Daerah

Kemarau Picu Gangguan Air Bersih di Jabungan, Semarang

×

Kemarau Picu Gangguan Air Bersih di Jabungan, Semarang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Musim Kemarau Picu Krisis Air Bersih Jabungan Semarang

jurnalistik.co.id – Musim kemarau mulai menimbulkan gangguan pasokan air bersih di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kondisi ini membuat sejumlah warga di wilayah setempat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Senin (3/8/2026), Polsek Banyumanik menyalurkan bantuan air bersih dalam tahap awal kepada warga terdampak. Bantuan yang didistribusikan mencapai 5.000 liter, dan penyalurannya ditujukan untuk RT 02 RW 03 di Kelurahan Jabungan.

Kapolsek Banyumanik, Kompol Hengky Prasetyo, menjelaskan penyaluran bantuan dilakukan setelah Polsek menerima laporan kesulitan air dari Bhabinkamtibmas. Ia menyebut langkah tersebut ditempuh melalui kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) agar pendistribusian bisa berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi.

“Kami bekerja sama dengan PMI. Melalui Bhabinkamtibmas kami mengajukan permohonan bantuan, kemudian dikirim satu mobil tangki air bersih. Kami juga berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk mendampingi penyaluran bantuan,” kata Hengky, Senin.

Menurut Hengky, mobil tangki yang dikirim membawa sekitar 5.000 liter air bersih. Penyaluran ini dimaksudkan sebagai bantuan tahap awal untuk merespons krisis yang muncul di Jabungan, sekaligus sebagai langkah lanjutan yang akan diterapkan pada wilayah lain yang juga menghadapi kekeringan.

Hengky menilai Jabungan merupakan kawasan yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan ketika musim kemarau datang. Ia menyampaikan bahwa karakter kondisi tanah yang didominasi batuan membuat sumber air cepat mengering, sehingga warga kerap menghadapi kekurangan air pada periode tersebut. Dalam situasi seperti ini, pola penanganan yang dilakukan juga cenderung berulang dari waktu ke waktu, termasuk upaya dropping air.

Untuk penentuan prioritas penerima bantuan, ia menyebut wilayah yang terdampak paling parah berada di RW 04. Dari RW tersebut, jumlah warga diperkirakan mencapai sekitar 100 orang, namun untuk penyaluran pada kesempatan kali ini bantuan diprioritaskan bagi warga RT 02 RW 03. Ke depan, Polsek Banyumanik merencanakan pengiriman bantuan air bersih secara bertahap.

Koordinasi juga dilakukan lintas unsur untuk memperluas cakupan distribusi. Selain penyaluran oleh Polsek, Koramil Banyumanik dijadwalkan mengirimkan bantuan air ke wilayah lain di Kelurahan Jabungan pada Selasa (4/8/2026). Hengky menyebut terdapat situasi di mana sebagian warga menggunakan ledeng, tetapi debit airnya tetap kurang lancar, sehingga kebutuhan akan bantuan air bersih tetap muncul.

Krisis air bersih yang terjadi di Jabungan memperlihatkan bahwa masalah kekeringan tidak berhenti pada gangguan sesaat, melainkan menuntut respons yang berkelanjutan sepanjang musim kemarau. Dengan adanya penyaluran bertahap dan kolaborasi antarinstansi, diharapkan distribusi air bisa lebih merata dan membantu warga melewati periode ketika sumber air mengalami penurunan.

Hengky menegaskan penyaluran bantuan air bersih tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola respons ketika musim kemarau mulai memengaruhi ketersediaan air. Setelah laporan masuk, langkah pengajuan dilakukan agar distribusi dapat langsung bergerak, sehingga warga tidak terlalu lama menunggu kebutuhan dasarnya.

Dalam pelaksanaan di lapangan, koordinasi diarahkan agar pendistribusian berjalan tertib dan tepat sasaran sesuai data wilayah yang terdampak. Ia menyebut RW 04 menjadi area yang dinilai paling berat, namun pada penyaluran awal bantuan lebih dulu difokuskan pada RT 02 RW 03, sembari menyiapkan rencana pengiriman bertahap untuk wilayah lainnya.

Lebih lanjut, bantuan juga diperkuat melalui keterlibatan unsur lain agar cakupan distribusi lebih luas selama periode kekeringan. Selain penyaluran oleh Polsek, Koramil Banyumanik dijadwalkan mengirim bantuan air pada Selasa (4/8/2026). Di sisi lain, kendati ada warga yang mengandalkan ledeng, debit air yang tetap kurang lancar membuat kebutuhan dropping air tetap diperlukan, sehingga penanganan perlu berlanjut sepanjang musim.