jurnalistik.co.id – Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, mengingatkan para menteri keuangan G20 bahwa perkembangan kecerdasan buatan berpotensi memicu kemunduran ekonomi global sekaligus meningkatkan risiko keamanan siber bagi sistem keuangan.
Peringatan itu disampaikan Bailey dalam sebuah surat terbuka yang ia kirim kepada para menteri keuangan di AS pada hari Senin.
Bailey menilai, bila sektor AI mengalami penurunan pertumbuhan secara tajam, efeknya dapat mengarah pada “future market correction” yang kemudian menyebar lintas negara.
Ia juga menyoroti risiko yang menyangkut keamanan siber. Menurut Bailey, perusahaan-perusahaan di berbagai wilayah perlu menyiapkan diri menghadapi potensi gangguan keamanan yang “involving simultaneous disruption across multiple firms”, yaitu gangguan serentak yang melanda beberapa perusahaan sekaligus.
Bagian lain dari surat terbuka itu merujuk pada dorongan penguatan pertahanan digital. Awal bulan ini, kelompok yang beranggotakan 100 perusahaan—termasuk Google, Microsoft, Anthropic, dan OpenAI—mendesak negara dan kelompok untuk memperkuat pertahanan siber sebelum kemampuan AI menjadi cukup kuat untuk mengatasi atau menembus pengamanan yang selama ini diterapkan.
Dalam pandangan Bailey, potensi koreksi pasar di masa depan bisa menjadi lebih besar bila beberapa faktor finansial bertemu dalam satu waktu. Ia menyebut kombinasi pasar saham dengan valuasi yang tinggi, peningkatan pinjaman yang dilakukan investor, serta terkonsentrasinya arus uang pada sejumlah perusahaan teknologi raksasa sebagai penguat dampak.
Bailey menjelaskan bahwa masalahnya bukan semata-mata investor meminjam lebih banyak. Ia menegaskan adanya interaksi antara leverage dan valuasi tinggi, ditambah konsentrasi pasar—terutama melalui meningkatnya silang investasi antara perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang AI dan perusahaan hyperscaler. Pernyataan itu ia sampaikan dalam kutipan, “The issue is not simply that investors are borrowing more, but that leverage is interacting with high valuations and market concentration, in particular the increasing cross-investment between artificial intelligence (AI) companies and hyper scalers, in a way that could amplify a future market correction”.
Berita Terkait
Selain aspek pasar dan pendanaan, Bailey meminta otoritas yang bertanggung jawab atas keamanan finansial untuk menyiapkan langkah-langkah yang memadai. Ia menyerukan pengembangan “appropriate steps to support safe and responsible model release and deployment on a global basis” agar rilis serta penerapan model AI dapat berlangsung secara aman dan bertanggung jawab pada skala global.
Bailey menulis surat tersebut dalam kapasitasnya sebagai ketua Financial Stability Board (FSB), lembaga pengawas internasional yang menjadi rujukan pemantauan stabilitas sektor keuangan. Dalam pernyataannya, ia juga menyinggung kekhawatiran soal “volatility” yang dipicu guncangan pasokan energi, yang ia kaitkan dengan dampak perang AS-Iran.
Peringatan Bailey muncul beberapa bulan setelah Menteri Keuangan Inggris, John Healey, mengumumkan dana sebesar £100 juta untuk mendukung perusahaan rintisan AI di Inggris. Rencana itu terkait upaya pemerintah membangun kapasitas “sovereign AI”, yakni kemampuan AI yang dikembangkan di dalam negeri sehingga Inggris tidak bergantung pada layanan dari pihak luar.
Menurut arah yang diincar oleh para menteri, perusahaan-perusahaan diharapkan dapat bersaing memperebutkan dukungan pendanaan tersebut. Tujuannya mencakup penanganan tantangan seperti upaya memangkas daftar tunggu layanan kesehatan nasional (NHS), sekaligus memperkuat keamanan siber dan pertahanan.
Seorang juru bicara pemerintah Inggris menyatakan bahwa lembaga baru bernama “AI economics institute” bekerja sama dengan mitra internasional untuk membangun pemahaman bersama mengenai perubahan yang dibawa AI terhadap ekonomi di berbagai negara. Ia menambahkan bahwa institut tersebut menjadi badan pertama yang didukung pemerintah dan berfokus pada dampak ekonomi AI, membantu para pembuat kebijakan memahami maknanya bagi pertumbuhan, produktivitas, pekerjaan, serta layanan publik saat teknologi berkembang dengan cepat.
Di sisi lain, berkembang pula kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan AI kian mengembangkan model yang dapat dengan mudah mengatasi sistem pengaman milik bank dan pusat-pusat keuangan. Pada musim panas ini, OpenAI, Anthropic, dan Meta memperlihatkan alat-alat AI yang—menurut temuan yang disorot—mampu melakukan hal-hal yang semestinya tidak terjadi. Dalam beberapa kasus, agen-agen AI bahkan disebut bisa memalsukan identitas nyata untuk melewati rintangan keamanan.
Financial Stability Board yang dipimpin Bailey merupakan pengawas global yang memonitor pejabat kementerian keuangan, bank, dan regulator sekuritas. Keanggotaan FSB melibatkan pejabat dari AS, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, Jepang, Australia, Tiongkok, serta Arab Saudi.
Pada akhirnya, surat Bailey kepada G20 menempatkan AI bukan hanya sebagai isu teknologi, tetapi sebagai variabel yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem keuangan. Ia menekankan bahwa kesiapan terhadap risiko—mulai dari potensi “future market correction” hingga ancaman keamanan siber—perlu dijalankan lebih dulu agar dampak terburuk tidak menjadi kenyataan.












