali menguat. Bila indikator-indikator tersebut menunjukkan tanda mereda, tekanan terhadap pasar saham berpotensi mulai berkurang. Namun jika penguatan dolar dan yield terus berlanjut serta sentimen risk-off tetap terjaga, pelemahan pada perdagangan berikutnya bisa kembali menguat, terutama pada sektor yang sensitif terhadap kondisi makro.