jurnalistik.co.id – Karanganyar, Jawa Tengah, kembali menghadapi insiden pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah ditemukan daging ayam bermasalah di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jati, Kecamatan Jaten.
SPPG Jati memutus kerja sama dengan suplier penyedia ayam setelah menemukan 30 kilogram daging ayam yang dinilai bermasalah. Pihak dapur juga menarik distribusi MBG yang sempat diolah dan sebagian sudah disalurkan.
Temuan ini terjadi pada Rabu (12/8/2026). Kepala SPPG Jati, Abra Yodha Raya, menyebut penanganan dilakukan cepat agar makanan yang berpotensi tidak layak tidak terus didistribusikan.
“Kita cut ( suplier ), tidak pakai itu lagi,” kata Abra saat ditemui di dapur SPPG pada Kamis (13/8/2026) siang.
Abra menuturkan, dari pemeriksaan awal secara fisik, daging ayam tersebut tampak tidak menunjukkan masalah. Namun perubahan mulai terdeteksi ketika proses pengolahan memasuki sesi kedua.
Ia menerima laporan bahwa daging ayam yang dimasak mengeluarkan bau. Temuan bau ini menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan, termasuk melakukan evaluasi lanjutan sebelum makanan diserahkan kepada penerima.
Menurut Abra, total ada 10 orang termasuk dirinya yang sempat mencicipi makanan tersebut. Ia menjelaskan, dari seluruh yang mencicipi, hanya dirinya yang merasakan dampak lanjutan.
Dampak tersebut muncul berupa mual dan muntah, yang menurut Abra terjadi sekitar 30 menit setelah ia mencicipi makanan. Ia menambahkan bahwa ia menduga kondisinya saat itu sedang kurang fit sehingga efeknya lebih cepat dirasakan.
Abra juga mengungkapkan hasil pengamatan inderawi terhadap daging sebelum proses lanjut. Ia menyatakan bahwa ada kejanggalan pada bau, meski saat itu ia tetap merasakan rasa makanan.
Berita Terkait
“Dari uji organoleptik, aroma, rasa, tekstur dan bau itu memang ada yang aneh di bau. Tapi saya rasakan enak. Tapi kok setelah itu ada efek tadi,” ujarnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi yang dialaminya serta laporan soal bau pada tahap pengolahan, Abra memutuskan untuk menarik dan tidak mendistribusikan MBG yang diolah pada Rabu kemarin. Langkah tersebut diambil sebagai tindakan preventif untuk mencegah risiko yang sama terjadi pada penerima manfaat.
Berdasarkan penjelasan Abra, pihak SPPG telah menjalin kerja sama dengan suplier tersebut selama sekitar 3 bulan. Meski demikian, insiden daging ayam bermasalah baru kali ini muncul selama periode kerja sama itu.
Ia menegaskan pemutusan kerja sama dilakukan setelah kejadian teridentifikasi. Keputusan itu sekaligus memastikan suplier terkait tidak lagi memasok kebutuhan bahan makanan untuk proses MBG di SPPG Jati.
Dalam operasional berikutnya, Abra menyebut pendistribusian MBG kembali berjalan normal. Penarikan distribusi dilakukan hanya untuk bagian yang terkait dengan proses yang dinilai bermasalah, sementara kegiatan setelahnya kembali dilanjutkan.
SPPG Jati melayani 2.957 penerima manfaat. Penerima tersebut meliputi anak sekolah, ibu menyusui, ibu hamil, serta balita.
Dengan jumlah penerima yang besar, keputusan penarikan distribusi dan pemutusan suplier menjadi bagian penting dari upaya menjaga keamanan pangan. Abra menggambarkan bahwa prosedur kewaspadaan ditingkatkan begitu muncul laporan bau pada tahap pengolahan.
Ia juga menempatkan pengalamannya sebagai pertimbangan langsung dalam evaluasi. Meski secara fisik daging tampak tidak bermasalah pada awalnya, ia menilai indikasi keanehan pada bau tetap harus ditindaklanjuti.
Insiden ini memperlihatkan bahwa pengawasan pada proses dapur tidak berhenti pada pemeriksaan awal, tetapi juga mengikuti perubahan yang teramati selama proses memasak. Ketika tim mencium tanda yang dianggap janggal dan ada respon kesehatan setelah pencicipan, pihak dapur memilih melakukan tindakan korektif lebih tegas.
Saat ini, distribusi MBG di SPPG Jati kembali normal sesuai penuturan Abra. Pemutusan kerja sama dengan suplier menjadi langkah lanjutan agar sumber bahan yang digunakan selanjutnya tidak mengulang kejadian yang sama.












