jurnalistik.co.id – Alex Batty, yang menghilang enam tahun setelah dibawa pergi oleh ibunya saat masih kecil, kini menata hidupnya dengan sebuah pekerjaan baru. Pria berusia 20 tahun itu mengatakan, pekerjaan tersebut membuatnya merasakan kembali “sense of purpose”.
Batty berasal dari Oldham. Pada 2017, ia dinyatakan hilang oleh kakek-neneknya, Susan Caruana, saat usianya baru 11 tahun. Keputusan itu muncul setelah ibu dan kakeknya gagal kembali membawa Batty dari liburan mereka di Spanyol, lalu justru pindah ke Prancis.
Selama bertahun-tahun berikutnya, Batty hidup dalam isolasi. Saat ia ditemukan, kondisinya sudah sangat berbeda dari saat pertama kali menghilang. Pada Desember 2023, ia sempat terlihat oleh seorang pengemudi pengantaran di wilayah kaki Pegunungan Pyrenees, di bagian barat daya Prancis.
Batty menceritakan bahwa pekerjaan yang kini ia jalani—di sebuah perusahaan pengelolaan limbah—memberi keluarga mudanya stabilitas keuangan. Ia juga menggambarkan dua tahun terakhir sebagai pengalaman yang “whirlwind”, terutama karena masa remajanya dihabiskan sebagai pengembara di Prancis.
Menurut penuturannya, ibunya, Melanie, tidak menjadi wali hukum baginya dan dipengaruhi oleh teori-teori konspirasi. Dalam keseharian, ia bahkan diarahkan untuk membuang paspornya. Batty juga tidak bersekolah, dan mereka menjalani kehidupan di luar jangkauan layanan umum (“off-grid”).
Pada saat ia akhirnya ditemukan, Batty sedang menuju Toulouse dengan modal yang sangat sederhana: sebuah papan seluncur dan uang tunai sebesar €100. Beberapa waktu setelah itu, ia kembali tinggal bersama Susan Caruana di Oldham.
Meski kembali bersama keluarga wali hukumnya, ia menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang lama. “I’ve been used to having a job because I started working when I was young,” kata Batty kepada BBC. Ia menambahkan bahwa ketika pekerjaan tidak kunjung didapat, situasi itu terasa tidak wajar baginya: “So, when I couldn’t find one it did not feel right.”
Berita Terkait
Saat Batty muncul dalam program BBC Breakfast untuk membahas penculikan yang ia alami, ia menyebut dirinya termasuk bagian dari populasi anak muda yang kesulitan masuk kerja. Ia mengatakan dirinya adalah salah satu dari 981,000 orang berusia 16 hingga 24 tahun yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.
Di momen yang sama, Daniel Carolan—manajer di SUEZ UK—kebetulan sedang mendengarkan wawancara tersebut. Carolan kemudian menghubungi Batty. Ia menjelaskan bahwa pembicaraan di kantor mereka berkisar pada bagaimana rekrutmen bisa diperbaiki dan bagaimana menemukan orang-orang yang selama ini tertinggal: “We were talking in the office about how we can make our recruitment better and how we can find these people.”
Setelah mendengar Alex berbicara, Carolan menilai Batty sedang sangat membutuhkan kesempatan. “After two minutes of listening to Alex speak I knew he was desperate to find work and I felt he deserved an opportunity.”
Beberapa bulan setelah kontak itu, Batty menyampaikan bahwa ia merasa lega karena sudah bekerja. “It was a great feeling” baginya mengetahui ia kembali berada dalam status pekerjaan. Ia menggambarkan tekanan yang ia rasakan saat tidak memiliki kerja karena harus mengurus keluarganya. “It was a lot of pressure when I didn’t have a job because I have a family.”
Ia juga menyoroti hambatan yang datang dari proses lamaran yang serba daring. “You’re sitting there doing everything you can but [applications] are all online and you can’t show anyone what you can do.” Menurutnya, kondisi itu membuat usaha yang ia lakukan tidak selalu bisa menunjukkan kemampuan secara langsung.
Batty kemudian menekankan konsekuensi nyata ketika pekerjaan tidak ada. “I’ve got a baby and my missus, and without a job there is a pressure to support them financially.” Karena itu, ia merasa pekerjaan yang ia peroleh membawa keamanan untuk hidup mereka. “So it gives us security, and I know I can provide for my family.”
Dalam ceritanya, Batty tidak hanya menempatkan pekerjaan sebagai rutinitas. Bagi dia, kerja itu menjadi penopang untuk kembali merasakan arah hidup. Ketika ia menjelaskan perjalanannya dari menghilang pada usia 11 tahun hingga kini, ia menegaskan bahwa pekerjaan tersebut memberinya “sense of purpose” dan tujuan yang selama ini ia cari.







