Olahraga

Usai Menang St Leger, Saffie Osborne Kini Merasa Tak Lagi Takut Gagal

×

Usai Menang St Leger, Saffie Osborne Kini Merasa Tak Lagi Takut Gagal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saffie Osborne: St Leger win has removed fear of failure for jockey

jurnalistik.co.id – Jelang kemenangan St Leger yang digelar di Doncaster, Saffie Osborne menuturkan bahwa “fear of failure” yang selama ini menghantuinya kini telah hilang. Baginya, hasil bersejarah itu membuat kariernya terasa punya kepastian dan nilai yang bisa selalu ia kenang.

Osborne menyebut meski dirinya masih ingin meraih “so much more”, kemenangan di Doncaster pada Sabtu lalu membuat ia merasa tidak lagi perlu dibayangi rasa takut gagal. Ia mengatakan kemenangan tersebut memberinya ruang untuk menoleh ke belakang dan menyimpulkan bahwa perjalanan yang ia jalani selama ini “worth it”.

Ia juga menggambarkan sisi lain olahraga yang jarang terlihat di luar lintasan. Menurutnya, balap kuda bisa terasa “very lonely” karena ia memperkirakan mengemudi hingga 65,000 miles per tahun, sering kali sendirian.

Di tengah kesibukan dan rutinitas itu, Osborne mengaku pernah mengalami sejumlah jatuh serius hingga harus menanggung cedera berat, termasuk tulang-tulang yang patah. Meski demikian, ia tetap melangkah dengan target yang kian jelas setelah meraih pencapaian terbesarnya.

Osborne menyatakan bahwa kemenangan di salah satu dari lima ajang British Flat racing “Classics” adalah mimpi yang ia pelihara sejak usia lima tahun. Ia kini merasakan momen tersebut benar-benar menjadi nyata, setelah langkahnya membawa dirinya menjadi peraih gelar pertama dari kalangan perempuan dalam sejarah British Classic.

Peran perempuan yang masih terbatas

Dalam balap yang pada dasarnya mempertemukan joki pria dan perempuan, kesempatan tetap tidak berjalan setara. National Horseracing Museum mencatat hanya ada enam joki perempuan yang pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di British Classics selama 250 tahun terakhir, dengan total 12 kali penampilan, melalui nama-nama seperti Gay Kelleway (The Oaks, 1986 dan The Oaks, 1987), Alex Greaves (The Derby, 1996 dan 1,000 Guineas, 1996), Hayley Turner (The Derby, 2012), Josephine Gordon (1,000 Guineas, 2017), Hollie Doyle (The Oaks, 2021; St Leger, 2021; The Oaks, 2022), serta Saffie Osborne (2,000 Guineas, 2024; 1,000 Guineas, 2026; St Leger, 2026).

Osborne menilai situasi tersebut menggambarkan betapa lama olahraga ini didominasi pria. Ia mengatakan: “It has been a male-dominated sport for an extremely long time, and I suppose it’s becoming less and less of a conversation, which is quite nice.” Baginya, ketika orang membahas capaian “firsts” yang diraih perempuan, kisah dirinya terasa istimewa. Ia juga menambahkan bahwa pencapaian itu terasa “quite poignant” karena “there’s so few left of first things for women to do in this sport.”

Menurut Osborne, “On Saturday’s groundbreaking win,” ada efek psikologis yang besar. Ia menyebut: “That sort of fear of failure has sort of disappeared. However much more I want to achieve, and I want to achieve so much more, it’s kind of like I can always look back on my career and know that it was all worth it.” Ia juga menegaskan: “I got to achieve what I always dreamed of achieving.”

Jalan menuju St Leger

Di St Leger akhir pekan itu, kemenangan Osborne diraih lewat tunggangannya bersama Highwayman. Ia menjelaskan bahwa ini merupakan lompatan pertamanya untuk trainer Joseph O’Brien. Kesempatan itu muncul karena cedera pada jockey reguler Dylan Browne McMonagle, yang membuat pilihan akhirnya jatuh kepadanya.

Ia menyadari keberhasilan seorang joki sangat dipengaruhi oleh “being chosen”. Namun, ia juga menegaskan bahwa gender tidak menjadi faktor dalam kesempatan yang ia dapatkan. “I don’t feel like in my position now that I’m ever looked at any differently because I’m a woman,” ujarnya. “Any jockey, when you’re starting out, it takes years to gain respect and be looked at as a person that people would want to use. And I don’t think my gender at this point would have had anything to do with it.” Ia berharap kemenangan Sabtu lalu bisa membuka lebih banyak pintu, tetapi ia tidak merasa dirinya dipandang berbeda di dalam industri.

Dalam kesehariannya, Osborne mengatakan dirinya diperlakukan seperti “one of the lads” di ruang penimbangan (weighing room). Ia juga menyatakan belum pernah mengalami sexism dan misogyny seperti yang dialami beberapa joki perempuan lain, termasuk Bryony Frost.

Terkait perlakuan yang menimpa Frost, joki Robbie Dunne disebut pernah diban selama 18 bulan, dengan tiga bulan ditangguhkan, atas kasus bullying terhadap sesama rider pada 2021. Hukuman itu kemudian dipotong menjadi 10 bulan setelah banding.

Osborne menambahkan bahwa di musim ini ia sedang dalam laju yang kuat. Ia telah mengoleksi 60 kemenangan sejak awal Mei dan saat ini menempati urutan kedelapan dalam Flat Jockeys Championship. Ia juga membuka harapan besarnya: menjadi champion jockey di masa depan, dan bila tercapai, ia akan menjadi joki perempuan pertama yang meraih pencapaian itu.

Ia menuturkan: “You wouldn’t be a jockey if you didn’t want to be champion jockey one day. I think this is the first year that maybe I truly believe that I could one day.” Ia menggambarkan bahwa tahun ini berjalan luar biasa dan puncaknya tiba lewat kemenangan di Sabtu. Ia merasa beruntung karena memiliki agen yang kuat, yakni Tony Hind, yang menurutnya memegang peran penting dalam dunia balap.

Osborne menyebut Tony Hind memiliki daftar joki-joki dengan nama besar, seperti Ryan Moore, William Buick, dan Billy Loughnane. “He’s got an amazing book of jockeys,” katanya. Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa Hind telah membantu membentuk champion jockeys: “He makes champion jockeys, he’s had a lot of them. And yeah, I would love to be the next one on the list.”