jurnalistik.co.id – Dalam wawancara eksklusif pertamanya sebagai perdana menteri, Andy Burnham menyampaikan bahwa pertemuan pertamanya dengan Donald Trump berjalan baik dan hangat, serta menegaskan perlunya membela “national interest” Inggris tanpa ragu.
Burnham mengatakan ia telah memiliki “good first exchange” dengan Trump dan menilai presiden AS tersebut “really warm”. Ia kemudian ditanya dua kali apakah ia akan mempercayai Trump, namun Burnham tidak memberi jawaban tegas yang mengunci pilihan pada satu posisi.
Ketika ditanya soal kepercayaan, Burnham menjawab, “it’s a changing world isn’t it, and you just obviously have to call things as they develop”. Pernyataan itu ia gunakan untuk menegaskan bahwa sikapnya tidak akan otomatis disamakan dengan pandangan Trump, melainkan akan menilai perkembangan yang terjadi.
Dalam wawancara yang akan disiarkan penuh pada Senin, Burnham menambahkan bahwa ia tidak akan mengunci diri pada satu pandangan saja. Ia menyatakan, “I can’t at any point say that I won’t take a different opinion from him [Trump], that I will need to voice a different idea that is right for Britain.”
Interaksi politik dan prinsip membela kepentingan nasional
Burnham menempatkan kedekatan dengan masyarakat sebagai salah satu kekuatannya dalam peran barunya. Ia berkata, “My strength is remaining close to people, close to the public, that will not change as prime minister.”
Ketika ditanya secara spesifik apakah ia akan menegur Trump “if it was the right thing”, Burnham menjawab, “of course”. Ia lalu menekankan prinsip yang sama dengan menyatakan, “You have to defend your own national interest before anything else. That’s what you’re required to do if you’re to do this job properly.”
Burnham juga menyatakan adanya “concern” terkait langkah Trump dalam memulai konflik dengan Iran. Menurutnya, ia tidak akan menahan diri untuk menyampaikan penilaiannya sendiri.
Ia menegaskan, “I wouldn’t hold back from saying what I think is right”. Pernyataan itu menggambarkan bahwa ia memandang kritik atau koreksi diperlukan bila tindakan presiden AS dinilai tidak selaras dengan kepentingan Inggris.
Berita Terkait
Komitmen belanja pertahanan dan perdebatan target 3% GDP
Di sisi kebijakan pertahanan, Burnham tidak memberikan kepastian tentang kapan pemerintah akan mencapai target belanja pertahanan sebesar 3% dari GDP. Ia merujuk pada konteks sebelumnya ketika menteri keuangan John Healey mengundurkan diri dari pemerintahan sebelumnya.
Healey, menurut Burnham, mengundurkan diri karena berpandangan bahwa tanpa komitmen mencapai angka tersebut pada 2030, negara tidak akan aman. Burnham kemudian menegaskan bahwa ia menyadari posisi Healey saat memilih menteri keuangan baru.
Burnham mengatakan, “I appointed my new chancellor very aware of what he had said about the critical importance of defence spending and the position that he had taken about that.”
Ia menambahkan fokus awal yang harus dikerjakan bersama adalah memastikan rencana investasi pertahanan benar-benar dibiayai penuh. Burnham berkata, “The first challenge facing us both is to ensure that the defence investment plan is fully funded and that’s the thing that’s right in front of us and we need to work that through as we go towards the budget later this year.”
Saat ditanya lagi mengenai komitmen meningkatkan belanja pertahanan menjadi 3% dari GDP, Burnham kembali mengulang pendekatan yang lebih menekankan langkah operasional. Ia menyatakan, “We’ve got to work out the way of doing that.”
Penentuan arah politik hingga pemilu
Selain isu pertahanan dan hubungan luar negeri, Burnham juga menanggapi spekulasi mengenai kemungkinan pemilihan umum lebih cepat. Ia untuk pertama kalinya secara eksplisit menolak gagasan pemilu umum lebih awal sebelum 2029.
Burnham menyampaikan, “I’m going to rule it out… I don’t think people want it.” Ia kemudian menegaskan agenda fokus yang ingin ia jalankan. Burnham menyatakan bahwa perhatiannya adalah “getting the country back where it should be”.
Wawancara lengkap dengan Burnham dijadwalkan dapat ditonton melalui BBC iPlayer pada Senin sejak pukul 06:00, serta di acara Panorama di BBC One pada Senin pukul 20:00 BST.












