Entertainment

Eurovision Song Contest Revisi Aturan bagi Negara dalam Konflik Bersenjata

×

Eurovision Song Contest Revisi Aturan bagi Negara dalam Konflik Bersenjata

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Eurovision Song Contest changes rules for countries at war

jurnalistik.co.id – Eurovision Song Contest memperbarui aturan terkait siapa yang berhak menjadi tuan rumah setelah sebuah negara yang terlibat konflik bersenjata memenangkan kompetisi.

Perubahan ini disetujui oleh badan penyelenggara (governing body) setelah masukan dari stasiun penyiar peserta seusai Eurovision 2026 di Wina.

Negara dalam konflik bersenjata jika menang, tidak boleh jadi tuan rumah tahun berikutnya

Dalam amandemen yang diumumkan, negara yang terlibat konflik bersenjata dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah pada tahun berikutnya bila memenangkan kontes.

Aturan juga menetapkan bahwa pemenang dapat terkena larangan tuan rumah apabila ada kondisi geopolitik yang dinilai “sensitive geopolitical situation” dan berdampak pada “security, safety or stability” negara tersebut atau wilayah regional terdekatnya.

Menurut BBC, pembaruan ini dipahami sebagai respons terhadap keberlanjutan kehadiran Israel di ajang tersebut, di tengah kritik atas tindakan militer Israel di Gaza dan kawasan Timur Tengah.

Namun, dampaknya tidak berhenti pada Israel saja.

Perubahan itu juga memengaruhi Ukraina, yang sejak invasi Rusia pada 2022 berada dalam perang berkepanjangan.

Grup Kalush Orchestra memenangkan Eurovision 2022, dan kemenangan itu disebut sebagai simbol dukungan publik.

Setelah kemenangan Kalush Orchestra, penyelenggara Eurovision melakukan “full assessment and feasibility study” untuk menentukan apakah kontes 2023 dapat digelar di Kyiv.

Mereka kemudian memutuskan bahwa risiko keamanan dinilai terlalu besar, sehingga Inggris mengambil alih sebagai tuan rumah di Liverpool.

Penilaian keamanan independen dan mekanisme pemilihan penyiar pengganti

Aturan baru tersebut memformalkan proses yang sebelumnya dipakai dalam situasi serupa.

EBU, organisasi yang mengelola Eurovision, dinyatakan dapat, “where deemed necessary”, memerintahkan penilaian keamanan independen untuk wilayah pemenang.

Setelah penilaian selesai, EBU akan berkonsultasi dengan Reference Group untuk menentukan apakah anggota pemenang dinilai mampu menyelenggarakan kontes dengan aman.

Jika dinyatakan tidak memungkinkan, EBU akan memilih stasiun penyiar alternatif untuk menjalankan pertunjukan.

Poin pentingnya, mereka “will not be required to stage the event on behalf of another member”.

Dalam konteks 2023, BBC menyebut bahwa lembaga penyiar Inggris bekerja sama dengan mitra Ukraina untuk menampilkan warisan budaya negara tersebut dalam penyelenggaraan ajang.

BB C juga mencatat bahwa meski aturan ini secara jelas akan dilihat sebagai menargetkan Israel, sejumlah kekhawatiran keamanan juga disebut muncul dari penyiar peserta lain.

Di antaranya, disebut ada ekspresi kekhawatiran keselamatan bila kontes suatu saat digelar di Jerusalem atau Tel Aviv jika Israel kelak menjadi pemenang.

Konflik dan boikot: Israel dan posisi runner-up berulang

BBC mengingatkan bahwa pada November tahun lalu, setelah upaya gagal untuk meminta Israel diskors, lima penyiar mengumumkan pemboikotan terhadap kompetisi.

Pemboikotan itu termasuk stasiun besar seperti Spanyol dan Irlandia.

Meskipun ada protes, Noam Bettan dari Israel akhirnya meraih posisi kedua dengan lagu “Michelle”.

BBC juga menuliskan bahwa ini merupakan tahun kedua berturut-turut ketika Israel menjadi runner-up, dan pada saat yang sama beberapa penyiar menyampaikan kekhawatiran terkait keamanan penyelenggaraan apabila pemenangnya adalah Israel.

Usia minimum naik menjadi 18 tahun dan aturan backing track diperjelas

Selain ketentuan tuan rumah, aturan lain yang diumumkan pada hari Selasa juga mencakup kenaikan usia minimum partisipasi Eurovision dari 16 menjadi 18 tahun.

Aturan penggunaan backing track turut diperjelas untuk menjaga kualitas penampilan.

Sejak 1999, instrumen musik live pada praktiknya telah dibatasi, sehingga hanya vokalis utama yang tampil secara langsung.

Mulai kontes tahun depan, backing track tidak boleh “unduly assist” penyanyi di atas panggung.

Contohnya, backing track tidak boleh memuat suara pra-rekaman yang menyanyikan melodi utama untuk menambah ketebalan atau mendukung pertunjukan live.

EBU menyatakan, “The clarification is intended to protect the integrity of each performance and to ensure the audience always hears the lead vocals on each song performed live”.

Direktur Eurovision, Martin Green, mengomentari perubahan tersebut dengan mengatakan, “These changes are about giving everyone involved greater clarity, protecting artists and ensuring the Contest continues to provide a safe and welcoming environment, while preserving the spirit and integrity that make the Eurovision Song Contest so special.”

Lokasi kontes berikutnya dan peserta baru

Eurovision tahun depan akan digelar di Bulgaria.

BBC menyebut Dara, perwakilan Bulgaria, memenangkan edisi 2025 dengan lagu bertema klub “Bangaranga”.

Selain itu, pada bulan lalu diumumkan bahwa Kanada akan ikut Eurovision untuk pertama kalinya.