jurnalistik.co.id – Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan meski tekanan harga kembali meningkat akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Dalam kondisi seperti ini, pembuat kebijakan masih harus menimbang keseimbangan antara meredakan inflasi dan menjaga pasar kerja.
Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) yang beranggotakan sembilan orang sedang menjalani rapat dengan latar inflasi yang bergerak lebih tinggi, sementara biaya energi global juga ikut menguat. Sejumlah ekonom memproyeksikan MPC tetap menahan Bank Rate di level 3,75% untuk pertemuan keenam berturut-turut, namun pandangan analis tidak sepenuhnya seragam mengenai kebutuhan kenaikan sebelum akhir tahun.
Bank Rate menjadi acuan penting karena berpengaruh pada suku bunga yang ditawarkan perbankan serta lembaga pemberi pinjaman kepada individu dan dunia usaha. Keputusan terbaru dijadwalkan diumumkan Bank of England pada pukul 12:00 BST, hari Kamis.
Pada pertemuan sebelumnya di akhir Juli, MPC memberi sinyal bahwa kenaikan Bank Rate bisa dilakukan bila ketegangan terkait perang Iran meningkat. Gubernur Bank of England Andrew Bailey menyampaikan kepada BBC bahwa jika konflik berlanjut dan harga minyak tetap berada di atas 100 dolar per barel, maka “peluang suku bunga harus naik lebih tinggi” menjadi lebih besar.
Data harga menunjukkan minyak telah menembus level lebih dari 100 dolar (setara 74 poundsterling) pada 9 September dan bertahan di kisaran tersebut. Tidak ada tanda yang kuat bahwa akan muncul gencatan senjata yang berlangsung lama dalam perang Iran.
Bank of England menggunakan kebijakan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, yang pada akhirnya tercermin pada biaya hidup masyarakat. Target yang ingin dicapai adalah inflasi sebesar 2%. Namun, angka resmi yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa laju inflasi yang diukur dengan Consumer Prices Index (CPI) naik menjadi 3,1% pada Agustus dari 2,9% pada Juli, dan ini menjadi level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Percepatan inflasi tersebut dipicu kenaikan biaya seperti bensin, solar, serta tarif penerbangan. Para ekonom memperkirakan biaya energi yang lebih tinggi di tingkat global akan merembet ke harga makanan dan bahan bakar yang dibayar konsumen, sehingga laju inflasi dinilai belum mencapai puncaknya.
MPC juga akan memperhatikan respons bank sentral lain. Dengan merujuk pada konflik di Timur Tengah dan peringatan bahwa inflasi “akan tetap jauh di atas” target 2%, European Central Bank baru-baru ini menaikkan suku bunga ke 2,5%. Pada waktu yang sama, Federal Reserve juga menaikkan suku bunga menjadi 3,5% hingga 3,75% pada hari Rabu dengan alasan yang serupa.
Berita Terkait
- Sewa Asrama Mahasiswa Privat di Skotlandia Melonjak: Lara Reader Bayar ÂŁ1.022/Bulan, Lebih Tinggi dari Pinjaman Pemeliharaan
- Ketua Fed pilihan Trump tetap menaikkan suku bunga: 3,75%–4% dari 3,5%–3,75% hingga Kevin Warsh peringatkan kenaikan lanjutan
- IHSG Dibuka Lebih Tinggi Usai The Fed Kerek Bunga Acuan Jadi 4%
Meski demikian, anggota MPC kemungkinan tetap berhati-hati agar kenaikan suku bunga tidak menambah tekanan terhadap pemberi kerja dan memperburuk prospek bagi mereka yang mencari pekerjaan. Dame DeAnne Julius, mantan anggota MPC, mengatakan ada “kemungkinan yang cukup wajar” untuk terjadinya kenaikan suku bunga, meski ia tidak menilai ekonomi Inggris sedang memburuk.
Dalam penuturannya di program Today, Julius menekankan bahwa tingkat pengangguran relatif stabil dan pertumbuhan ekonomi dinilai “jauh lebih baik” dibanding periode sebelumnya. Ia juga menyatakan, “Our economy is in transition… I think it is actually improving,” yang berarti ekonomi sedang bergerak dalam fase transisi dan justru sedang membaik.
Di luar keputusan resmi bank sentral, gambaran global dan ekspektasi pasar terhadap suku bunga yang lebih tinggi turut memengaruhi biaya pinjaman. Sejumlah bank besar telah menaikkan harga untuk produk hipotek suku bunga tetap dalam beberapa hari terakhir.
Andrew Montlake, chief executive mortgage broker Coreco, menyebut data terbaru menunjukkan bahwa “inflation dragon belum sepenuhnya dikalahkan”. Ia menjelaskan bahwa bila inflasi terbukti sulit turun, biaya pendanaan yang ditanggung pemberi pinjaman tetap tertekan, sehingga kredit rumah dengan harga lebih murah menjadi lebih sulit tersedia. Montlake menambahkan bahwa bank-bank sudah mulai menyesuaikan harga ke atas, dan kondisi itu dinilai tidak cukup untuk menenangkan situasi bagi peminjam.
Ia juga mengingatkan agar calon debitur tidak panik, tetapi bagi mereka yang mendekati akhir masa suku bunga tetap, sebaiknya mulai meninjau lebih awal, mengamankan opsi, lalu terus melakukan evaluasi berkala. Berdasarkan data Moneyfacts, rata-rata suku bunga hipotek perumahan tetap dua tahun kini berada di level tertinggi sejak 11 Mei, yaitu 5,77%, sementara rata-rata suku bunga hipotek tetap lima tahun juga berada pada level tertinggi sejak 8 November 2023, yakni 5,83%.
Meski demikian, peningkatan imbal hasil tabungan bisa memberi peluang keuntungan yang lebih menarik bagi para penyimpan dana. Di sisi lain, daya beli dari tabungan tersebut berpotensi tergerus karena biaya hidup yang tetap tinggi.
Harriet Guevara, chief savings officer di Nottingham Building Society, menilai hampir mustahil bagi rumah tangga untuk menentukan waktu yang tepat secara sempurna. Ia mendorong keluarga untuk menfokuskan pilihan yang paling sesuai sekarang, untuk jangka menengah, dan juga untuk jangka lebih panjang.
Menurut Guevara, para penabung perlu mengecek secara berkala apakah tabungan mereka memperoleh imbal hasil yang kompetitif, serta memastikan komposisi pilihan antara akses yang mudah dan jumlah uang yang sanggup disimpan dalam periode yang lebih lama. Dalam situasi suku bunga yang masih menjadi pertimbangan, pendekatan semacam itu dinilai membantu keputusan tetap selaras dengan kebutuhan finansial masing-masing.












