jurnalistik.co.id – Para juri Booker Prize mengungkap bahwa proses penentuan daftar pendek tahun ini berlangsung dengan suasana yang mereka sebut “a tussle”. Enam novel pada akhirnya dipilih setelah perdebatan panjang, termasuk dari nama-nama yang sebelumnya pernah meraih penghargaan bergengsi itu.
Dalam pengumuman seleksi, Marlon James dan Douglas Stuart—keduanya pernah menjadi pemenang Booker Prize—kembali masuk nominasi. James di tahun ini membawa The Disappearers, sementara Stuart masuk daftar pendek melalui John of John.
Jamaika dan Skotlandia menjadi dua titik penting yang kembali bertemu dalam daftar itu. Di sisi lain, Booker Prize tahun ini juga menempatkan sejumlah penulis mapan lain sebagai penantang utama.
“Tussle” di ruang seleksi
Juri merumuskan proses pemilihan sebagai pertarungan gagasan: Raymond Antrobus mengatakan, “All of us individually had a different idea for a shortlist and then it was a tussle.” Kalimat itu menegaskan bahwa visi tiap juri tidak langsung bertemu pada satu arah yang sama.
Dame Mary Beard, yang memimpin panel, menyampaikan bahwa menyepakati enam buku final “has been, to put it mildly, hard work”. Menurutnya, tantangan itu mencerminkan betapa beragamnya kekuatan karya yang bersaing.
Beard juga menilai kualitas fiksi berbahasa Inggris saat ini sangat kaya. Ia menuturkan, “English language fiction now is full of talent – talent old and talent new.” Dalam pandangannya, karya-karya tersebut menghadirkan wit, keseriusan, kenikmatan membaca, tantangan, ketidaknyamanan, dan “real brilliance”.
Lebih jauh, Beard berharap para penulis novel mendapat penghargaan yang lebih besar dibanding selama ini. Ia menambahkan gagasan itu dengan cara yang menempatkan daftar pendek sebagai cermin kualitas, bukan sekadar hasil seleksi teknis.
Patricia Lockwood: “I tossed books across the room”
Salah satu momen yang paling menonjol datang dari Patricia Lockwood, yang menggambarkan dinamika diskusi ketika panel menimbang kelayakan tiap buku. Ia mengatakan dirinya “bossier than I believed myself to be” saat membela dan menguji argumen pro-kontra terhadap novel tertentu.
Lockwood menceritakan aktivitasnya di rapat: “I was sort of standing up a lot and tossing books across the room and being really active. I was like, ‘Wow, yeah, I didn’t know I had it in me’.” Kalimat itu menjadi pengingat bahwa seleksi bukan sekadar membaca pasif, melainkan perdebatan yang intens.
Saat menyebut pertarungan gagasan itu, Lockwood menambahkan lelucon, “A tussle, yeah. We wrestled like pigs in the mud!” Penggambaran berlebihan yang disengaja itu justru menekankan betapa nyata tarik-menarik pilihan mereka.
Antrobus kemudian menghubungkan daftar pilihan dengan benang merah yang membuat karya-karya tersebut saling terkait. Ia mengatakan novel-novel di shortlist memiliki “heart” sekaligus “took risk”, dan menegaskan bahwa panel meyakini buku-buku itu tidak bisa “be replicated by artificial intelligence”.
Ia menutup penilaian dengan kalimat yang menempatkan pengalaman manusia sebagai pusatnya: “These are very human books for the way they talk about and navigate a lived experience.”
Jarvis Cocker: seperti berada dalam sebuah band
Barisan juri di tahun ini turut diisi Rebecca Liu dan Jarvis Cocker. Cocker menyatakan pengalamannya di panel terasa “a bit like being in a band”. Ia menjelaskan analoginya dengan menekankan kolektivitas: cara sebuah band menghasilkan bunyi yang menarik terjadi ketika semua anggota bergabung.
Ia berkata, “The way a band makes an appealing noise is by everybody combining, in a way, and if you don’t like that then you have to go solo.” Dalam penjelasannya, keberhasilan bukan milik satu orang, melainkan hasil yang muncul ketika kontrol tidak sepenuhnya berada di tangan satu pihak.
Ia menambahkan, “You get something that you couldn’t get [alone] and no-one’s in control of it and you make a good noise together. So I hope that’s what this shortlist is, a nice noise.”
Cocker juga mengisahkan rutinitasnya selama tur, termasuk membaca beberapa entri saat berada di perjalanan. Ia bahkan bergabung dalam satu rapat juri secara daring pada pukul 02:00 waktu setempat di sebuah hotel di Australia, sambil mengenakan dressing gown.
Ia menyebut, “When you’re on tour, it’s quite dull when you’re travelling so it was quite good to have something to read,” lalu menambahkan bahwa dirinya dikenal karena hadir dalam pertemuan tersebut dengan “wearing a towelling robe”.
Enam novel daftar pendek Booker Prize 2026
Berita Terkait
Dari proses yang melibatkan longlist pada bulan Juli, tujuh buku akhirnya “jettisoned”. Panel kemudian mengerucutkan pilihan hingga tersisa enam karya pada daftar pendek, dengan beberapa karakteristik berbeda namun tetap saling terhubung dalam cara tiap novel mengambil risiko.
The End of Everything karya M John Harrison menjadi salah satu judul dalam daftar pendek. Novel ini memperlihatkan bencana yang tidak dijelaskan, kedatangan makhluk alien misterius, dan bagaimana sebuah masyarakat Inggris terbalik. Di tengah perubahan itu, seorang pria bersama bibi tua menavigasi situasi di pesisir Kent.
Panel menyebut: “The End of Everything can be read as a thriller, a mystery, a satire, a dystopia, a road novel, a work of realism.” Mereka menambahkan bahwa meski lanskapnya suram dan bencana terasa menelan, “there still were moments we found ourselves laughing aloud”.
Dame Mary Beard juga menekankan bahwa karya ini menjadi nominasi Booker pertama bagi Harrison. Ia disebut berpotensi menjadi pemenang tertua pada usia 81.
The Disappearers karya Marlon James menghadirkan narasi epik dan intens yang berkisar pada serangan kekerasan terhadap delapan pria gay. Mereka berkumpul untuk latihan sebuah drama queer di Kingston, Jamaika pada tahun 1988, dan novel itu menelusuri dampak setelahnya.
Panel menyatakan, “A Jamaican epic from one of the most impactful Caribbean novelists today; readers will love the shifting register of the dialogue and poetic phrasings, often pierced through with sharp, double-edged humour.” James sebelumnya pernah memenangkan Booker pada 2015 untuk A Brief History of Seven Killings.
Luke Kennard masuk daftar pendek lewat Black Bag. Novel ini memusatkan perhatian pada seorang aktor yang kehilangan pekerjaan dan mendapatkan peran baru: dikurung dalam black bag saat kuliah psikologi untuk satu semester sebagai bagian dari eksperimen seorang profesor.
Panel menilai novel itu berujung pada satire yang sekaligus lucu dan menyentuh. Mereka menyebut, “In a wonderfully quirky campus novel, Kennard combines an absurd experiment with a moving story about human frailty, passion, confusion and identity. There’s something for everyone here.”
Rebecca Perry membawa May We Feed the King. Dalam novel ini, seorang kurator museum masa kini ditugaskan untuk merekonstruksi sebuah adegan masa lampau di sebuah istana bersejarah. Ia kemudian terseret ke dunia raja muda yang enggan, sementara kehidupan sang raja terbuka lewat penelusuran mendalam.
Panel menyampaikan bahwa ini adalah “An affecting and lush jewel of a novel that moves between our present-day world to a medieval court and unsettles the idea that there’s ever one universal historical truth.” Perry sendiri adalah debut novelist, sekaligus penyair, dan pernah menjadi trampolinis kompetitif.
Elizabeth Strout menjadi bagian daftar pendek lewat The Things We Never Say. Strout, yang pernah memenangi Pulitzer Prize dan sudah dua kali jadi nominasi Booker, menuturkan kisah seorang guru sejarah sekolah menengah berusia di awal 50-an yang merasa “adrift” di Amerika modern. Ketika sebuah rahasia terungkap, tokoh itu harus berhadapan dengan pertanyaan besar menyangkut relasi dan pilihan hidupnya.
Panel menyebut, “A novel that engages with the deeply divisive politics of present-day America, without itself becoming divisive. This is the kind of book we need now: a calm antidote to contemporary events.”
Douglas Stuart melengkapi daftar pendek dengan John of John. Ini merupakan novel ketiga Stuart, yang memenangkan Booker pada 2020 untuk Shuggie Bain. Novel tersebut berkisah tentang seorang mahasiswa fashion Skotlandia gay yang kembali ke kampung halamannya di komunitas kecil yang religius di Outer Hebrides pada pertengahan 1990-an.
Di dalamnya, ia dan ayahnya sama-sama menyimpan rahasia. Keduanya juga dipanggil John. Panel menyebut, “A rich and moving novel about a father and son who live on a remote Scottish island in the 1990s, where small-town secrets and buried shame reverberate to surprising, devastating and even joyous effect.”
Pemenang diumumkan 9 November
Pemenang Booker Prize tahun ini akan menerima hadiah sebesar £50,000. Acara pengumuman dijadwalkan berlangsung di London pada 9 November.
Perayaan itu akan disiarkan secara langsung melalui special edition BBC Radio 4’s Front Row, menandai momen ketika panel mengunci pilihan mereka menjadi satu jawaban final.
Dari longlist yang telah diumumkan pada bulan Juli, sejumlah judul tidak berhasil lolos ke tahap akhir. Di antaranya adalah Switzy karya Emma Cline, yang disebut sempat dilihat sebagian pihak sebagai kandidat kuat.
Komentar kritikus Giles Coren di Times memicu respons yang penuh kelakar. Ia menulis, “Believe me, this is a nailed-on Booker winner,” dan menambahkan, “If this one doesn’t win, I’ll eat Mary Beard.”
Dame Mary Beard menanggapi pernyataan itu pada hari Selasa dengan nada balasan yang sama. Ia berkata, “I know Giles Coren said he wants to eat me if Switzy isn’t on the shortlist. ” lalu melanjutkan, “Well, I’m going to get the cooker prepared and ask him how he wants me done.”
Dengan daftar pendek yang menampilkan beragam gaya, latar, dan risiko artistik, panel tahun ini menegaskan bahwa pemilihan mereka bukan sekadar formalitas—melainkan hasil perdebatan yang, seperti yang mereka akui, benar-benar terasa seperti “a tussle”.











