jurnalistik.co.id – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan pekan ini, dipicu kabar bahwa China, atas permintaan Arab Saudi, meminta Iran membatasi serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Saudi.
Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan terakhir pekan ini Jumat (18/9/2026), harga minyak Brent turun 0,91% menjadi US$103,87 per barel. Pada saat yang sama, West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,58% menjadi US$100,30 per barel.
Penurunan tersebut memperpanjang tren negatif di pasar. Dalam tiga hari terakhir, Brent sudah turun 4,5% dan WTI terkoreksi 5,3%.
Meski demikian, pergerakan mingguan tidak sepenuhnya sama. Sepanjang sepekan terakhir, harga minyak WTI masih menguat 0,25% dan mencatat kenaikan tiga pekan beruntun. Sementara itu, Brent turun 0,71% pada pekan ini, sekaligus memutus kenaikan yang terjadi dalam dua pekan sebelumnya.
Di balik pelemahan harga, gangguan pasokan minyak mentah serta kapasitas pengolahan global masih menjadi faktor penekan pada harga bahan bakar. Di Amerika Serikat, harga diesel bahkan mencapai rekor US$6,4476 per galon atau sekitar US$1,71 per liter, berdasarkan data American Automobile Association (AAA).
Dengan minyak mentah yang masih bertahan di atas US$100 per barel dan pasokan yang terganggu, tekanan terhadap harga bahan bakar global tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Prospek pasar minyak masih penuh ketidakpastian
Di tengah kabar terkait keterlibatan China, sejumlah analis menilai prospek minyak dalam beberapa bulan ke depan masih sulit dipastikan. JPMorgan pada Kamis menyatakan tidak memiliki proyeksi dasar yang jelas untuk pasar minyak untuk pertama kalinya sejak perang AS–Israel melawan Iran dimulai pada Februari.
Situasi di Selat Hormuz juga terus menjadi perhatian. Jalur perdagangan minyak tersebut masih nyaris terputus, setelah data pengiriman awal menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintas pada Kamis.
Jumlah itu jauh di bawah rata-rata sekitar 16 kapal per hari pada 10 hari sebelumnya. Kondisi ini membuat pergerakan harga mudah berbalik ketika ada perubahan arus kapal maupun pasokan fisik.
Harga minyak sempat mendekati level tertinggi dalam hampir empat bulan pada awal pekan ini. Lonjakan sementara itu muncul setelah sumber mengatakan pemuatan minyak mentah di terminal ekspor Arab Saudi di Laut Merah, Yanbu, dihentikan.
Selain itu, Riyadh juga membatalkan sejumlah pengiriman ke Eropa setelah pipa East-West rusak akibat serangan pada pekan lalu. Saudi Aramco kemudian memberi tahu sedikitnya dua pelanggan kilang di Eropa bahwa mereka tidak akan menerima pasokan minyak mentah pada bulan depan.
Kerusakan pipa dan upaya pemulihan kapasitas
Serangan lintas perbatasan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran kembali terjadi pada Kamis. Konflik yang meluas di Timur Tengah ikut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.
Gangguan tersebut juga tampak pada infrastruktur pipa. Pipa minyak dunia yang ditunjukkan pada Juni 2026 mencatat tiga stasiun pompa yang melayani pipa East-West Saudi dilaporkan rusak dalam serangan pekan lalu.
Berita Terkait
Jumlah titik yang rusak itu satu lebih banyak daripada perkiraan sebelumnya, sementara waktu perbaikannya masih belum jelas. Arab Saudi kini berupaya memulihkan sekitar 50% kapasitas pipa East-West dalam beberapa hari ke depan, meski perkiraan terkait durasi pemulihan masih berbeda di antara berbagai sumber.
Dalam konteks itu, Priyanka Sachdeva, Head of Market Insights Phillip Nova, menyampaikan, “Pertanyaan utamanya adalah apakah aliran fisik dapat kembali normal dan berapa lama waktunya. Jika lalu lintas di Hormuz terus membaik, premi geopolitik pada harga minyak dapat kembali tergerus,” kata Priyanka Sachdeva, Head of Market Insights Phillip Nova, kepada Reuters.
Citra satelit memperlihatkan jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi yang membentang melintasi Semenanjung Arab setelah serangan yang hancur pada Jumat (11/9/2026).
Sementara itu, AS dan Iran belum kembali melakukan pembicaraan damai sejak kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni runtuh. Konflik tersebut diperkirakan menjadi salah satu pembahasan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan depan, dan delegasi Iran disebut akan menghadiri pertemuan tersebut.
Harapan operasi kembali pipa East-West
Pasar berharap Arab Saudi dapat kembali mengoperasikan setidaknya 50% kapasitas East-West Pipeline yang sebelumnya terhenti akibat serangan drone. Pemulihan tersebut dinilai dapat membantu mengurangi gangguan ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah, sementara Selat Hormuz masih praktis tertutup.
Norman Liebke, analis Commerzbank, menyebut penurunan harga yang terjadi saat ini dipengaruhi ekspektasi pemulihan infrastruktur tersebut. Ia mengatakan, “Penurunan ini hampir sepenuhnya disebabkan laporan bahwa Arab Saudi berniat memulihkan setidaknya 50% kapasitas East-West Pipeline dalam beberapa hari ke depan,” ujar Norman Liebke, analis Commerzbank.
Ia menambahkan bahwa jika pipa benar-benar kembali beroperasi, harga minyak berpotensi turun lebih dalam karena pasokan global mendapat tambahan.
Aramco tidak kirim minyak ke Eropa dan pembatasan pelayaran
Namun, tekanan penurunan harga juga tertahan oleh laporan bahwa Aramco tidak akan memasok minyak mentah kepada pelanggan Eropa pada bulan depan. Bloomberg melaporkan setidaknya dua kilang Eropa tidak akan menerima pengiriman minyak Saudi.
Gangguan pasokan juga diperparah pembatasan pelayaran di Selat Hormuz. Pada Kamis, hanya empat kapal kargo yang melintasi jalur tersebut, jauh di bawah rata-rata hampir 16 kapal per hari dalam 10 hari sebelumnya.
Cadangan strategis dan sinyal kebijakan dari Eropa
Di Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan akan menggelar pertemuan G7 dalam beberapa pekan mendatang. Pertemuan itu akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan energi strategis melalui International Energy Agency (IEA).
Pada Maret, negara-negara anggota IEA telah melepas 400 juta barel setelah perang di Timur Tengah pecah pada 28 Februari. Peristiwa itu terjadi menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Usulan Prancis tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan meski ketegangan masih tinggi. Di sisi lain, UKMTO melaporkan dua serangan baru terhadap kapal tanker sepanjang Rabu hingga Jumat.












