Olahraga

Saffie Osborne setelah Menang St Leger: ‘fear of failure’ hilang dari benaknya

×

Saffie Osborne setelah Menang St Leger: ‘fear of failure’ hilang dari benaknya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saffie Osborne: St Leger win has removed fear of failure for jockey

jurnalistik.co.id – Kemenangan yang ia raih di Doncaster akhir pekan lalu membuat jockey Saffie Osborne merasa “fear of failure” telah meninggalkan dirinya.

Usai memastikan diri menjadi wanita pertama yang menembus kemenangan di British Classic, Osborne mengatakan ia kini bisa menoleh ke belakang dengan keyakinan bahwa perjuangannya “worth it”.

Di usia 24 tahun, momen St Leger itu juga ia pandang sebagai pencapaian yang melengkapi mimpi yang sudah lama ia simpan.

Menurut Osborne, kemenangan di lintasan bukan hanya soal hasil, tetapi turut mengubah cara pikirnya. “That sort of fear of failure has sort of disappeared. However much more I want to achieve, and I want to achieve so much more, it’s kind of like I can always look back on my career and know that it was all worth it,” ujarnya.

Ia mengatakan ia akhirnya bisa melihat perjalanan kariernya dengan rasa pencapaian yang utuh. “I got to achieve what I always dreamed of achieving,” katanya.

Osborne juga menyebut dunia pacuan memiliki sisi yang terasa sepi. Ia memperkirakan menempuh sekitar 65.000 mil setiap tahun dan sering kali melakukannya sendirian, sambil tetap harus menghadapi cedera serius termasuk beberapa “serious falls” yang berujung pada tulang yang patah.

Meski demikian, ia menilai pengalaman itu tidak mematikan ambisinya, karena ia tetap mengejar target yang lebih besar.

Ia menuturkan bahwa ia mengidamkan gelar dalam salah satu British Flat racing’s five Classics sejak masih kecil. Osborne menyebut impian itu sudah ada sejak ia berusia lima tahun.

Dalam pembicaraan mengenai peluang yang selama ini timpang, Osborne mengaku lingkungan olahraga ini memang masih dibentuk oleh pola lama. “It has been a male-dominated sport for an extremely long time, and I suppose it’s becoming less and less of a conversation, which is quite nice,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa ketika orang membahas tonggak awal yang dicapai perempuan, ia merasa pencapaiannya memiliki arti tersendiri. “When people talk about the firsts of what women have done, I think to have my own one is quite special,” kata Osborne.

Osborne juga menyatakan momen itu terasa “quite poignant”. “I think it’s also quite poignant because there’s so few left of first things for women to do in this sport.”

National Horseracing Museum mencatat hanya enam jockey perempuan yang memperoleh kesempatan naik di British Classics selama 250 tahun terakhir, dengan total 12 kali kesempatan. Mereka adalah Gay Kelleway (The Oaks, 1986; The Oaks, 1987), Alex Greaves (The Derby, 1996; 1,000 Guineas, 1996), Hayley Turner (The Derby, 2012), Josephine Gordon (1,000 Guineas, 2017), Hollie Doyle (The Oaks, 2021; St Leger, 2021; The Oaks, 2022), dan Saffie Osborne (2,000 Guineas, 2024; 1,000 Guineas, 2026; St Leger, 2026).

Saffie Osborne menegaskan, keberhasilan itu tidak membuatnya merasa ia diperlakukan berbeda karena jenis kelamin. “I don’t feel like in my position now that I’m ever looked at any differently because I’m a woman,” katanya.

Ia berpendapat, di awal karier, setiap jockey memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membangun rasa hormat dan dipandang sebagai sosok yang layak dipilih. “Any jockey, when you’re starting out, it takes years to gain respect and be looked at as a person that people would want to use. And I don’t think my gender at this point would have had anything to do with it.”

Meski ia berharap kemenangan akhir pekan lalu bisa “open more doors”, Osborne mengaku ia tidak merasa industrinya menilai dirinya secara berbeda. “Hopefully Saturday will open more doors. But when it comes to me as a female jockey, I don’t think I’m viewed any differently within the industry.”

Di ruang penimbangan, ia mengatakan dirinya diperlakukan sebagai bagian dari kelompok. Osborne menyebut ia pernah dianggap “one of the lads” dan menyatakan tidak mengalami sexism dan misogyny seperti yang diceritakan jockey perempuan lain, termasuk Bryony Frost.

Konteks lain datang dari kasus Robbie Dunne, yang dilarang berkompetisi selama 18 bulan, dengan skors selama tiga bulan. Larangan itu muncul karena dugaan bullying terhadap sesama rider Frost pada 2021, dan kemudian dipangkas menjadi 10 bulan setelah proses banding.

Beralih ke performa kompetitifnya, Osborne menyampaikan ia sudah membukukan 60 kemenangan sejak awal Mei. Saat ini, ia duduk di peringkat kedelapan dalam Flat Jockeys Championship.

Ia juga membuka tentang mimpinya menjadi champion jockey, serta yakin bahwa ia bisa mewujudkannya suatu hari nanti. “You wouldn’t be a jockey if you didn’t want to be champion jockey one day. I think this is the first year that maybe I truly believe that I could one day,” ujar Osborne.

Baginya, musim ini begitu istimewa dan ditutup oleh kemenangan di St Leger. “It’s been a phenomenal year that’s been topped off by Saturday. But I’m very lucky. I have a very good agent [Tony Hind] and agents are so important in this sport,” tuturnya.

Osborne menilai Tony Hind punya daftar jockey yang luar biasa, termasuk Ryan Moore, William Buick, dan Billy Loughnane. “He’s got an amazing book of jockeys, the likes of Ryan Moore, William Buick, Billy Loughnane. And I’m very lucky to be on his team,” jelasnya.

Ia pun menyebut keinginannya untuk menjadi nama berikutnya dalam daftar champion jockey. “He makes champion jockeys, he’s had a lot of them. And yeah, I would love to be the next one on the list,” kata Osborne.

Kemenangan St Leger itu sendiri datang lewat tumpangan Osborne di Highwayman. Ia menyatakan perjalanan ini menjadi pertemuan pertamanya dengan pelatih Joseph O’Brien, dan muncul setelah cedera yang dialami Dylan Browne McMonagle—jockey reguler yang mengalami masalah.

Meski keberhasilan jockey bergantung pada peluang untuk “being chosen”, Osborne tetap menekankan bahwa dalam kesempatan yang ia dapatkan, gender tidak menjadi faktor penentu.