Olahraga

Jangan lewatkan: Playoff Juara Tiga World Cup 2026 Inggris vs Prancis tetap layak ditonton

×

Jangan lewatkan: Playoff Juara Tiga World Cup 2026 Inggris vs Prancis tetap layak ditonton

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Why you should still care about England v France third-place play-off

jurnalistik.co.id – Harapan timnas Inggris di Piala Dunia 2026 kembali berakhir di babak semifinal. Setelah kekalahan menyakitkan dari Argentina, Inggris memang masih harus menunggu lama untuk meraih gelar mayor putra pertama sejak 1966. Namun, kompetisi belum benar-benar selesai: ada laga perebutan juara tiga melawan Prancis yang digelar pada Sabtu pukul 22:00 BST.

Jika laga ini terasa seperti “pemanasan terakhir” setelah badai emosi di semifinal, faktanya turnamen justru menyajikan beberapa alasan kuat agar pertandingan tersebut tetap layak disaksikan. Bukan cuma soal gengsi, tetapi juga peluang-peluang yang masih bisa memengaruhi catatan individu maupun sejarah pencapaian tim.

1. Golden Boot masih jadi magnet perhatian

Di balik status perebutan peringkat ketiga, ada satu target yang tetap menghimpun fokus pemain kedua tim: persaingan Golden Boot. Kylian Mbappe tampil sangat konsisten sepanjang turnamen dan saat ini menyamai Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak bersama dengan delapan gol.

Meski menyamakan torehan gol, Mbappe berada dalam posisi “terkejar” jika melihat detail lain. Messi memiliki keunggulan berkat jumlah assist: empat assist untuk Mbappe tiga. Menariknya, gol yang tercipta di laga perebutan juara tiga tetap dihitung untuk penghargaan Golden Boot, sehingga Mbappe masih bisa mengubah klasemen.

Jika Mbappe mencetak gol, atau memberikan dua assist, ia berpotensi menyalip catatan Messi. Di sisi lain, Inggris juga tidak sepenuhnya kehilangan peluang. Harry Kane dan Jude Bellingham berada dua gol di bawah Messi dan Mbappe, namun karena jumlah assist mereka lebih sedikit, skenarionya cenderung membutuhkan performa besar seperti mencetak hat-trick untuk bisa merebut puncak.

2. Peluang finis terbaik Inggris sejak 1966

Untuk Inggris, laga ini juga terkait dengan nilai historis. Kemenangan atas Prancis akan menjadi penutup yang lebih bermakna untuk turnamen yang, di atas kertas, sudah gagal mengantar mereka ke partai puncak. Setidaknya, itu membuka kesempatan mencatat finis terbaik Inggris dalam 60 tahun terakhir.

Walau memenangkan perebutan juara tiga mungkin tidak sama dengan mimpi awal saat Piala Dunia dimulai, hasil itu tetap akan memastikan ini merupakan capaian terbaik tim putra Inggris untuk periode sejak 1966. Inggris juga akan menggeser gambaran yang selama ini membuat mereka kecewa: bila tahun ini masuk sebagai tanda finis tertinggi, maka hanya kemenangan 1966 yang bisa berdiri lebih tinggi dibanding usaha tahun ini.

Di saat bersamaan, Inggris juga punya catatan historis yang patut diingat. Dua perebutan juara tiga sebelumnya di Piala Dunia justru berujung kekalahan. Pada 1990, tim asuhan Sir Bobby Robson kalah dari tuan rumah Italia. Lalu pada 2018, skuad pimpinan Sir Gareth Southgate juga takluk dari Belgia.

3. Kesempatan menit untuk pemain “tersembunyi”

Jadwal yang padat di Piala Dunia edisi yang diperluas membuka kemungkinan rotasi. Dalam situasi dengan tekanan hasil yang sedikit berbeda, pelatih bisa mengambil langkah untuk memberi kesempatan kepada pemain yang sebelumnya belum mendapat banyak waktu tampil.

Kobbie Mainoo menjadi contoh yang menonjol. Ia sudah mengoleksi 14 caps bersama Inggris, tetapi sampai turnamen ini berlangsung, ia belum bermain satu menit pun. Dengan beban yang sedikit lebih longgar, Thomas Tuchel berpotensi memberikan debut Piala Dunia untuk Mainoo.

Di saat yang sama, Declan Rice juga bisa mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah sakit yang dialaminya. Ollie Watkins yang baru bermain enam menit sejauh ini juga berpeluang tampil lebih lama, begitu pula Ivan Toney yang muncul dari bangku cadangan ketika Inggris sedang mencari gol penyama kedudukan di semifinal, dengan total waktu bermain yang kurang lebih setara enam menit.

Untuk Prancis, situasinya tak kalah menarik. N’Golo Kante, juara Piala Dunia 2018, juga belum mencatat menit bermain di turnamen ini. Pada usia 35, laga perebutan juara tiga kemungkinan menjadi kesempatan terakhir baginya untuk tampil di Piala Dunia. Sedangkan Rayan Cherki yang durasinya hanya 85 menit selama turnamen, masih menyimpan pertanyaan apakah Didier Deschamps akan memberi kesempatan sejak awal.

4. Menjaga ritme kompetitif sebelum liga-liga kembali

Alasan lain yang membuat laga ini layak ditunggu datang dari konteks musim. Rangkaian pertandingan kompetitif di Eropa tidak berhenti setelah akhir Piala Dunia: babak kualifikasi untuk tiga kompetisi klub sudah dimulai, dan di Inggris, Scottish League Cup juga berjalan.

Di kalender domestik, Scottish Premiership dimulai pada 31 Juli. Namun, di Inggris sendiri, setelah akhir pekan ini selesai, jeda untuk menyaksikan laga kompetitif bisa terasa makin panjang. Setelah final pada Minggu, hampir dua pekan berlalu sebelum Carabao Cup memainkan babak pendahuluan. Lalu hampir empat minggu setelah itu, EFL kembali pada 14 Agustus, dengan Community Shield berlangsung di akhir pekan yang sama.

Masih ada jeda lagi: satu minggu setelahnya, tepatnya 21 Agustus, Premier League mulai bergulir. Bahkan bagi tim Inggris, perubahan jadwal jeda internasional membuat mereka harus menunggu sampai akhir September untuk pertandingan berikutnya.

Karena itu, perebutan juara tiga antara Inggris dan Prancis menjadi cara yang “pas” untuk tetap mendapatkan tontonan sepak bola tingkat kompetitif pada fase yang biasanya mulai mereda. Laga ini bukan sekadar penghibur setelah kecewa, melainkan panggung terakhir untuk ambisi individu, peluang catatan sejarah, dan kesempatan bermain yang selama ini mungkin tertunda.