Olahraga

Dari Inggris 1966 sampai debut Piala Dunia Messi dan Brasil 1970: BBC Sport merangkum final Piala Dunia terbaik

×

Dari Inggris 1966 sampai debut Piala Dunia Messi dan Brasil 1970: BBC Sport merangkum final Piala Dunia terbaik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: England 1966? Messi's first? Pele and 1970 Brazil? Ranking the best World Cup finals

jurnalistik.co.id – Setiap final Piala Dunia punya status “ikon”, karena selalu menentukan dan meninggalkan jejak yang panjang setelah peluit akhir. BBC Sport mencoba membuat daftar final terbaik dengan menimbang berbagai sisi seperti gol, drama, figur kunci di puncak karier, serta alur cerita yang paling membekas.

Dalam penilaian Alex Bysouth, ia berupaya menangkap bahwa “yang terbaik” tidak hanya ditentukan oleh satu faktor. Ia kemudian merangkum sepuluh partai final yang, menurutnya, paling kuat menghadirkan narasi sekaligus warisan bagi sepak bola.

Final terbaik menurut BBC Sport

Final pertama yang masuk daftar adalah Brasil 2-0 Jerman pada 2002. Meski tidak terasa paling dramatis sebagai laga tunggal, final itu sarat cerita: musim panas yang berubah menjadi “momen penebusan” Ronaldo setelah empat tahun sebelumnya.

Empat tahun itu dipenuhi trauma setelah Brasil kalah oleh Prancis di fase final empat tahun lalu, sekaligus masalah cedera yang hampir mengancam karier Ronaldo di antara dua Piala Dunia. Di Korea/Jepang, Ronaldo hanya tampil dalam beberapa pertandingan untuk Inter Milan, tetapi di turnamen ini ia kembali ke performa golnya yang tepat.

Ronaldo mencetak dua gol pada babak kedua, dan Brasil menutup perlawanan Jerman di Stadion Yokohama. Di stadion itu, tak ada yang benar-benar menjagokan Selecao untuk tetap memenangi Piala Dunia lagi setelah jeda panjang yang selalu dipertanyakan oleh publik.

Nomor berikutnya adalah Italia 1-1 Prancis (5-3 penalti) pada 2006. Final ini dikenang karena gambar Zinedine Zidane berjalan melewati trofi Piala Dunia, tetapi dengan cara yang justru tidak ia harapkan.

Di partai puncak Berlin itu, Zidane sudah tampil cemerlang dan bahkan pernah “menggagalkan” Gianluigi Buffon lewat eksekusi Panenka pada final, hanya saja kali ini ia justru harus berakhir pada insiden besar.

Marco Materazzi menjadi tokoh sentral yang mengubah ritme laga. Ia menyamakan kedudukan lewat sundulan yang memanfaatkan umpan sudut Andrea Pirlo kurang dari 20 menit setelah Florent Malouda lebih dulu mencetak gol bagi Prancis.

Namun, kontribusi Materazzi yang paling diingat adalah reaksi yang ia picu dari Zidane. Zidane melakukan headbutt ke dada Materazzi, dan itu menjadi momen penentunya sekaligus tindakan terakhir Zidane sebagai pemain, karena ia mengumumkan pensiun usai Piala Dunia.

Setelah insiden itu, Zidane berjalan meninggalkan lapangan dan Italia akhirnya menang lewat adu penalti. Materazzi tentu saja menjadi pencetak gol dari titik putih tersebut.

Lanjutan daftar membawa kita ke West Germany 2-1 Netherlands pada 1974. BBC Sport menyebut Belanda seharusnya “waktunya”, karena Johan Cruyff dan kolektifnya mempesona sepanjang turnamen dengan pendekatan Total Football yang revolusioner.

Menjelang final, Oranje terlihat sangat percaya diri. Bahkan, ada keluhan bahwa media lokal mencoba mengganggu mereka, sementara cerita tentang pesta di hotel yang disebut di surat kabar Bild turut menambah bumbu narasi.

Di Olympiastadion Munich, gol cepat membuat West Germany unggul lebih dulu. Cruyff sempat menuntun bola dengan lari memutar yang khas sebelum ia dijatuhkan oleh Uli Hoeness, dan Johan Neeskens mengonversi peluang itu menjadi gol dari titik putih.

Namun tuan rumah punya rencana lain. Paul Breitner membalas lewat gol dari titik penalti, dan pada babak pertama West Germany sudah memimpin melalui Gerd Müller, sehingga Belanda tak mampu bangkit hingga akhir laga.

Empat tahun berselang, tanpa Cruyff, Belanda kembali ke final pada 1978. Kali ini, mereka kalah dari Argentina pada tambahan waktu, di bawah hamparan pita tisu Buenos Aires.

Nomor 7 adalah West Germany 3-2 Hungary (1954), sebuah final yang lahir dari kepercayaan besar pada “Magical Magyars”. BBC Sport menyoroti bahwa Hungaria datang sebagai favorit dengan bintang seperti Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, dan Ferenc Puskas.

Di tahun itu, Hungaria juga mengalahkan Inggris di Wembley pada tahun sebelumnya dan membukukan kemenangan 7-1 atas lawan yang sama sebelum turnamen dimulai. Mereka juga menyandang status juara Olimpiade, serta tidak terkalahkan dalam lebih dari 30 pertandingan, dengan rentang yang mencapai lima tahun.

Selain itu, Hungaria mencetak rata-rata 6,25 gol per pertandingan menuju final dan menghajar West Germany 8-3 pada fase grup, tepat tim yang akan mereka hadapi di partai penentuan.

Namun, final berjalan tak sesuai ekspektasi. Hungaria mencetak keunggulan 2-0 dalam delapan menit pertama melalui Pukas dan Zoltan Czibor, sebelum West Germany menyamakan kedudukan 10 menit berselang.

BBC Sport menulis bahwa Golden Team bahkan “bertahan entah bagaimana”, ketika upaya mereka mengenai mistar, menyentuh balok kayu gawang, dan beberapa peluang lagi masih bisa diblok di garis pertahanan. Lalu pada enam menit terakhir, Helmut Rahn mencetak gol kemenangan yang mengejutkan.

Gol itu kemudian dikenal sebagai “The Miracle of Bern”.

Berikutnya adalah Argentina 3-2 West Germany (1986), yang oleh BBC Sport digambarkan sangat terasa sebagai turnamen milik Diego Maradona. Di sepanjang final itu, Lothar Matthaus berusaha menempel ketat Maradona, tetapi Argentina tetap membuka keunggulan.

Argentina memulai dengan dua gol lebih dulu. Jose Luis Brown mencetak pembuka, lalu Jorge Valdano menutup serangan balik cepat pada babak kedua.

Namun, keunggulan itu semestinya bisa bertambah jika West Germany tak menemukan ruang. Saat mereka bangkit, Karl-Heinz Rummenigge menyusupkan bola pada menit ke-74, dan Rudi Voller menyamakan kedudukan tak lama setelahnya lewat skenario dari sepak pojok.

Meski demikian, BBC Sport menekankan bahwa final diputus oleh “momen Maradona”. Dengan enam menit tersisa, umpan terobosan luar biasa dari Maradona yang dilepaskan dengan half-volley langsung membuat Jorge Burruchaga berlari dan mencetak gol kemenangan.

Nomor 5 adalah France 3-0 Brazil (1998). BBC Sport mengingat bahwa ini adalah waktu ketika Prancis belum pernah menjadi pemegang trofi terbesar Piala Dunia, meski reputasi modern mereka sekarang sangat kuat.

Pada 1998, turnamen digelar untuk pertama kalinya di kandang Prancis dalam 60 tahun. Dalam skuadnya ada pemain beragam latar, termasuk Zinedine Zidane yang menjadi pusat karena hadirnya generasi kedua dari imigran Aljazair.

BBC Sport mengutip pernyataan Lilian Thuram yang menegaskan makna simbolik skuad tersebut: “That all of these players from these different backgrounds could represent France and go on and win, that was a very powerful message to send out to society.”

Di lapangan, para bintang Prancis tampil memikat. Tetapi final juga dikenang karena hiruk-pikuk menjelang laga yang berpusat pada figur terbaik di dunia kala itu, Ronaldo, striker Brasil.

Ronaldo mengalami convulsion lebih awal pada hari yang sama, tetapi ia tetap diberi lampu hijau untuk memulai bersama Mario Zagallo. Meski demikian, ia tidak berada di performa terbaiknya.

Prancis akhirnya menang nyaman 3-0, dengan Zidane mencetak dua gol dan Emmanuel Petit menutup dengan gol ketiga di menit akhir.

Bagian berikutnya membahas Brazil 5-2 Sweden (1958), yang bagi BBC Sport menjadi penegasan legenda Pele. Di usia remaja, Pele sudah menjadi bintang di Brasil, tetapi ia baru benar-benar meledakkan namanya di panggung sepak bola internasional saat Piala Dunia 1958 di Swedia.

Pele datang dengan cedera lutut, lalu mencetak gol saat melawan Wales dan kembali menambah gol pada babak kedua melalui hat-trick ketika menghadapi Prancis di semifinal. Dengan begitu, reputasinya makin mengunci statusnya sebelum final.

Di partai penentuan, Pele yang berusia 17 tahun dan memakai nomor 10 di baju biru buatannya mencetak dua gol dalam kemenangan 5-2, sekaligus menjadi final Piala Dunia dengan skor tertinggi yang tercatat. BBC Sport menuliskan bahwa gol pertamanya termasuk salah satu yang paling hebat di semua waktu.

Gol itu lahir dari penerimaan bola di dada, lalu ia melambungkannya melewati seorang bek sebelum akhirnya melakukan volley ke sudut bawah. Brasil meraih trofi Piala Dunia pertamanya, dan BBC Sport mengaitkan momen itu dengan janji Pele kepada ayahnya setelah “Maracanazo” pada 1950, ketika Uruguay mengejutkan Brasil di Rio.

BBC Sport mengutip kisah yang Pele ceritakan kepada FIFA: “I remember seeing him sitting next to the radio, sobbing,” dan “And he said to me, ‘Brazil have lost the World Cup’.” Ia menambahkan, “I remember jokingly saying to him, ‘Don’t cry, dad – I’ll win the World Cup for you’.”

Nomor 3 di daftar adalah England 4-2 West Germany aet (1966). BBC Sport menyebut bahwa ini tetap menjadi puncak kejayaan The Three Lions, enam dekade setelah peristiwa itu berlalu.

Komentator Kenneth Wolstenholme dikenang, dan BBC Sport menegaskan Sir Geoff Hurst tetap satu-satunya pemain yang mencetak hat-trick di final Piala Dunia bagi tim pemenang. Laga itu sendiri penuh drama karena Inggris sempat tertinggal lewat gol Helmut Haller sejak awal.

Setelah itu, Inggris tampak mengunci kemenangan berkat gol Hurst dan Martin Peters, tetapi Wolfgang Weber menyamakan pada menit ke-89. Di babak perpanjangan waktu, Hurst kembali tampil sebagai pembuat sejarah: ia menjebol gawang dari mistar—dengan kontroversi—lalu menyelesaikan hat-trick dengan gol ketiga sekaligus membawa Inggris unggul.

BBC Sport juga mengutip kalimat ikonik “Some people are on the pitch…”.

Terakhir, nomor 2 adalah Argentina 3-3 France (4-2 pens) (2022). BBC Sport menilai ini sebagai momen penentu bagi Lionel Messi, yang disebut tak bisa dipahami sebagai pemain terhebat tanpa trofi Piala Dunia di namanya, baik dalam persepsi global maupun di Argentina.

BBC Sport menjelaskan bahwa narasi tentang Messi juga bersinggungan dengan warisan Diego Maradona. Final itu berakhir 3-3 sebelum adu penalti, dengan kemenangan Argentina 4-2 lewat eksekusi penalti.

Dengan rangkaian final yang mencakup berbagai era—dari 1950-an hingga era modern—BBC Sport ingin memperlihatkan bahwa ukuran “final terbaik” selalu bertumpu pada kombinasi konteks, figur, dan momen yang tak mudah dilupakan.