jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) merangkum kinerja ekspor Indonesia pada periode Januari hingga Agustus 2026, khususnya untuk komoditas nonmigas. Dalam rilisnya yang diumumkan Kamis (1/10/2026), BPS menempatkan China, Amerika Serikat, dan India sebagai tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia.
Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, menyebut bahwa kontribusi gabungan ketiga negara tujuan tersebut sangat dominan dalam total ekspor nonmigas. “Untuk nilai ekspor ketiga negara ini memberikan sharenya sebesar 44,50% dari total ekspor non-migas Indonesia pada Januari sampai dengan Agustus tahun 2026,” kata Ateng Hartono dalam rilis BPS yang disampaikan pada hari yang sama.
Dengan kata lain, hampir setengah dari nilai ekspor nonmigas Indonesia selama delapan bulan pertama tahun 2026 mengalir ke pasar China, Amerika Serikat, dan India. Komposisi ini menunjukkan konsentrasi tujuan ekspor pada beberapa mitra dagang besar dalam periode tersebut.
Lebih lanjut, BPS merinci bahwa nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat sebesar US$p47,44 miliar. Angka itu juga disebut berperan besar terhadap keseluruhan ekspor nonmigas Indonesia pada Januari sampai Agustus 2026. “Untuk nilai ekspor nonmigas ke China tercatat sebesar US$p47,44 miliar dan berkontribusi terhadap 25,22% dari seluruh ekspor nonmigas Indonesia di rentang periode tersebut,” ujar Ateng.
Dominasi China juga terlihat dari jenis produk yang menjadi penggerak nilai ekspor. BPS menyatakan bahwa ekspor Indonesia ke China, khususnya pada kelompok HS72, memperlihatkan peran yang sangat menonjol dalam struktur ekspor selama periode tersebut.
Menurut Ateng, ekspor Indonesia terutama didorong oleh komoditas besi dan baja pada HS72. “Terutama didominasi oleh besi dan baja ini di HS72 dengan sharenya sebesar 26,28% dan naik 5,96% secara C to C [ cummulative to cummulatice] -nya,” kata Ateng dalam rilis BPS.
Berita Terkait
Dalam rincian nilainya, ekspor besi dan baja Indonesia ke China mencapai US$12,4 miliar. Besarnya nilai komoditas tersebut menjadi penopang utama ketika melihat kontribusi besi dan baja dalam total ekspor nonmigas ke pasar China pada Januari hingga Agustus 2026.
Selain besi dan baja, BPS juga menyoroti ekspor nikel serta produk turunannya menuju China. Nilai ekspor nikel dan barang daripadanya tercatat sebesar US$7,3 miliar, dengan kontribusi sebesar 15,43% terhadap seluruh impor China dan bahan bakar mineral.
Komponen lain yang turut menyumbang nilai ekspor ke China adalah bahan bakar mineral. BPS mencatat nilai ekspornya sebesar US$6,7 miliar untuk periode Januari hingga Agustus 2026.
Dari penjabaran tersebut, struktur ekspor nonmigas Indonesia ke China pada periode yang sama memperlihatkan keterkaitan kuat dengan komoditas berbasis industri dan bahan mentah tertentu. Besi dan baja menjadi penggerak terbesar melalui kontribusi HS72, sementara nikel beserta barang turunannya dan bahan bakar mineral turut menambah nilai ekspor.
Sementara itu, untuk Amerika Serikat dan India, BPS tidak merinci angka per negara dalam kutipan data yang disajikan pada rilis tersebut. Namun, gabungan ketiganya tetap relevan karena BPS menegaskan bahwa nilai ekspor ketiga negara tujuan memberi sharenya sebesar 44,50% dari total ekspor nonmigas Indonesia dalam Januari sampai Agustus 2026.
Dengan demikian, hasil rilis BPS menempatkan tiga pasar utama sebagai tujuan yang paling kuat menyerap ekspor nonmigas Indonesia dalam delapan bulan pertama tahun ini. Di sisi lain, rincian komoditas menunjukkan bahwa aliran ekspor ke China memiliki pendorong paling besar dari besi dan baja pada HS72, disusul nikel dan barang daripadanya serta bahan bakar mineral.
Secara keseluruhan, data yang disampaikan BPS pada Kamis (1/10/2026) menegaskan dua hal sekaligus: konsentrasi tujuan ekspor nonmigas pada China, Amerika Serikat, dan India, serta peran kuat beberapa kelompok komoditas dalam membentuk nilai ekspor ke China. Dari indikator yang disebutkan, kontribusi China ke ekspor nonmigas nasional mencapai 25,22% dengan nilai US$p47,44 miliar, terutama ditopang besi dan baja HS72.
