jurnalistik.co.id – Dinas Kominfotik merilis hasil survei pendengar Radio Suara Rakyat Hulondalo (SRH) pada Jumat (30/10/2026). Survei ini dijadikan pijakan awal untuk rebranding sekaligus arah pembaruan siaran radio yang berstatus Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL).
Rilis survei disampaikan dalam kegiatan Diklat PIM III. Kepala Bidang PISKP Leisyawati Ali memaparkan temuan penelitian di Zarona Cafe, Kota Gorontalo.
Dalam pemaparannya, Trizal Entengo selaku Kepala Dinas Kominfotik menjelaskan bahwa hasil survei menjadi dasar transformasi Radio SRH. Ia berharap radio tersebut semakin diterima di ruang publik.
Trizal menyampaikan apresiasi atas proses transformasi yang sedang berjalan. Pernyataan tersebut ia sampaikan langsung dalam kegiatan pemaparan hasil survei, yakni: “Oleh sebab itu, sebagai Direktur Utama Radio SRH saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Kepala Bidang PISKP Ibu Leisyawati Ali yang menjadikan transformasi Radio SRH sebagai proyek perubahan Diklat PKA Tingkat III,” Kata Trizal.
Tujuan survei dan karakter responden
Di lokasi yang sama, Leisyawati Ali yang juga menjabat sebagai Direktur SRH menjelaskan, survei dilakukan untuk memetakan berbagai aspek kebutuhan pendengar. Fokus pengukuran mencakup karakteristik responden, kebiasaan mendengarkan radio, serta kebutuhan informasi yang selama ini dicari audiens.
Pemantauan juga menyasar preferensi program dan musik, minat interaksi dari pendengar, hingga harapan terhadap pembaruan siaran dan pengembangan konten digital. Dengan begitu, radio dapat menyusun pembenahan yang lebih sesuai dengan kebiasaan audiensnya.
Elis menegaskan bahwa analisis yang disajikan bersifat deskriptif berdasarkan jumlah responden yang terkumpul. “Analisis ini bersifat deskriptif terhadap 246 respon yang kami survei baik yang mengisi melalui tautan atau yang kami datangi langsung,” Jelas perempuan yang akrab disapa Elis itu.
Preferensi pendengar terhadap siaran
Berita Terkait
Menurut hasil yang dipaparkan, mayoritas pendengar menginginkan program siaran yang bersifat interaktif. Dari sisi tema, audiens cenderung mengutamakan konten yang menaruh fokus pada berita daerah.
Selain berita daerah, pendengar juga menunjukkan kebutuhan terhadap hiburan serta layanan publik. Komposisi kebutuhan tersebut menjadi sinyal bahwa pembaruan siaran tidak hanya berkutat pada informasi, tetapi juga harus hadir dengan format yang lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari pendengar.
Dari aspek media siaran, responden juga menyampaikan harapan agar Radio SRH menyediakan akses digital. Artinya, siaran tidak hanya mengandalkan jalur konvensional, melainkan perlu tersedia dalam bentuk yang bisa dijangkau melalui kanal digital.
Temuan lain yang disoroti dalam survei terkait persentase keinginan audiens terhadap perubahan. “Beberapa poin penting lain 78,8 persen responden menginginkan perubahan atau rebranding siaran termasuk 80,8 persen menginginkan program siaran digital,” Bebernya.
Konsolidasi internal untuk merumuskan pola siaran baru
Setelah pemaparan hasil survei, pihak penyelenggara menyatakan akan melakukan konsolidasi internal. Konsolidasi tersebut diarahkan untuk merumuskan pola baru siaran Radio SRH sesuai hasil kajian yang telah dikumpulkan.
Langkah lanjutan yang disebutkan meliputi penentuan logo baru serta slogan baru radio. Penyesuaian juga akan mencakup segmentasi pendengar agar komunikasi program lebih tepat sasaran.
Selain pembenahan identitas, konsolidasi juga digunakan untuk menyusun ulang isi siaran serta menentukan media penyiaran. Dengan perombakan yang terarah, pembaruan radio diharapkan dapat menjawab preferensi audiens, baik dari sisi topik maupun cara pendengar mengakses siaran.
Dengan demikian, hasil survei pendengar Radio SRH pada 30 Oktober 2026 menempatkan suara audiens sebagai rujukan utama. Dari pemetaan karakter responden hingga preferensi program digital, temuan tersebut diharapkan menjadi modal awal untuk transformasi yang lebih relevan dan berkelanjutan bagi radio LPPL tersebut.












