Daerah

Idah Syahidah Rusli Tutup Gorontalo Bercerita, Tekankan Pengaderan Seni dan Budaya

×

Idah Syahidah Rusli Tutup Gorontalo Bercerita, Tekankan Pengaderan Seni dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tutup Gorontalo Bercerita, Wagub Tekankan Pentingnya Regenerasi Seni dan Budaya

jurnalistik.co.id – Gorontalo Bercerita yang menjadi side event Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 resmi ditutup di Atrium City Mall Gorontalo pada Minggu (13/9/2026). Penutupan itu dihadiri Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie.

Dalam kesempatan tersebut, Idah menilai Gorontalo Bercerita tidak sekadar berfungsi sebagai ajang kompetisi. Kegiatan ini dipandang sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan pada seni dan budaya daerah.

Idah menyampaikan bahwa aktivitas bercerita berperan dalam melatih beberapa aspek perkembangan anak. Melalui kegiatan tersebut, anak dinilainya dapat menguatkan imajinasi, daya ingat, empati, serta keberanian saat menyampaikan gagasan di hadapan orang lain.

“Perhatian pemerintah terhadap anak bangsa salah satunya diwujudkan dengan meningkatkan imajinasi, daya ingat, dan empati melalui kegiatan Gorontalo Bercerita,” kata Idah.

Menurut Idah, keberanian anak untuk tampil dan berbicara di depan banyak orang bukan sesuatu yang mudah. Karena itu, kegiatan semacam Gorontalo Bercerita dinilai penting untuk membangun rasa percaya diri, sekaligus mendorong komunikasi yang lebih terbuka antara anak dan orang tua.

“Tidak mudah untuk bercerita, tidak mudah untuk berdiri di sini dan menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kita. Karena itu, saya mengapresiasi anak-anak yang sudah berani tampil,” ujarnya.

Lebih lanjut, Idah menekankan perlunya regenerasi sebagai cara menjaga keberlangsungan kearifan lokal Gorontalo. Ia menilai berbagai bentuk seni dan budaya daerah perlu dikenalkan sejak dini agar memiliki generasi penerus yang siap melanjutkan.

“Kalau kita tidak melakukan pengaderan dan tidak melatih anak-anak kita, kearifan lokal yang Gorontalo miliki bisa punah karena tidak ada yang meneruskan,” tegasnya.

Sebagai contoh, Idah menyinggung keterlibatan Mokarawo Kolosal yang melibatkan sekitar 300 pelajar se-Provinsi Gorontalo. Ia menyebutkan pula bahwa sejumlah anak sekolah dasar sudah mulai belajar menyulam karawo.

Idah juga mendorong agar keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan seni dan budaya terus diperluas. Upaya pengaderan, menurutnya, menjadi bagian penting agar pengetahuan dan praktik budaya tidak berhenti pada satu kelompok usia saja.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe menjelaskan bahwa Gorontalo Bercerita merupakan salah satu side event GKK 2026. Kegiatan ini telah melalui tahap penyisihan pada pekan sebelumnya.

Sultan menyampaikan, dari total 126 peserta, sebanyak kurang lebih 35 peserta tampil pada babak final. Ia menjelaskan bahwa Gorontalo Bercerita tersusun atas empat kategori, yakni storytelling, baca puisi tingkat sekolah dasar, Mokarawo Digital, dan fotografi.

Untuk kategori storytelling, pesertanya berasal dari jenjang TK hingga SMA. Materi yang dibawakan berkaitan dengan pariwisata, budaya, serta berbagai potensi Gorontalo.

Sementara itu, lomba fotografi diikuti fotografer Gorontalo dengan tema pariwisata dan pelaksanaan GKK 2026. Rangkaian kategori tersebut menggambarkan keterlibatan berbagai lapisan usia dan bidang kreativitas dalam satu momentum kegiatan.

Penutupan Gorontalo Bercerita pada 13/9/2026 itu menjadi penegasan bahwa pembinaan kemampuan anak dapat berjalan beriringan dengan penguatan identitas budaya. Dengan adanya proses penyisihan hingga final, kegiatan ini juga menunjukkan adanya ruang penampilan bagi peserta setelah tahapan seleksi yang telah dilalui sebelumnya.

Menurut Idah, kegiatan Gorontalo Bercerita juga mempertemukan tujuan pembinaan anak dengan penguatan nilai budaya lokal. Lewat latihan tampil, anak dilatih untuk menyampaikan gagasan secara lebih terarah, sekaligus belajar membangun kedekatan komunikasi dengan orang tua.

Ia menilai, upaya pengaderan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan seni dan budaya daerah tidak berhenti pada satu generasi. Keterlibatan pelajar dalam contoh Mokarawo Kolosal yang melibatkan sekitar 300 pelajar menjadi bukti adanya peran banyak pihak dalam menjaga tradisi tetap hidup.

Di kesempatan yang sama, Sultan Kalupe menambahkan bahwa rangkaian Gorontalo Bercerita melibatkan 126 peserta dan memilih kurang lebih 35 peserta untuk tampil pada babak final. Dengan empat kategori—storytelling, baca puisi SD, Mokarawo Digital, serta fotografi—kegiatan ini memberi ruang ekspresi bagi berbagai minat serta jenjang usia dalam satu momentum GKK 2026.