Bisnis & Ekonomi

IHSG Melemah dan Ditutup di 6.009, dipicu saham berkapitalisasi besar

×

IHSG Melemah dan Ditutup di 6.009, dipicu saham berkapitalisasi besar

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (1/10/2026) berakhir melemah 1,02% ke 6.009,5. Pergerakan sepanjang sesi juga menunjukkan tekanan jual yang makin dalam hingga membuat indeks berada di area bawah.

Sepanjang hari itu, IHSG bergerak pada rentang 6.095,23 sampai 5.973,16. Dengan kondisi tersebut, pelemahan tidak hanya terlihat di penutupan, tetapi juga tampak sejak perdagangan mengarah ke zona merah dan berlanjut pada fase berikutnya.

Di balik pelemahan, sentimen pasar disebut terbebani oleh turunnya saham-saham dengan kapitalisasi besar. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu pendorong utama tekanan terhadap indeks, sebelum diperparah oleh pergerakan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Perusahaan sekuritas Phintraco Sekuritas menilai arah bearish IHSG turut dipicu oleh inflasi Indonesia yang meningkat. Inflasi tercatat naik menjadi 3,28% year-on-year (yoy) pada September 2026, lebih tinggi dibanding 3,19% yoy pada Agustus 2026.

Kenaikan inflasi itu muncul di tengah masih tingginya ketidakpastian global. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung lebih selektif, sehingga ruang untuk kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas dan tekanan jual lebih mudah terbentuk.

Tekanan sentimen juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat melemah 0,45% ke level Rp17.950/US$. Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terkait resolusi konflik Timur Tengah.

Selain itu, investor juga menyoroti pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury disebut meningkat hingga mencapai 5,32% untuk tenor 10 tahun. Kenaikan yield ini terkait ekspektasi pasar bahwa The Fed kembali akan menaikkan suku bunga acuan pada rapat bulan ini.

Secara teknikal, pelemahan hari ini membawa IHSG tertekan mendekati area psikologis 6.000. Panin Sekuritas mengingatkan bahwa jika level tersebut ditembus, indeks berpotensi mencari penopang pada support berikutnya, yaitu titik previous low 5.840.

Dengan konfigurasi tekanan dari saham-saham berbobot besar serta kondisi sentimen makro yang masih menekan, pasar tampak bergerak dalam suasana “risk-off”. Tantangan berikutnya bagi IHSG adalah menjaga daya tahan di sekitar 6.000, sambil menunggu perkembangan terbaru dari data inflasi dan arah kebijakan suku bunga.

Perkembangan ke depan menjadi penentu apakah IHSG mampu bertahan atau justru melanjutkan koreksi. Apabila sentimen tetap dibebani oleh inflasi yang lebih tinggi, pelemahan rupiah, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, volatilitas berpotensi tetap tinggi dan indeks bisa menghadapi pengetatan di level-level bawah.

Di sepanjang sesi, dinamika pergerakan menggambarkan bahwa upaya pemulihan tidak mendapat cukup dukungan beli. Saat saham-saham besar bergerak melemah, tekanan cenderung cepat merembet ke pergerakan indeks, sehingga laju IHSG makin sulit kembali ke area yang lebih nyaman untuk investor.

Kenaikan inflasi yang tercatat lebih tinggi pada September 2026 turut memperkuat kekhawatiran pelaku pasar mengenai arah kebijakan. Ketika ekspektasi terhadap suku bunga menjadi lebih ketat, penilaian terhadap saham cenderung ikut menyesuaikan, membuat ruang kenaikan harga menjadi lebih sempit dan transaksi lebih berhati-hati.

Faktor eksternal juga ikut menambah bobot sentimen. Pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan investor sedang mengutamakan kehati-hatian terkait perkembangan global. Kombinasi tersebut membuat pasar cenderung menjaga posisi aman alih-alih mengejar kenaikan, sehingga tekanan jual lebih mudah terbentuk.

Secara teknikal, perhatian pasar kemudian mengarah pada area 6.000 yang mulai menjadi patokan psikologis. Jika indeks mampu bertahan di sekitar level tersebut, peluang penstabilan masih terbuka. Namun bila level psikologis itu gagal dipertahankan, indeks berpotensi menguji penopang berikutnya, yakni previous low 5.840, sebelum arah lanjutan benar-benar terlihat.