jurnalistik.co.id – Ventura Thrive Eternal, Joshua Kushner, mengaku kini menyesal telah terlibat dalam rencana FIFA yang pada akhirnya dibatalkan terkait penataan pendanaan dan kepemilikan terkait Piala Dunia.
Kushner menyampaikan penyesalannya dalam komentar publik pertamanya sejak skema FIFA Forward Enterprise (FFE) memicu krisis besar di tubuh sepak bola dunia.
Ia awalnya disebut akan menjadi investor utama dalam rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk menjual saham/pegangan terkait Piala Dunia melalui skema yang kemudian dihentikan. Dalam pernyataannya, Kushner mengaku jika dirinya mengetahui hasil akhirnya, ia tidak akan ikut terlibat.
Kushner mengatakan, “Had we known what this would devolve into, we would not have gotten involved”. Ia juga menambahkan bahwa ia “failed to appreciate the political dynamics of global football”.
Meski demikian, Kushner tetap membela tujuan FFE. Ia menyatakan, “we stand behind the motivations of FFE”, sekaligus menegaskan niat program tersebut adalah mengarahkan modal dan ekuitas secara lebih seimbang.
Menurut Kushner, gagasan FFE ditujukan untuk memberikan alokasi dana yang lebih merata kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA. Ia menuturkan skema itu dimaksudkan agar investasi tambahan dapat mengalir lebih besar kepada negara-negara yang perkembangannya masih tertinggal, serta untuk mendukung pembinaan talenta lokal, memperkuat sepak bola akar rumput, meningkatkan pengalaman penggemar, dan pada akhirnya memperbesar permainan global di berbagai tempat.
Kushner juga menekankan bahwa FFE bukan sebuah kewajiban yang otomatis diterapkan. Ia menyebut, rencana tersebut “It was an idea that every member association would vote on, not an obligation or determination”.
Selain menyinggung aspek tujuan, Kushner menguraikan posisi Thrive dalam ekosistem sepak bola. Ia mengatakan Thrive Eternal memiliki rekam jejak panjang sebagai mitra bagi berbagai pihak yang terkait, dan menyatakan, “Thrive has a long track record of being a partner to all constituents.”
Ia kembali merangkum penyesalannya dengan kalimat, “Had we known what this would devolve into, we would not have gotten involved.”
Keterlibatan Kushner dan angka investasi yang sempat dibahas
Thrive Eternal adalah perusahaan yang didirikan Kushner pada 2009. Kushner juga dikenal sebagai saudara dari Jared Kushner, yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Berita Terkait
Dalam pemberitaan sebelumnya, Thrive Eternal sempat melakukan pembicaraan dengan Infantino untuk memimpin grup investor senilai $4.2bn (£3.1bn). Rencana tersebut menempatkan Thrive Eternal untuk menjadi bagian dari pendanaan guna menguasai 20% pada sebuah anak usaha komersial FIFA yang baru.
Namun, gagasan tersebut akhirnya dibatalkan beberapa hari setelah terungkap pada bulan Juli, menyusul gelombang penolakan yang luas. Kushner kemudian muncul beberapa waktu setelah eskalasi konflik itu makin melebar.
Belakangan, pada akhir Juli sebelum rencana tersebut resmi disetop, FIFA menyatakan bahwa “Thrive Eternal…is expected to lead the proposed investor group for FFE”. FIFA juga menyebut pendanaan akan didistribusikan kepada masing-masing asosiasi nasional untuk periode 2027-2030, dengan proyeksi kenaikan dari £5.9m menjadi £14.7m.
Tuntutan UEFA dan langkah hukum yang sedang dipertimbangkan
Komenter Kushner muncul di tengah langkah hukum yang tengah bergulir. UEFA, sebagai otoritas sepak bola Eropa, meminta pengadilan di New York untuk memberi persetujuan agar dilakukan subpoena terhadap Kushner dan Thrive.
UEFA menyatakan langkah tersebut berkaitan dengan upaya mereka mempertimbangkan pengajuan pengaduan pidana terhadap Infantino di Swiss. Dalam konteks yang sama, UEFA juga menargetkan dokumen dari pihak lain yang terkait dengan transaksi.
UEFA meminta pengungkapan dokumen dari dua perusahaan FIFA yang berbasis di AS, serta dari Greg Maffei, seorang finansier asal Amerika yang disebut sebagai penasihat kunci dalam kesepakatan tersebut. UEFA juga menyebut bahwa baik Kushner maupun Maffei tidak diperkirakan menjadi pihak terdakwa dalam proses hukum apa pun.
Menurut UEFA, pasangan tersebut pertama kali mendiskusikan konsep FFE pada Juli 2025. UEFA juga mengklaim Infantino telah membicarakan konsep dasarnya dengan Kushner selama hampir setahun sebelum lembar syarat (terms sheet) akhirnya ditandatangani.
Dalam argumen tim hukum UEFA, Piala Dunia disebut sengaja dinilai terlalu rendah sekitar £15bn. UEFA menyatakan angka tersebut bukan hasil dari proses lelang terbuka yang kompetitif, dan juga tidak diuji oleh penilai independen.
UEFA turut mengemukakan bahwa Infantino diduga tidak berkonsultasi dengan hierarki FIFA sebelum mendorong rencana tersebut.
Adapun posisi Kushner saat ini tidak hanya terhubung dengan sepak bola. Ia baru saja menyepakati kesepakatan untuk membeli tim bola basket Los Angeles Lakers senilai rekor $12.5bn (£9.3bn).
Sementara itu, komentar Kushner memperlihatkan upaya untuk menempatkan FFE sebagai gagasan yang berorientasi distribusi modal, sekaligus mengakui bahwa dinamika politik sepak bola global ternyata berjalan jauh lebih rumit daripada yang ia perkirakan ketika terlibat dalam proposal tersebut.












