jurnalistik.co.id – Ritual adat pati ka du’a bapu ata mata, atau pemberian makan kepada leluhur, dijadwalkan digelar Jumat (14/8/2026) di kawasan wisata Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ritual ini dipandang sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur masyarakat adat Suku Lio.
Menurut Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Heru Rudiharto, rangkaian kegiatan akan berlangsung di Sa’o Ria, yakni tempat yang disakralkan oleh masyarakat adat setempat.
Heru menjelaskan, aktivitas ritual dijadwalkan dimulai pukul 07.00 Wita dan biasanya selesai pukul 03.00 Wita.
“Kegiatan dimulai pukul 07.00 Wita, dan biasanya selesai pukul 03.00 Wita,” ujar Heru saat dihubungi pada Kamis (13/8/2026).
Dalam prosesi tersebut, ritual dipimpin para Mosalaki, yakni tokoh adat penyangga kawasan Taman Nasional Kelimutu. Kehadiran para pemangku adat menjadi bagian penting dari penuntasan tahapan-tahapan yang diselenggarakan sesuai tata cara setempat.
Penutupan sementara akses wisata di area danau
Selama ritual berlangsung, aktivitas wisatawan di area danau ditutup sementara. Kebijakan ini diterapkan untuk memberi ruang bagi prosesi yang melibatkan pergerakan para Mosalaki.
Heru mengatakan, pengunjung sebenarnya masih dapat mengikuti kegiatan, namun harus mematuhi aturan ruang saat prosesi sedang berlangsung.
“Sebetulnya tetap bisa berkunjung. Hanya pada saat ada iring-iringanan Mosalaki, pengunjung tidak boleh lalu lalang,” katanya.
Ia menambahkan, wisatawan yang ingin hadir dalam rangkaian kegiatan dapat menyaksikan ritual, tetapi ada kewajiban memakai pakaian adat Suku Lio.
Berita Terkait
Perempuan mengenakan Lawo Lambu, sementara laki-laki menggunakan sarung Ragi. Penyesuaian ini menegaskan bahwa partisipasi pengunjung ditempatkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ketentuan adat.
Danau Kelimutu dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena masyarakat Suku Lio meyakini arwah orang yang meninggal akan menuju kawasan danau tersebut. Keyakinan ini juga membedakan tujuan arwah berdasarkan karakter semasa hidupnya.
Masyarakat Lio mengenal tiga tempat yang dipercaya menjadi tujuan arwah. Tiwu Ata Bupu diperuntukkan bagi arwah orang tua, Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri untuk arwah muda-mudi, dan Tiwu Ata Polo untuk arwah orang yang semasa hidupnya banyak melakukan kejahatan terhadap manusia maupun alam.
Tahapan ritual dimulai dari Pere Konde
Ritual adat pati ka du’a bapu ata mata dimulai dari pintu masuk yang dalam bahasa adat disebut Pere Konde. Pada bagian awal ini, para Mosalaki melangsungkan ritual untuk meminta izin kepada Konde, yaitu ratu yang dipercaya sebagai leluhur.
Prosesi kemudian berlanjut menuju Sa’o Ria Tenda Bewa, yang dikenal sebagai rumah besar. Di tempat itu, dilakukan ritual mengenakan lesu yang disebut dengan pake sare nago mosalaki dai pu enga keli kepada Kepala Balai TN Kelimutu.
Setelah tahapan tersebut, para Mosalaki dan warga yang hadir mengelilingi batu yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur. Pada momen ini, mereka melafalkan syair adat yang berisi permohonan khusus untuk kesejahteraan masyarakat Ende-Lio.
Tahap berikutnya adalah penyajian sesajen yang menjadi bagian dari rangkaian permohonan. Sesajen berupa nasi merah, tuak atau moke (minuman tradisional), sirih pinang, hati, serta jantung babi yang telah dimasak diletakkan di atas batu sebagai bagian dari prosesi.
Dengan adanya penjadwalan dan aturan akses wisata selama prosesi, penyelenggaraan ritual pati ka du’a bapu ata mata diarahkan agar berjalan lancar dan aman, tanpa mengabaikan ketentuan yang mengatur pergerakan pengunjung di area danau.
Menurut penjelasan pejabat Balai Taman Nasional Kelimutu, rangkaian ritual adat pati ka du’a bapu ata mata disusun berurutan sesuai tata cara yang berlaku di lingkungan masyarakat setempat. Pada awalnya, para Mosalaki melakukan prosesi di Pere Konde sebagai bagian dari tahapan meminta izin kepada Konde, sebelum kegiatan berpindah ke rangkaian berikutnya di Sa’o Ria.
Dalam pelaksanaannya, penyelenggara juga menyiapkan pengaturan kegiatan agar prosesi berjalan tertib. Penutupan sementara aktivitas wisata di area danau dilakukan selama ritual berlangsung, namun pengunjung yang ingin menyaksikan tetap dapat mengikuti dengan mematuhi arahan ruang saat iring-iringan Mosalaki lewat. Ketentuan pakaian adat juga disebutkan, yaitu Lawo Lambu untuk perempuan dan sarung Ragi untuk laki-laki, sebagai wujud penghormatan terhadap aturan adat.












