Otomotif

Bukan Sekadar Usia: Ini Penyebab Baterai Motor Listrik Cepat Rusak

0
×

Bukan Sekadar Usia: Ini Penyebab Baterai Motor Listrik Cepat Rusak

Sebarkan artikel ini
Bukan Cuma Faktor Usia, Ini Penyebab Baterai Motor Listrik Rusak Otomotif 6 Juni 2026
Ilustrasi: Bukan Cuma Faktor Usia, Ini Penyebab Baterai Motor Listrik Rusak

jurnalistik.co.id – Baterai merupakan komponen paling krusial sekaligus termahal pada kendaraan listrik (EV). Meski tidak memerlukan perawatan rutin yang rumit seperti mesin bensin, baterai motor listrik tetap bisa mengalami penurunan performa drastis hingga rusak jika tidak dirawat dengan benar.

Banyak pemilik mengira kerusakan baterai semata-mata dipicu faktor usia. Namun, ada kebiasaan harian yang sering dilakukan secara keliru, serta faktor teknis yang dapat menjadi pemicu utama baterai cepat mengalami penurunan.

Hernest, Owner dari Bogor Battery Electric Motion (BEMo), bengkel spesialis baterai kendaraan listrik di Semplak, Bogor, membeberkan beberapa penyebab utama baterai motor listrik bisa rusak atau drop. Menurutnya, pola perawatan yang tidak sesuai karakter baterai membuat proses degradasi berjalan lebih cepat.

Mengecas saat baterai masih panas

Kebiasaan yang paling umum adalah langsung mencolokkan charger sesampainya di rumah setelah menempuh perjalanan. Pada kondisi motor baru selesai digunakan, komponen di dalam baterai masih berada dalam keadaan panas ekstrem akibat proses pengeluaran daya (discharge).

Hernest menekankan bahwa kebiasaan itu memperpendek umur pemakaian. “Ketika motor kita sampai (rumah), biarkan dia turun dulu suhunya karena perangkat elektronik itu masih panas habis discharge . Tiba-tiba dihantam lagi (dicas). Pengaruhnya memang tidak membuat meledak, tapi dampaknya langsung memperpendek umur pemakaian baterai,” ujar Hernest kepada Kompas.com.

Artinya, yang bermasalah bukan hanya proses pengisian itu sendiri, tetapi timing pengisian yang dilakukan ketika baterai masih menyimpan panas dari penggunaan sebelumnya.

Membiarkan daya baterai di bawah 30 persen

Penyebab berikutnya adalah membiarkan daya baterai terkuras hingga menyentuh angka 0 persen. Kebiasaan ini tidak disarankan karena dapat merusak keseimbangan (balance) tegangan antar-sel baterai di dalamnya.

Jika sel baterai sudah tidak seimbang, sel yang masih kuat akan dipaksa bekerja lebih keras untuk menyubsidi sel yang lemah. Lambat laun, efek domino ini membuat seluruh rangkaian sel baterai ikut melemah dan drop secara keseluruhan.

Dengan kata lain, penurunan performa tidak muncul secara instan, tetapi berkembang mengikuti kondisi tegangan yang terus dipaksa berada pada titik kritis terlalu lama.

Absennya sistem pengaman sesuai jenis baterai

Pemicu kerusakan baterai juga dipengaruhi oleh jenis baterai yang digunakan kendaraan. Motor listrik modern dengan baterai Lithium umumnya lebih awet karena dibekali Battery Management System (BMS) untuk mencegah pengisian berlebih (overcharge).

Berbeda dengan itu, sepeda atau motor listrik konvensional yang masih mengandalkan baterai jenis SLA (Sealed Lead Acid) tidak memiliki sistem BMS. Akibatnya, ketika pemilik kerap membiarkan baterai SLA tercolok seharian atau semalaman saat sudah penuh, baterai akan terus “disuapi” arus listrik hingga mengakibatkan sel kembung dan rusak.

Hernest tidak hanya menyoroti soal overcharge, tetapi juga persoalan kebiasaan menunggu pengisian selesai tanpa memutus sambungan pada baterai yang memang tidak memiliki proteksi setara BMS.

Modifikasi yang tidak diimbangi komponen penyerta

Bagi pemilik yang gemar melakukan modifikasi performa, risikonya bisa meningkat jika upgrade dilakukan tanpa dukungan komponen penyerta yang tepat. Upgrading kapasitas baterai dan controller besar dapat membuat arus yang mengalir menjadi lebih besar, sehingga sistem kelistrikan harus mampu menanggung beban tersebut.

Hernest menjelaskan masalah yang sering terjadi pada kabel. “Baterai upgrade , controller upgrade , tapi kabel fasenya tidak didukung dengan yang kuat. Arus yang keluar sudah gede, tapi kabelnya masih kecil bawaan pabrik standar 300 watt. Itu bisa menyebabkan panas, kabel meleleh, dan merusak sistem kelistrikan,” jelas Hernest.

Ia menambahkan bahwa penyambungan sel baterai kustom yang dilakukan secara asal juga rawan lepas dan dapat merusak koneksi arus di dalam boks baterai. Pemilik yang ingin meningkatkan performa kendaraan tetap perlu memahami bahwa perubahan komponen harus mempertimbangkan kompatibilitas teknis, bukan hanya mengganti kapasitas atau kontrolnya saja.

“Menggunakan kendaraan EV itu sebenarnya sangat menyenangkan, tapi harus dirawat dengan benar dan tahu cara kerjanya agar baterai bisa bertahan jauh lebih lama,” kata Hernest.

Dengan memahami penyebab-penyebab tersebut, perawatan baterai dapat dilakukan lebih tepat: menunggu baterai turun dari panas setelah penggunaan, menjaga daya agar tidak terlalu rendah, memahami karakter jenis baterai yang dipakai, serta memastikan modifikasi tidak mengorbankan aspek keselamatan dan kelistrikan.