Bisnis & Ekonomi

Tarif Pesawat Mengalami Deflasi pada September 2026: Penyebabnya

×

Tarif Pesawat Mengalami Deflasi pada September 2026: Penyebabnya

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tarif angkutan udara menjadi salah satu penekan laju harga pada September 2026. Dalam rilis yang merujuk pada IHK periode September 2026, komponen tersebut disebut berkontribusi pada deflasi secara bulanan (month-to-month/mtm).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan tarif angkutan udara pada September 2026 terjadi seiring berakhirnya musim liburan sekolah. Menurutnya, kondisi itu membuat permintaan mobilitas penumpang melalui perjalanan udara bergerak memasuki fase yang relatif lebih rendah.

“Jadi permintaan mobilitas penumpang melalui perjalanan udara memasuki fase relatif menurun, atau low season,” ujar Ateng Hartono dalam konferensi pers pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Ateng menyampaikan bahwa hasilnya tercermin pada pola pergerakan harga di berbagai wilayah. Berdasarkan sebarannya, tarif angkutan udara secara bulanan mayoritas mengalami deflasi, yakni terjadi di 28 provinsi.

Sementara itu, 9 provinsi lain mencatat inflasi pada tarif angkutan udara. Di sisi yang berbeda, 1 provinsi disebut relatif stabil pada periode tersebut.

Dengan demikian, kontribusi deflasi tarif angkutan udara tidak berdiri sendiri, melainkan tampil dalam dinamika komponen harga yang BPS amati pada IHK September 2026. Dalam laporan yang disampaikan, komponen harga yang diatur pemerintah disebut mengalami inflasi rendah atau mendekati nol.

Pada rincian kontribusi, bensin disebut memberikan andil inflasi. Di saat yang sama, tarif angkutan udara justru menyumbang andil deflasi, sehingga memengaruhi arah pergerakan komponen-komponen harga pada periode September 2026.

Penjelasan BPS menempatkan faktor peralihan kalender sebagai inti yang mendorong perubahan permintaan perjalanan udara. Ketika musim liburan sekolah berakhir, permintaan perjalanan udara menurun relatif dibanding periode sebelumnya, sehingga tarif yang bergerak mengikuti kondisi pasar turut terkoreksi.

Sejalan dengan itu, pengamatan BPS menunjukkan bahwa penurunan tarif angkutan udara berlangsung dalam kerangka perbandingan bulanan. Artinya, yang dibandingkan adalah perubahan dari periode sebelumnya ke September 2026, bukan penilaian tahunan.

Untuk wilayah, BPS menggambarkan hasil yang beragam namun tetap didominasi deflasi pada sebagian besar provinsi. Pada saat yang sama, adanya inflasi di 9 provinsi dan kondisi stabil di 1 provinsi menandakan bahwa respons pasar di masing-masing daerah dapat berbeda.

Rangkaian komponen IHK September 2026

Dalam paket laporan IHK September 2026, BPS menyoroti bahwa komponen harga yang diatur pemerintah bergerak dengan inflasi yang rendah atau mendekati nol. Informasi ini dipaparkan sebagai konteks yang membantu membaca kontribusi masing-masing komponen.

Di dalam konteks tersebut, bensin disebut menyumbang inflasi. Pernyataan ini melengkapi gambaran bahwa tidak semua komponen bergerak searah pada periode yang sama.

Tarif angkutan udara, pada bagian lain, disebut menyumbang andil deflasi. Dengan kata lain, pada saat komponen tertentu masih memberi tekanan kenaikan harga, komponen perjalanan udara justru menjadi faktor penahan.

Poin penting dari paparan Ateng adalah hubungan antara perubahan permintaan dan fase low season. BPS menilai peralihan dari masa liburan ke periode setelahnya membawa penurunan kebutuhan mobilitas melalui udara, yang kemudian memengaruhi tarif.

Walau demikian, BPS tetap menyebutkan bahwa hasilnya bervariasi menurut provinsi. Dari total provinsi yang disebutkan dalam sebaran tarif angkutan udara, deflasi terjadi di 28 provinsi, inflasi di 9 provinsi, dan 1 provinsi relatif stabil.

Implikasi pada dinamika bulanan

Dalam kerangka month-to-month, pergerakan tarif angkutan udara menggambarkan perubahan cepat yang mengikuti kondisi permintaan. Pada September 2026, koreksi tarif yang bersifat relatif menurun disebut muncul setelah berakhirnya musim liburan sekolah.

Dengan kontribusi deflasi dari tarif angkutan udara, BPS menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya dipengaruhi oleh komponen yang bersumber dari bensin atau hal lain yang turut bergerak, tetapi juga oleh komponen perjalanan yang merespons perubahan musim.

Ateng Hartono menekankan bahwa permintaan perjalanan udara memasuki fase menurun atau low season. Penegasan ini menjadi landasan penjelasan BPS atas mengapa tarif angkutan udara bergerak turun pada periode September 2026.

Pada akhirnya, paparan BPS menggarisbawahi bahwa pada IHK September 2026, tarif angkutan udara memberikan andil deflasi, sementara bensin memberi andil inflasi. Di tengah kondisi komponen harga yang diatur pemerintah yang inflasinya rendah atau mendekati nol, komposisi kontribusi tersebut membantu membentuk pola pergerakan harga bulanan pada periode itu.

BPS melaporkan temuan tersebut sebagai bagian dari pembacaan dinamika inflasi IHK, sekaligus memberikan gambaran bahwa perubahan perilaku perjalanan masyarakat dapat terlihat pada indikator tarif angkutan udara. Melalui sebaran provinsi yang didominasi deflasi, BPS menegaskan bahwa fase low season memengaruhi mayoritas wilayah.

Dengan demikian, informasi mengenai tarif angkutan udara pada September 2026 tidak hanya menunjukkan penurunan harga secara bulanan, tetapi juga memperlihatkan variasi respons antarprovinsi. Deflasi terjadi di 28 provinsi, sementara 9 provinsi mengalami inflasi dan 1 provinsi relatif stabil, sesuai penjelasan yang disampaikan dalam konferensi pers BPS.