jurnalistik.co.id – Festival Jajan Gratis untuk memeriahkan HUT RI ke-81 di Pekalongan berlangsung tanpa panggung besar, melainkan di sepanjang jalan kampung yang berubah menjadi ruang berkumpul warga.
Di Dukuh Tambor, Desa Nyamok, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, ibu-ibu rumah tangga RT 10 RW 05 sejak pagi sudah memulai pekerjaan rumah masing-masing.
Di satu rumah, adonan kue disiapkan. Di tempat lain, jajanan pasar digoreng. Sebagian yang lain memotong bahan makanan untuk dibawa dan dibagikan malam hari.
Mereka menyiapkan semuanya agar saat malam tiba, ratusan pengunjung bisa mendapatkan santapan secara gratis, dengan suasana yang akrab dan serba gotong royong.
Rabu (19/8/2026) malam, jalan kampung di Dukuh Tambor kemudian dipenuhi kerumunan. Lengkungan lampu warna-warni memberi warna tersendiri pada suasana festival.
Warga datang dengan berbagai wadah, mulai dari mangkuk hingga gelas atau tempat makanan. Anak-anak ikut menyelinap di antara keramaian, sementara orang dewasa berjalan dari satu stan ke stan lain.
Dari balik meja-meja panjang, emak-emak melayani pengunjung yang datang silih berganti. Puluhan jenis makanan dan jajanan tersaji berjajar, membentang dari satu ujung jalan hingga ujung lainnya.
Jaraknya hampir 300 meter dengan total 75 stan yang disiapkan oleh warga. Semua hidangan yang dipajang di sana dibagikan tanpa dipungut biaya.
Di antara menu yang tersedia ada bakso, soto, mi ayam, gulai kambing, opor ayam, hingga dimsum. Selain itu, ada juga beragam jajanan pasar yang disusun agar mudah diambil dan dibagikan.
Walau keramaian terlihat menonjol, ada cerita panjang di balik terselenggaranya festival tersebut. Kekompakan yang tampak di jalan kampung rupanya dibangun jauh hari, bukan dilakukan mendadak menjelang hari H.
Indah Verawati (42), salah satu warga RT 10 RW 05, menyebut persiapan berlangsung sekitar satu bulan sebelum acara digelar.
Menurutnya, sejak masa itu ibu-ibu mulai membahas rencana menu yang akan dibawa masing-masing keluarga.
Berita Terkait
Pembahasan tersebut dilakukan lewat paguyuban warga RT 10 yang rutin digelar setiap tanggal 20. Dengan pola pertemuan yang terjadwal, mereka bisa mengatur pembagian kerja dan memastikan ketersediaan makanan saat festival berlangsung.
“Kita setiap bulannya ada pertemuan ibu-ibu RT 10. Pelaksanaannya dibantu bapak-bapak dan pemuda, semua saling sokong, gotong royong,” kata Indah saat ditemui seusai festival.
Dalam kegiatan itu, sekitar 45 ibu RT 10 terlibat langsung. Mereka tidak bekerja sendirian, melainkan berkoordinasi dengan warga lain agar setiap kebutuhan acara tertangani.
Para bapak dan pemuda membantu dari sisi yang berbeda, mulai dari menyiapkan perlengkapan, menata meja, hingga memastikan rangkaian kegiatan berjalan lancar sepanjang malam.
Sementara urusan makanan sebagian besar dikerjakan dari rumah masing-masing, dengan berbagai persiapan sesuai menu yang ditentukan sejak diskusi awal.
Ketika festival dimulai, hasil dari persiapan itu terlihat jelas pada variasi sajian yang disediakan. Pengunjung dapat memilih menu dari deretan stan, lalu membawa kembali makanan sesuai kebutuhan masing-masing.
Situasi di jalan kampung berlangsung meriah, namun tetap terjaga dalam pola layanan yang rapi. Setiap meja menjadi titik bagi warga untuk mendapatkan jatah, sambil tetap memberi ruang bagi antrean yang tertib.
Ribuan porsi jajanan yang disiapkan warga ludes diserbu pengunjung. Usai keramaian mereda, emak-emak berkumpul untuk evaluasi dan sekaligus memberi apresiasi pada diri mereka sendiri.
Langkah seperti itu dinilai membuat kelompok ibu-ibu di RT 10 semakin kuat dan solid, karena pengalaman selama persiapan maupun pelaksanaan menjadi pelajaran untuk pertemuan berikutnya.
Dengan jarak hampir 300 meter dan 75 stan yang terisi, festival ini juga menunjukkan bagaimana perencanaan sederhana yang konsisten bisa berujung pada acara besar versi kampung.
Kerja dapur yang dimulai sejak pagi, diskusi bulanan pada tanggal 20, serta bantuan bapak-bapak dan pemuda bertemu pada satu tujuan yang sama: menyemarakkan HUT RI ke-81 lewat sesuatu yang dekat dengan keseharian warga.
Pada akhirnya, Festival Jajan Gratis bukan sekadar soal makanan yang dibagikan. Kegiatan itu menjadi cara warga RT 10 RW 05 di Pekalongan untuk menguatkan hubungan, membangun kepercayaan antarpeserta, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang dilakukan bersama-sama.












