jurnalistik.co.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo menilai kebakaran lahan yang marak saat kemarau 2026 hampir seluruhnya bersumber dari aktivitas manusia. Hingga saat ini, pihaknya juga belum menemukan kejadian yang berasal dari faktor alam, seperti sambaran petir.
Menurut BPBD, temuan tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap berbagai peristiwa kebakaran selama musim kering berlangsung. Dari penelusuran yang dilakukan, sebagian besar kasus dinilai berawal dari kelalaian maupun praktik pembakaran yang tidak terkendali.
Humas BPBD melalui Kepala Pelaksana Ariyanto Mulyatmojo menyampaikan bahwa mayoritas kebakaran tidak terkait fenomena alam. “Hampir seratus persen kebakaran lahan berasal dari ulah manusia. Sampai sekarang kami belum menemukan kebakaran yang dipicu oleh faktor alam seperti sambaran petir,” ujarnya.
Evaluasi BPBD menunjukkan, pola pemicunya umumnya terjadi sebelum api benar-benar padam. Ketika proses pembakaran dilakukan di lahan terbuka, pengawasan menjadi titik penting yang sering menentukan apakah kebakaran akan merembet atau tidak.
Dalam sejumlah kejadian, kebiasaan membakar sampah di area yang tidak terlindungi disebut menjadi penyebab yang paling sering ditemukan. Api yang dibiarkan sebelum benar-benar padam lalu menyebar ke vegetasi kering di sekitarnya.
Vegetasi yang mudah tersambar membuat api cepat melebar. Di Sukoharjo, proses perambatan biasanya terjadi pada rumput kering, alang-alang, maupun semak belukar yang menjadi bahan bakar alami di musim kemarau.
Selain pembakaran sampah, BPBD juga menyoroti dampak puntung rokok yang dibuang sembarangan. Di kondisi cuaca kering, bara api kecil dari puntung rokok dapat langsung menyulut area bervegetasi yang sudah mengering.
Ulah manusia tidak hanya berhenti pada aktivitas yang bersifat kelalaian. BPBD juga tidak menutup kemungkinan adanya pembakaran yang dilakukan dengan sengaja, namun tanpa memperhitungkan kondisi cuaca saat itu.
Ariyanto menjelaskan, pembakaran bisa terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari membakar sampah lalu ditinggalkan, hingga membuang puntung rokok di sembarang tempat. Dalam skenario lain, ada pula pihak yang membakar lahan secara sadar namun tetap mengabaikan kondisi cuaca yang membuat api sulit dikendalikan.
Berita Terkait
Ketika cuaca mendukung, api yang semula kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Dampaknya kemudian membuat pemadaman menjadi semakin sulit karena perambatan api terjadi lebih cepat.
BPBD menilai, kemarau sendiri berperan memperparah risiko kebakaran lahan. Ariyanto menyebut hamparan alang-alang, rumput liar, dan semak belukar yang mengering akibat minimnya curah hujan menjadi bahan bakar utama.
Musim kering membuat kadar kelembapan vegetasi turun sehingga daya tahan terhadap api rendah. Dengan kondisi demikian, sumber api yang kecil saja dapat menjadi pemicu kebakaran yang meluas.
Selain faktor kekeringan, angin juga disebut mempercepat penyebaran api. Ariyanto menyatakan embusan angin yang cukup kencang pada siang hingga sore hari membuat api lebih mudah merambat ke area lain.
Di Sukoharjo, BPBD mengaitkan kondisi tersebut dengan karakter lanskap daerah. Banyak kawasan hutan jati serta lahan kosong yang dipenuhi alang-alang, sehingga saat kemarau tiba semuanya ikut mengering.
Ia menilai potensi kebakaran menjadi cukup tinggi karena kombinasi antara vegetasi kering dan cuaca yang mendukung perambatan api. “Di Sukoharjo banyak kawasan hutan jati dan lahan kosong yang dipenuhi alang-alang. Saat musim kemarau semuanya mengering sehingga potensi kebakarannya memang cukup tinggi,” katanya.
Dengan mempertimbangkan pola penyebab yang dominan, BPBD menempatkan pencegahan sebagai langkah penting sejak awal musim kemarau. Pihaknya mengaku telah melakukan berbagai upaya pencegahan untuk menekan angka kebakaran selama periode berisiko ini.
Di tengah kondisi tersebut, kewaspadaan warga dinilai menjadi faktor kunci dalam mengurangi kejadian serupa. Apabila pembakaran dilakukan, BPBD mendorong agar prosesnya tidak menciptakan situasi yang berujung pada api yang ditinggalkan atau menyulut vegetasi di sekitarnya.
BPBD juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah dan pencegahan praktik pembakaran yang tidak terkendali. Begitu pula dengan pembuangan puntung rokok yang sebaiknya tidak dilakukan sembarangan karena dapat menimbulkan bara yang tersulut oleh kondisi lingkungan kering.
Dalam pandangan Ariyanto, peningkatan risiko kemarau perlu disikapi sejak dini melalui tindakan pencegahan dan pengawasan di lapangan. Dengan demikian, potensi kebakaran lahan yang biasanya meningkat saat kemarau dapat ditekan sebelum merambat lebih luas.












