jurnalistik.co.id – Di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Yan Budi Nugroho dikenal bukan lewat program besar, melainkan kebiasaan sederhana yang ia jalankan hampir setiap pagi. Ia, pegawai non-ASN di bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Pemerintah Kabupaten Purworejo, meluangkan waktu untuk menemani anak yatim dan dhuafa.
Setiap hari, setelah menunaikan salat Subuh, Yan tidak selalu langsung berangkat bekerja. Ia lebih dulu menyusuri jalan-jalan desa, kadang hingga belasan kilometer, untuk mendatangi rumah anak-anak yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perhatiannya.
Menurutnya, kunjungan itu bukan sekadar rutinitas kedinasan. Ia ingin memastikan anak-anak yang kehilangan orangtua tidak merasa sendirian, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk tetap merasakan kehangatan dari lingkungan sekitar.
Hingga kini, ada sekitar 30 anak yang secara rutin ia dampingi. Mereka tersebar di sejumlah desa dan kecamatan, sehingga jejak perhatian Yan tidak terhenti pada satu titik, melainkan bergerak mengikuti kebutuhan dan keberadaan para penerimanya.
Yan menggambarkan bahwa kebiasaan itu telah berjalan bertahun-tahun. “Ya sekarang kira-kira sudah 8 tahunan saya bersama anak-anak,” katanya pada Minggu (16/8/2026).
Perjalanan yang berujung pada pendampingan 30 anak berawal dari satu sosok. Ceritanya dimulai sekitar tahun 2018, saat Yan masih menjadi guru di sebuah sekolah dasar dan mulai mengenal seorang anak bernama Wahyu.
Wahyu merupakan anak yatim yang ayahnya meninggal ketika masih berada dalam kandungan. Ia juga tumbuh dalam keluarga yang kurang mampu, serta memiliki keterbatasan pada tangan akibat luka bakar ketika masih kecil.
Dalam kesehariannya, kondisi tersebut membuat Wahyu menjadi sasaran perundungan dari teman-temannya. Yan kemudian mendekati Wahyu secara perlahan, dengan cara yang tidak menuntut bentuk bantuan formal, tetapi menekankan kehadiran dan waktu untuk mendengar.
Tidak ada program besar yang dirancang pada awalnya. Yan juga tidak membuka proposal bantuan, melainkan memilih langkah yang bisa ia lakukan dari dekat.
Dalam periode awal, Yan memberikan uang jajan sekitar Rp500 hingga Rp1.000. Ia berusaha menjadi orang dewasa yang mau mendengarkan, dengan kebiasaan itu dilakukan hampir setiap hari selama sekitar dua tahun.
Dari satu anak, perhatian Yan perlahan berkembang. Warga sekitar mulai mengetahui aktivitasnya, lalu muncul pertanyaan dan permintaan agar anak-anak lain bisa ikut merasakan pendampingan yang sama.
Berita Terkait
“Ada yang bilang, ‘Mas, ponakan saya bisa ikut dibantu juga tidak?’” kata Yan. Respons yang berangkat dari percakapan warga itu kemudian membuat jumlah penerima bantuan bertambah bertahap.
Yan menyebut bahwa dari semula hanya Wahyu, jumlahnya meningkat menjadi tujuh anak, lalu 10, 14, 22, hingga akhirnya mencapai 30 anak. Proses bertambahnya nama bukanlah lewat penggalangan dana terbuka, melainkan melalui jejaring sosial yang tumbuh karena kepercayaan dan pengamatan langsung.
Dalam cerita Yan, tidak ada penggalangan yang disebarkan secara luas. Ia tidak membuka donasi secara terbuka, dan memilih menjaga agar kegiatan pendampingan tetap berjalan dengan cara yang ia pahami dan ia kuasai.
Selama delapan tahun lebih, Yan menilai nilai utamanya berada pada kehadiran: mendampingi, mendengar, dan memastikan anak-anak tidak kehilangan rasa aman. Ia tidak membangun gedung besar, dan tidak mendirikan lembaga dengan struktur megah; perhatian itu, menurut kisahnya, dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Pada fase berikutnya, upaya Yan juga mendapat pengakuan. Ia disebut memperoleh apresiasi dari Dompet Dhuafa setelah inisiatifnya dikenal.
Penghargaan yang ia terima datang melalui ajang Indonesia Dream Festival 2026 di Jakarta. Pada kesempatan itu, Yan mendapatkan BesTeam Award 2026 atas inisiatif Warung Sembako Gratis untuk Anak Yatim.
Dalam penjelasan penghargaan tersebut, BesTeam Award 2026 diberikan kepada individu, komunitas, perusahaan, maupun figur publik yang dinilai memiliki kepedulian dan kontribusi nyata terhadap kesejahteraan anak-anak yatim.
Namun, bagi Yan, penghargaan bukan tujuan utama. Ia menekankan bahwa niat menolong seharusnya muncul dari dorongan batin yang sederhana, bukan dari kebutuhan untuk dipuji.
“Kalau ingin berbuat baik, ya lakukan saja. Jangan takut memulai. Dari satu kebaikan akan lahir kebaikan-kebaikan lainnya,” ujar Yan. Kalimat itu sekaligus menjadi ringkasan cara pandangnya: bergerak dari satu langkah kecil, lalu membiarkan kebaikan berkembang bersama waktu.
Di Purworejo, kebiasaan itu tampak terus berulang. Setelah Subuh, Yan datang, menyapa, dan memberi perhatian yang bisa dirasakan langsung oleh anak-anak binaannya. Dengan jejak kunjungan yang konsisten dan pendampingan yang bertahan bertahun-tahun, ia hadir sebagai figur yang tidak hanya memberi, tetapi juga menemani.
Di tengah keterbatasan sebagai pegawai non-ASN, Yan tetap memilih jalan yang memungkinkan ia terus menjaga komitmen. Ia tidak menunggu bantuan dalam jumlah besar, melainkan mengerjakan hal yang bisa ia mulai dari rumah ke rumah, hingga jumlah penerima yang ia dampingi tumbuh dari satu menjadi tiga puluh anak.
Kisah Yan Budi Nugroho menunjukkan bahwa perhatian yang terukur dan berkelanjutan dapat muncul dari lingkungan sendiri. Di Purworejo, dari pinggiran, ia ikut menyalakan harapan bagi anak yatim dan dhuafa—dengan cara yang ia jalankan setiap pagi.












