jurnalistik.co.id – Panggung final Piala Dunia 2026 akhirnya menemukan pasangannya. Spanyol akan menghadapi Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, pada Minggu (19/7/2026) atau Senin dini hari WIB.
Ini juga pertemuan yang sejak awal terasa “ditulis” dari dua karakter sepak bola yang berbeda. Spanyol membawa wajah sepak bola berbasis kolektivitas, sementara Argentina datang dengan dramanya sendiri yang kerap menjadi ciri perjalanan mereka.
Meski sorotan terbesar tertuju pada laga puncak, perhatian tidak sepenuhnya larut dalam euforia turnamen. Gugatan terhadap FIFA tetap menggantung, termasuk kritik tajam mengenai harga tiket yang dinilai tidak wajar.
Spanyol menyusun akhir turnamen lewat disiplin
Spanyol memastikan tiket final setelah membungkam Prancis 2-0 di Arlington-Dallas pada Selasa (14/7/2026). Kemenangan itu digambarkan sebagai kerja pertahanan yang rapi sepanjang pertandingan.
Trio lini serang Prancis—Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, dan Michael Olise—dibuat mati kutu. Dari sepuluh tembakan, mereka hanya menghasilkan 0,3 expected goals.
Gol pembuka lahir pada menit ke-22 melalui penalti Mikel Oyarzabal. Keputusan tersebut didapat setelah bek kiri Lucas Digne menjatuhkan Lamine Yamal di dalam kotak terlarang.
Spanyol menambah keunggulan pada menit ke-58 lewat Pedro Porro. Gol itu tercipta dari skema satu-dua dengan Dani Olmo yang membuka ruang di momen krusial.
Hasil tersebut melanjutkan catatan performa yang sulit ditandingi. Spanyol hanya kebobolan satu gol dalam tujuh laga dan tidak terkalahkan dalam 37 pertandingan selama dua tahun terakhir.
Bagi La Roja, final ini juga menjadi penanda perjalanan panjang. Ini merupakan final pertama mereka sejak menjuarai edisi 2010, sekaligus menjadi penutup era Didier Deschamps yang mundur setelah 14 tahun menangani Prancis.
Sejak 2024, Spanyol tercatat sudah tiga kali menyingkirkan Prancis di semifinal turnamen besar. Rangkaian itu berawal dari Euro 2024 dan berlanjut pada Nations League 2025.
Dominasi tersebut sempat diuji oleh proyeksi mesin. Prediksi model superkomputer yang menjagokan Prancis dengan peluang 57,7 persen tidak terjadi di lapangan.
Berita Terkait
Argentina menang dengan dramanya sendiri
Sementara itu, Argentina melangkah ke partai puncak setelah menundukkan Inggris 2-1 secara dramatis di Atlanta pada Rabu (15/7/2026). Laga itu memperlihatkan bagaimana perubahan strategi bisa mengubah arah pertandingan.
Inggris sempat lebih dulu unggul lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55. Gol tersebut datang dari umpan Morgan Rogers yang mengarahkan serangan ke area yang tepat.
Namun, momen tersebut tidak membuat Argentina kehilangan kendali. Pelatih Thomas Tuchel dinarasikan menarik timnya lebih cepat ke pola bertahan total.
Dengan perubahan itu, pertandingan beralih menjadi duel yang semakin sarat tensi. Argentina akhirnya tetap menemukan jalan untuk mengunci kemenangan meski Inggris sempat memimpin.
Final ideal, dengan bahan kritik di luar lapangan
Jika menilik struktur kompetisinya, final 48 tim edisi pertama ini tampak “ideal”. Juara Eropa dipertemukan dengan juara dunia bertahan, sementara peringkat dua dan tiga dunia turut mewarnai laga ini.
Di satu sisi, Spanyol membawa mazhab penguasaan bola kolektif. Di sisi lain, Argentina hadir dengan sosok yang membuat pertandingan terasa berbeda, terutama ketika berbicara tentang Lionel Messi.
Namun, final ideal tersebut tidak sepenuhnya menutup perdebatan yang muncul menjelang kickoff. Gugatan terhadap FIFA menjadi latar lain yang mengiringi persiapan kedua tim.
Kompetisi dapat menghadirkan cerita sepak bola yang rapi di atas rumput, tetapi keputusan di luar stadion tetap memicu pertanyaan. Harga tiket yang dinilai tidak wajar disebut sebagai salah satu bentuk kritik yang ikut mengalir dalam atmosfer menjelang final.
Pada akhirnya, yang akan menentukan adalah apa yang terjadi selama 90 menit. Spanyol datang dengan soliditas yang sudah teruji, sementara Argentina datang membawa memori kemenangan di laga-laga sulit, termasuk saat melawan Inggris.
Final Piala Dunia 2026 ini pun menyisakan satu hal yang pasti. Baik mazhab penguasaan bola ala Spanyol maupun nuansa dramatis Argentina akan diuji dalam benturan paling nyata di Stadion MetLife.












