jurnalistik.co.id – Biaya resep dari dokter hewan kini dibatasi maksimal £21, menyusul perubahan aturan yang membuat praktik kedokteran hewan wajib menerapkan sejumlah kewajiban baru dalam beberapa bulan ke depan. Langkah ini juga ditujukan agar pemilik hewan lebih mudah memahami harga layanan sebelum melakukan perawatan.
Aturan yang ditetapkan oleh otoritas persaingan resmi Inggris, Competition and Markets Authority (CMA), menetapkan bahwa praktik dokter hewan harus memberi tahu klien bila ada obat yang lebih murah yang tersedia secara daring. Selain itu, dokter hewan juga diwajibkan menyiapkan estimasi harga secara tertulis lebih awal sebelum tindakan dilakukan, termasuk perhitungan biaya yang terkait setelah perawatan.
CMA menjadikan paket remedi tersebut bersifat mengikat secara hukum sejak Selasa. Dalam penerapannya, praktik dokter hewan diberi waktu hingga 12 bulan untuk memenuhi seluruh perubahan yang diwajibkan.
CMA sebelumnya melakukan investigasi ke sektor tersebut dan menemukan bahwa harga terus naik dengan kecepatan hampir dua kali laju inflasi. “The changes that are being required are changes that will help inform pet owners about prices,” ujar ketua panel CMA, Martin Coleman.
Selain pembatasan biaya resep, perubahan lain mencakup kewajiban bagi praktik untuk menerbitkan daftar harga “komprehensif” untuk layanan standar. Daftar tersebut harus mencakup konsultasi, prosedur-prosedur yang umum, serta pilihan layanan kremasi.
Untuk perawatan yang diperkirakan biayanya mencapai £500 atau lebih, praktik diwajibkan memberikan estimasi tertulis terlebih dahulu. Estimasi itu harus mencakup biaya perawatan setelah tindakan, serta dilengkapi tagihan terperinci atau itemised bill.
Pengecualian hanya berlaku untuk situasi darurat. Dalam kondisi tersebut, ketentuan estimasi tertulis dan daftar harga tetap mengacu pada prinsip bahwa keadaan darurat menjadi satu-satunya pengecualian.
Praktik dokter hewan juga harus menjelaskan apakah layanan yang diberikan berasal dari bisnis yang tergabung dalam kelompok usaha atau berdiri sebagai praktik independen. Informasi kepemilikan ini kemudian akan mendukung perbandingan harga antarpraktik di tingkat lokal.
Untuk membantu pemilik hewan membandingkan layanan berdasarkan harga dan kepemilikan, data akan disediakan melalui layanan “Find a Vet” milik Royal College of Veterinary Surgeons. Layanan tersebut menyalurkan data ke situs pihak ketiga yang menyediakan perbandingan layanan.
Berita Terkait
Garis waktu penerapan setiap perbaikan ditentukan oleh regulasi yang spesifik serta ukuran kelompok usaha tempat praktik tergabung. CMA menyebutkan bahwa jadwal penerapan bergantung pada detail regulasi dan besarnya kelompok.
Meski tujuan utamanya adalah transparansi, sejumlah kritik muncul dari pihak yang menilai aturan ini tidak merata dampaknya. Para pengkritik mengatakan langkah tersebut paling keras dirasakan oleh dokter hewan independen, sementara manfaat lebih banyak jatuh pada enam perusahaan pemilik lebih dari dua pertiga praktik.
Cate Titterton, pemilik layanan dokter hewan independen di Saltburn, menyampaikan bahwa aturan ini berpotensi membuat kunjungan ke dokter hewan menjadi lebih mahal bagi pelanggan. “Veterinary practices still have to have a pharmacy that is fully stocked, so if we’re not making that tiny profit on the drugs, we’re going to have to make some profit elsewhere.” Ia menambahkan, “So, things like services, consultations, surgeries – unfortunately, those prices are very, very likely to have to go up.”
Titterton juga menilai ada “satu pemenang yang jelas” dari perubahan ini, yaitu kelompok dokter hewan yang lebih besar serta korporasi. Menurut pandangannya, struktur biaya yang berbeda membuat kelompok yang lebih terintegrasi dapat menyesuaikan dengan lebih baik.
British Veterinary Association melalui Presiden Dr Rob Williams menyatakan bahwa banyak praktik sebenarnya sudah berupaya menyesuaikan diri dengan remedi CMA. Upaya tersebut mencakup ketentuan penanganan keluhan, penyediaan estimasi harga untuk prosedur rutin, serta ketentuan biaya resep.
Williams juga menegaskan sikap asosiasinya selama proses investigasi. “We’ve been clear with the CMA throughout its investigation that it must ensure its remedies do not disproportionately impact smaller, independent practices and we’ve pushed back where we’ve had concerns,” ujarnya.
Sementara itu, Clive Di Giorgio menjadi salah satu contoh yang menceritakan pengalaman yang ia harapkan dapat menjadi bagian dari pasar yang lebih murah dan transparan. Ia menghubungi BBC Your Voice setelah menceritakan bahwa ia pernah dikutip biaya ribuan poundsterling untuk perawatan, usai seekor dokter hewan menyatakan bahwa ruam di punggung anjingnya, Louis, “definitely” merupakan tanda kanker.
Di Giorgio kemudian pergi ke praktik dokter hewan lain dan menerima penilaian berbeda: ruam tersebut menurut dokter tidak bersifat kanker. Ia menyebutkan bahwa perawatan dengan steroid, antibiotik, serta semprotan membuat ruam membaik dalam dua minggu.
Dalam kesaksiannya, Di Giorgio menilai perubahan aturan diperlukan agar praktik lebih berorientasi pada hewan, bukan semata pada biaya. “You just don’t feel as if when you go to the vets now they’re interested in the animal,” katanya. Ia melanjutkan, “You feel as if all the interest is how much money they can basically squeeze from you.”
Dengan adanya pembatasan biaya resep, kewajiban daftar harga, estimasi tertulis untuk perawatan bernilai £500 ke atas, serta informasi mengenai ketersediaan obat yang lebih murah secara daring, CMA berharap pasar jasa dokter hewan menjadi lebih informatif bagi pemilik hewan. Namun, perdebatan mengenai siapa yang paling terdampak tetap muncul bersamaan dengan implementasi aturan yang mulai berlaku secara hukum.












