jurnalistik.co.id – Lonjakan biaya sewa di hunian mahasiswa khusus (PBSA) di Skotlandia membuat banyak pelajar merasa dukungan finansial mereka tidak lagi sebanding. Seorang mahasiswa, Lara Reader, menceritakan bahwa sewanya bahkan lebih tinggi dibanding pinjaman pemeliharaan (student maintenance loan) yang ia terima.
Lara, berusia 20 tahun, berasal dari Kelso di Scottish Borders. Saat mengajukan hunian di University of Edinburgh, ia mengatakan tidak menyangka akan ditempatkan pada pilihan paling mahal di daftar yang ia pilih. Seperti banyak mahasiswa tahun pertama, ia memilih dari kombinasi asrama milik universitas dan fasilitas yang dikelola pihak swasta—khusus melayani populasi mahasiswa yang besar di kota tersebut.
Ia kemudian mendapat kamar di Brae House, salah satu PBSA swasta di Edinburgh. Hunian model ini umumnya menawarkan kamar dengan fasilitas kamar mandi dalam (en-suite) serta apartemen studio, disertai fasilitas “premium” seperti gym, ruang belajar, dan area sosial. Namun, paket fasilitas tersebut datang dengan harga yang lebih tinggi dibanding asrama mahasiswa tradisional.
Menurut Lara, biaya sewa kamarnya mencapai £1.022 per bulan. Ia menyebut jumlah itu lebih dari £200 dibanding pinjaman pemeliharaan bulanan yang ia terima. Ia bahkan sempat menyatakan, “My rent was higher than my student loan”.
Meskipun melampaui anggarannya, Lara tetap menerima tawaran karena kesulitan menemukan tempat tinggal di Edinburgh. Ia mengatakan biaya sewa “hung over much of her first year at university” dan membuat dirinya merasa terus terbebani. Dalam ceritanya, ia mengaku “constantly stressing” soal berapa uang yang harus dialokasikan untuk rent.
Untuk menutup kekurangan, Lara bekerja 20 jam per minggu sembari kuliah. Keputusan itu, menurutnya, berdampak pada hasil ujian tahun pertamanya. Ia mengungkapkan, “I was exhausted all the time,” dan menambahkan, “I just didn’t have enough time to study.”
Lara juga menilai penetapan harga hunian mahasiswa perlu lebih realistis. Ia berkata, “I think when pricing student housing they need to be more realistic.” Bagi mahasiswa yang tidak berasal dari keluarga yang sangat mampu, ia menegaskan tantangan yang dihadapi semakin berat: “It makes it so difficult for students like me who don’t come from a super wealthy background to find an affordable place to live.”
Pihak University of Edinburgh menyampaikan bahwa kampus menawarkan nilai yang baik (good value) melalui beragam tingkat harga, termasuk sewa level awal yang dinilai berada jauh di bawah rata-rata. Seorang juru bicara universitas mengatakan: “We encourage students to select accommodation that aligns with their lifestyle preferences and budget throughout the application process.”
Kenaikan PBSA dan dampaknya pada biaya hidup mahasiswa
Di tingkat nasional, PBSA terus berkembang. Data menunjukkan total 206.005 mahasiswa menyatakan mereka tinggal di asrama sektor privat pada 2024/25. Angka ini meningkat dari 117.995 mahasiswa sepuluh tahun sebelumnya.
Di Skotlandia, tingkat kenaikannya bahkan lebih menonjol. Dari 5.500 pada 2014/15, jumlah tersebut naik menjadi 14.640 tahun lalu. Perluasan PBSA terlihat kuat di dua kota terbesar: Glasgow dan Edinburgh.
Pada Agustus 2026, Glasgow memiliki 21.655 tempat tidur mahasiswa dengan tambahan 18.213 tempat dalam “development pipeline”. Jika seluruh skema yang diusulkan benar-benar berjalan, kota ini berpotensi menampung hampir 40.000 tempat tidur mahasiswa.
Edinburgh juga mengalami pertumbuhan cepat. Pasokan PBSA di kota itu meningkat hampir 60% dalam satu dekade terakhir. Pada Desember 2025, tercatat masih ada 5.917 tempat tidur lagi dalam development pipeline.
Richard Ward, kepala riset di situs pemasaran akomodasi mahasiswa StuRents, menyebut rata-rata biaya PBSA yang dikelola privat di Edinburgh dan Glasgow masing-masing sebesar £268 dan £243 per orang per minggu (pppw). Ia menambahkan, rata-rata nasional (tanpa London) berada pada £191 pppw.
Ward menekankan bahwa biaya yang harus dipasang agar skema tetap layak secara finansial berada pada kisaran tertentu. Ia mengatakan, “The rents you’re having to charge are about £250 to £300 per week to make a scheme financially viable” dan menambahkan, “The challenge for the sector is, at that price point, a lot of domestic students cannot afford that.”
Peran mahasiswa internasional dalam pasar PBSA
Berita Terkait
Menurut sejumlah pakar industri, mahasiswa internasional—yang sering kali lebih mampu membayar sewa tinggi—menjadi bagian penting dari pasar PBSA. Lara mengaku merasakan dinamika tersebut di tempat tinggalnya. Ia berkata, “A lot of people I was friends with through my accommodation were international students, so funding is very different.”
Ia menambahkan bahwa sebagian besar rekannya mungkin tidak mengalami kesulitan yang sama, tetapi tidak semua bernasib serupa. Lara menyatakan, “I think for the most part, a lot of people didn’t have as much of a struggle paying the rent, but I definitely know a few people who were in the same boat as I was.”
Bagi banyak mahasiswa internasional, PBSA juga dipandang memberi rasa aman dibanding mencoba mengatur sewa secara mandiri. Saba, mahasiswa internasional dari Pakistan yang berencana kuliah di Glasgow, menyampaikan ia merasa lebih aman dibanding mencari apartemen dari sisi lain dunia. Saba mengatakan, “I didn’t really know where to start.” Ia menambahkan, “Every country has different laws when it comes to properties and renting places.”
Setelah gagal mendapatkan akomodasi dari universitas, ia mempertimbangkan mencari properti lewat tuan rumah privat. Namun, ia mengaku mengalami penipuan. Ia berkata, “I encountered a bunch of scammers” dalam pencariannya, termasuk seorang pria yang meminta £500 di muka sebelum mengirim video properti. Saba menegaskan, “As an international student, I feel like you’re vulnerable,” lalu menambahkan, “There are good and bad people everywhere and the bad lot try to take advantage of that.”
Perspektif pengembang: kelayakan finansial dan kebutuhan permintaan
Dari sisi pengembang, PBSA dipandang sebagai salah satu bentuk pengembangan perkotaan pusat kota yang lebih “financially viable”. John Boyle, direktur riset dan strategi di perusahaan properti Rettie, menilai tujuan khusus PBSA telah menjadi bentuk pembangunan yang secara finansial lebih menarik dibanding skema perumahan konvensional. Ia mengatakan para pengembang sering kali mampu memperoleh imbal hasil lebih tinggi. Boyle juga menyebut bangunan-bangunan PBSA muncul karena pola proyek sebelumnya dinilai berhasil: “The reason the buildings are going up is because other buildings have gone up and have been successful.”
Ia menambahkan bahwa nilai lahan yang tinggi serta biaya pengembangan membuat proyek perumahan terjangkau sering sulit diwujudkan di lokasi-lokasi prima. Pengembang juga berpendapat PBSA membantu memenuhi permintaan dari pertumbuhan jumlah mahasiswa, sekaligus mengurangi tekanan terhadap pasar sewa yang lebih luas.
Kekhawatiran kampanye: krisis hunian tidak otomatis teratasi
Kota Edinburgh dan Glasgow sama-sama menyatakan keadaan darurat hunian secara resmi pada 2023. Namun, sejumlah aktivis menilai ekspansi PBSA yang cepat tidak menjawab tantangan hunian yang dialami banyak mahasiswa maupun warga.
Aditi Jehangir, sekretaris Living Rent Edinburgh, menyatakan Skotlandia tidak membutuhkan tambahan PBSA yang tidak terjangkau. Ia berkata, “Scotland does not need more unaffordable, poor-quality purpose-built student accommodation.” Menurutnya, PBSA bukan solusi krisis hunian: “Purpose-built student accommodation is completely unaffordable and not the answer to the housing crisis.”
Ia menambahkan bahwa di banyak kota, proyek demi proyek berdiri mengisi ruang yang seharusnya bisa dipakai untuk perumahan sosial yang sangat dibutuhkan. Jehangir juga menyebut PBSA menguntungkan secara finansial untuk pengembang: PBSA “extremely lucrative to developers”, kurang memenuhi kebutuhan komunitas lokal, dan banyak unit tetap kosong.
Pipeline panjang dan risiko perubahan pasar
Di sisi lain, Ward menyoroti tantangan waktu pembangunan bagi pengembang dan investor. Ia mengatakan, tantangan dimulai dari jarak antara persetujuan aplikasi hingga gedung selesai dibangun—yang bisa memakan waktu sekitar tiga tahun. Dalam penilaiannya, “The challenge for developers and investors entering into the student market is that from the point of an application being approved to the building actually being complete could be three years, for example.”
Ia menekankan bahwa selama periode itu, kondisi pasar lokal bisa berubah secara signifikan. Ia menyatakan, “During that time the local market could have radically shifted.”
Ward menambahkan bahwa angka pipeline tidak selalu berujung pada penyelesaian proyek di dunia nyata. Ia berkata, “I’m not expecting, by all means, anywhere near the full pipeline to be delivered in any market, but equally in Glasgow and Edinburgh,”
Selain itu, terdapat tanda penurunan minat mahasiswa internasional di Skotlandia selama dua tahun berturut-turut, dengan penurunan 5% pada periode paling baru. Kelompok mahasiswa internasional terbesar berasal dari China. Dalam situasi seperti ini, rencana pembangunan dalam pipeline menghadapi ketidakpastian terkait tingkat hunian serta kemampuan pasar menyerap biaya sewa yang telah ditetapkan.












