Peristiwa

Pemko Padang Menyebut Hujan Lebih Ekstrem dari November 2025, Namun Berdurasi Lebih Singkat

×

Pemko Padang Menyebut Hujan Lebih Ekstrem dari November 2025, Namun Berdurasi Lebih Singkat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pemko Padang Sebut Intensitas Hujan Kali Ini Lebih Ekstrem dari November 2025, Namun Lebih Singkat

jurnalistik.co.id – Kota Padang, Sumatera Barat, kembali menghadapi banjir sejak Senin (3/8/2026). Pemerintah kota menyatakan kejadian kali ini dipengaruhi hujan ekstrem, dengan pola yang berbeda dibanding bencana pada November 2025.

Pada Selasa (4/8/2026) sore, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat genangan telah meluas menjadi 23 titik yang tersebar di sembilan kecamatan. Kondisi tersebut membuat kawasan-kawasan langganan banjir kembali menjadi perhatian utama, terutama di wilayah bantaran sungai.

Area dengan dampak paling berat terlihat di Kecamatan Koto Tangah dan Kuranji. Di wilayah itu, banjir dikaitkan dengan meluapnya aliran Batang Kuranji serta sungai di kawasan Lubuk Minturun. “Ini dampak meluapnya Batang Kuranji dan aliran sungai di Lubuk Minturun. Wilayah di sepanjang bantaran sungai yang paling terdampak karena hujan deras kemarin,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulvinto.

Hingga kini, genangan juga tercatat cukup tinggi di sejumlah pemukiman. Namun, Hendri menekankan karakter banjir kali ini tidak sama dengan musibah sebelumnya. “Kalau sekarang banjirnya hanya air, tidak seperti sebelumnya yang disertai lumpur. Jadi dampak pembersihan pascabanjir diprediksi akan lebih cepat,” tuturnya.

Intensitas tinggi, durasi lebih singkat

Wali Kota Padang, Fadly Amran, menegaskan intensitas hujan yang mengguyur kota pada Senin kemarin dinilainya jauh lebih tinggi dibanding kejadian pada November 2025. Ia menyebut fenomena ini termasuk anomali karena berlangsung di tengah periode yang umumnya dikaitkan dengan musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Fadly menyampaikan, “Enam jam kemarin curah hujan lebih kurang 360 millimeter. Padahal 150 millimeter saja sudah tergolong ekstrem. Pada November lalu, curah hujan berkisar 260 millimeter sampai 290 millimeter per hari. Anomali terus terjadi,” ujarnya. Pernyataan itu menjadi dasar penjelasan bahwa hujan kali ini bergerak dengan tingkat kepadatan yang tinggi meski durasinya lebih singkat.

Menurut Pemko Padang, kombinasi antara intensitas yang kuat dan penyebaran genangan di banyak titik membuat dampak banjir tetap luas. Meski begitu, perbedaan karakter air—yang tidak disertai lumpur seperti sebelumnya—diharapkan berdampak pada tahapan penanganan pascabanjir yang dapat berlangsung lebih cepat.

BPBD dan langkah mitigasi infrastruktur

Di tengah kondisi yang dinamis, Fadly mengimbau masyarakat agar tetap waspada mengingat cuaca yang sulit diprediksi. Ia juga mendorong agar program rehabilitasi serta percepatan penanganan infrastruktur besar segera direalisasikan.

Upaya tersebut, antara lain, mencakup pembangunan sabo dam dan cek dam, baik yang menjadi bagian dari rencana Pemko maupun kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Fadly menilai langkah itu mendesak karena titik banjir utama dinilai masih bersumber dari daerah aliran sungai yang sama dengan bencana tahun lalu.

Dengan demikian, perhatian tidak hanya diarahkan pada respons darurat saat genangan terjadi, tetapi juga pada pemulihan dan perkuatan struktur pengendalian air agar dampak serupa tidak berulang dengan skala yang sama.

BMKG: curah hujan tergolong ekstrem

Penjelasan mengenai cuaca ekstrem juga disampaikan BMKG. Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, membenarkan bahwa curah hujan di Kota Padang tergolong ekstrem.

Berdasarkan catatan BMKG, angka tertinggi terekam di kawasan Bungus Teluk Kabung. Temuan tersebut memperkuat pembahasan bahwa hujan yang melandasi banjir memiliki intensitas yang melampaui ambang ekstrem yang biasa digunakan dalam penilaian cuaca, sebagaimana disampaikan Wali Kota Padang.

Dengan data yang menunjukkan curah hujan ekstrem serta meluasnya genangan hingga 23 titik di sembilan kecamatan, pemerintah dan pihak terkait terus memprioritaskan penanganan di wilayah terdampak. Penekanan pada perbedaan karakter air yang dominan tanpa lumpur juga menjadi bagian dari penilaian awal agar proses pembersihan pascabanjir dapat berjalan lebih efektif.

Ke depan, realisasi langkah mitigasi infrastruktur seperti sabo dam dan cek dam diharapkan membantu mengurangi risiko meluapnya aliran sungai yang berulang di area langganan banjir. Sementara itu, imbauan kewaspadaan tetap diperlukan agar masyarakat dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca yang masih berpotensi tidak terduga.