Daerah

Imbas Kemarau Panjang, Way Jepara dan Margatiga di Lampung Terancam Kekurangan Air sampai Akhir 2026

×

Imbas Kemarau Panjang, Way Jepara dan Margatiga di Lampung Terancam Kekurangan Air sampai Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kemarau Mengancam, Dua Bendungan di Lampung Berpotensi Defisit Air hingga Akhir 2026

jurnalistik.co.id – Kemarau yang berlangsung lebih panjang mulai memberi tekanan pada ketersediaan air di Lampung. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung menilai, dua bendungan di provinsi itu berpotensi mengalami defisit hingga akhir 2026 bila tidak ada tambahan aliran air.

Proyeksi tersebut disusun berdasarkan evaluasi kondisi tampungan bendungan dengan skenario tanpa inflow hingga Desember 2026. Dengan asumsi itu, BBWS ingin memetakan kemampuan setiap bendungan dalam memenuhi kebutuhan irigasi maupun air baku sejak dini.

Menurut Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, pendekatan perhitungan dilakukan dengan mempertimbangkan tidak adanya inflow sampai akhir tahun. “Kami menggunakan asumsi tidak ada inflow hingga Desember 2026, sehingga kemampuan masing-masing bendungan dalam memenuhi kebutuhan irigasi dan air baku dapat dipetakan sejak dini,” ujarnya dalam paparan kondisi suplai debit air BBWS Mesuji Sekampung, pada Senin (3/8/2026).

Dua bendungan terancam kekurangan air

Dalam proyeksi BBWS, Bendungan Way Jepara di Kabupaten Lampung Timur termasuk yang dikhawatirkan tidak mampu menyuplai kebutuhan secara penuh. Perhitungan menunjukkan bendungan itu hanya dapat melayani sekitar 1.757 hektare lahan, yang berada di bawah luas tanam yang direncanakan.

Elroy menyebut, bila inflow tidak bertambah sampai Desember 2026, Way Jepara diperkirakan mengalami defisit sekitar 15,42 juta meter kubik. Dengan kondisi tersebut, pasokan untuk irigasi diprediksi tidak akan cukup untuk menutup kebutuhan sesuai rencana.

Selain Way Jepara, risiko serupa juga dialamatkan kepada Bendungan Margatiga yang berada di Lampung Timur. BBWS memproyeksikan bendungan ini hanya mampu memenuhi kebutuhan irigasi seluas sekitar 2.004 hektare dari total 3.600 hektare yang dibutuhkan.

Dari sisi volume, Margatiga diperkirakan mengalami defisit sekitar 21,22 juta meter kubik jika tidak ada tambahan aliran air hingga akhir 2026. Selisih kemampuan tampung terhadap kebutuhan ini menjadi salah satu sinyal awal bahwa distribusi air berpotensi menghadapi tekanan pada periode kemarau panjang.

Batutegi dan Way Sekampung masih relatif aman

Meski dua bendungan dinilai berisiko, BBWS juga menyatakan tidak semua infrastruktur penyedia air berada dalam kondisi yang sama. Elroy menjelaskan, Bendungan Batutegi masih memiliki sisa volume sekitar 379,49 juta meter kubik, sehingga diperkirakan mampu mengairi sekitar 28.533 hektare lahan hingga akhir tahun.

Di sisi lain, Bendungan Way Sekampung disebut masih berada dalam kondisi aman dengan volume tampungan sekitar 70,08 juta meter kubik. Bendungan ini tetap menjadi salah satu sumber utama penyedia air irigasi maupun air baku di Lampung.

Dengan perbedaan kapasitas antarbendungan tersebut, BBWS berupaya menyiapkan langkah antisipasi agar distribusi air tidak terganggu ketika kekeringan makin panjang. Penyiapan itu juga dimaksudkan untuk menjaga keberlangsungan kebutuhan sektor pertanian sekaligus layanan air baku.

BBWS menyiapkan mitigasi menghadapi potensi kekeringan

Untuk menghadapi musim kemarau, BBWS Mesuji Sekampung menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Rangkaian upaya tersebut mencakup pemantauan intensif kondisi bendungan, penguatan koordinasi lintas sektor, hingga pengusulan pembangunan sumur pada wilayah yang rawan mengalami kekeringan.

Elroy menyebut langkah pemantauan dilakukan agar distribusi air irigasi dan air baku tetap terjaga selama musim kemarau. “Kami terus melakukan pemantauan ketersediaan air agar distribusi air irigasi dan air baku tetap terjaga selama musim kemarau,” katanya.

Selain itu, BBWS mengusulkan pembangunan 749 unit sumur di area yang berpotensi terdampak kekeringan. Dengan langkah tambahan di luar bendungan, diharapkan suplai air di lapangan bisa lebih fleksibel menghadapi kondisi apabila defisit pada bendungan tertentu benar-benar terjadi sesuai proyeksi.

Proyeksi defisit yang dipatok hingga akhir 2026 menjadi peringatan dini bahwa kemarau panjang tidak hanya memengaruhi musim tanam, tetapi juga berpotensi mengubah peta pemenuhan kebutuhan air baku. Karena itu, persiapan mitigasi dilakukan sejak awal agar penyesuaian distribusi dan dukungan infrastruktur dapat berjalan sebelum tekanan ketersediaan air mencapai titik terendah.