jurnalistik.co.id – Rupiah memulai perdagangan dengan nada melemah pada pembukaan pasar. Kurs ditetapkan turun 0,07% menjadi Rp17.988 per US$.
Pelemahan tersebut terjadi setelah tekanan eksternal yang melandai belum benar-benar mereda. Dalam laporan pasar, kenaikan harga minyak Brent ikut menjadi penopang sentimen, dengan harga berada di level US$106,68 per barel.
Di pasar mata uang Asia, pergerakan sebagian besar mata uang bergerak berlawanan arah terhadap dolar AS. Baht Thailand tercatat melemah paling tajam, diikuti oleh won Korea Selatan, rupiah, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, yen Jepang, serta dolar Singapura.
Sementara itu, ada pengecualian di kawasan tersebut. Peso Filipina justru menguat, sejalan dengan menguatnya yuan China dan yuan offshore.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perkembangan ekspektasi ekonomi ke depan. Salah satu faktor yang disoroti adalah ekspektasi inflasi yang diperkirakan meningkat menjadi 3,3% yoy untuk periode September.
Selain inflasi, proyeksi neraca dagang disebut belum memberikan sinyal yang menguntungkan bagi rupiah. Kondisi perdagangan ini menjadi bagian dari pertimbangan pelaku pasar dalam menilai arah nilai tukar pada sesi awal.
Untuk kinerja impor, perhitungan pasar menempatkan pertumbuhan Agustus sebesar 27,8% secara tahunan. Angka tersebut dinilai lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada Juli yang tercatat 27,02%.
Di sisi lain, laju ekspor diproyeksikan melambat cukup tajam. Pertumbuhan ekspor diperkirakan menjadi 2,5%, turun dari capaian 6,05% pada periode sebelumnya.
Berita Terkait
Perubahan pada komponen impor dan ekspor tersebut dapat menjadi penentu terhadap dinamika permintaan valas. Ketika impor tumbuh lebih cepat sementara ekspor bergerak melambat, pasar cenderung menilai potensi tekanan pada neraca berjalan dan kebutuhan valuta asing.
Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik yang masih bekerja, rupiah memulai perdagangan pada wilayah lebih lemah dibanding penutupan sebelumnya. Pergerakan sejumlah mata uang Asia yang mayoritas melemah turut memberi gambaran bahwa kecenderungan risk mood terhadap dolar AS masih terlihat di pembukaan.
Secara keseluruhan, arah kurs pada awal sesi tercermin dari pertemuan sentimen global yang belum stabil dengan indikator domestik yang juga belum merata. Inflasi yang diperkirakan naik ke 3,3% yoy untuk September, proyeksi neraca dagang yang belum mendukung, serta proyeksi impor Agustus 27,8% dan ekspor yang melambat ke 2,5% menjadi rangkaian data yang ikut membentuk ekspektasi pasar.
Rangkaian angka tersebut memberikan konteks mengapa rupiah tidak langsung menguat pada pembukaan. Di tengah harga Brent yang berada pada US$106,68 per barel dan mayoritas mata uang Asia melemah, pergerakan rupiah tetap berada pada posisi Rp17.988 per US$, menggambarkan bahwa penyesuaian pasar masih berlangsung.
Pelaku pasar tampaknya menunggu konfirmasi lebih lanjut dari data domestik sebelum melakukan penyesuaian posisi yang lebih agresif. Dengan inflasi yang diproyeksikan meningkat ke 3,3% yoy pada September, perhatian investor bergeser ke prospek harga dan dampaknya pada kebijakan ke depan.
Di saat yang sama, sinyal neraca perdagangan yang dinilai belum kuat turut menjadi pertimbangan utama. Ketika gambaran perdagangan cenderung tidak memberi dukungan langsung, pelaku pasar lebih memilih bersikap hati-hati terhadap kebutuhan valas pada awal sesi.
Komposisi arus perdagangan juga membentuk ekspektasi baru. Pertumbuhan impor Agustus sebesar 27,8% lebih cepat dari Juli 27,02%, sementara laju ekspor yang melambat ke 2,5% dari sebelumnya 6,05% berpotensi memperbesar perhatian pada tekanan terhadap transaksi berjalan.
Dengan konteks tersebut, kurs rupiah tidak bergerak sepenuhnya mengikuti penguatan beberapa faktor eksternal. Brent yang berada di sekitar US$106,68 per barel memang menopang sentimen, namun mayoritas mata uang Asia yang melemah membuat penyesuaian terhadap dolar AS tetap berlangsung bertahap.












