jurnalistik.co.id – Andy Carroll mengungkap bahwa ia mengalami pelecehan seksual pada 2021, dan detail kasus itu kini muncul dalam autobiografinya yang dirilis Kamis. Dalam keterangannya, penyerang yang kemudian dijatuhi hukuman penjara tiga tahun akhirnya terungkap di hadapan publik.
Carroll, mantan striker timnas Inggris, menyebut insiden itu terjadi di rumahnya pada tahun 2021. Saat kejadian berlangsung, ia berada pada masa kedua bersama klub lokalnya, Newcastle.
Ia kini berusia 37 tahun dan menuturkan bahwa ia memilih memasukkan peristiwa tersebut ke dalam buku “pada menit-menit terakhir”. Keputusan itu ia ambil setelah berdiskusi dengan pacarnya, Lou Teasdale.
Menurut Carroll, seorang teman dari mantan partnernya—yang saat itu berada di luar kota—direncanakan untuk menginap di rumahnya. Rencana tamu tersebut adalah menonton pertandingan boxing bersama Carroll sebelum semuanya berujung pada insiden.
Carroll mengatakan peristiwa terjadi ketika ia sedang tidur. Setelah kejadian itu, ia mengusir pelaku keluar dari rumah, lalu ketika pelaku mencoba kembali, Carroll menjatuhkannya hingga tidak sadarkan diri.
Ia juga menyampaikan bahwa ia menelepon polisi. Carroll menggambarkan dirinya saat itu “sobbing” (menangis) dalam pelukan pengasuh anak-anaknya.
Di persidangan, Carroll menegaskan bahwa proses yang ia jalani membuatnya merasa tersudut. Ia menyebut pengalaman itu “humiliating and embarrassing and absolutely horrendous”.
Penyerang yang namanya tidak disebutkan dinyatakan bersalah atas tindak pidana seksual dan kemudian didaftarkan sebagai pelaku di sex offender register. Carroll menegaskan bahwa ia juga memberikan kesaksian dalam proses tersebut.
Dalam autobiografinya, Carroll menulis, “I was sexually assaulted, there I said it. Scary to even think about and only a few people knew about it before now.”
Ia menambahkan, “Me and Lou spent a lot of time discussing whether to mention it in this book or not. I avoided my publisher for so long that they probably suspected I got cold feet.”
Berita Terkait
- County Durham Tinjau Lagi Hingga 4.500 Kasus Kanker Payudara Setelah Temuan Kelalaian
- Lidl Dilarang Jual Sandal Tiruan Birkenstock di Belanda, Pengadilan Vonis Denda €5.000 per Hari
- 36 Orang Ditangkap dalam Operasi Serentak Polisi Tindak Sindikat Kejahatan Vietnam di Skotlandia Terkait Perdagangan Manusia
Carroll juga menuliskan, “Scary to talk about but it’s made [me] the person I am today as much as any of the good stuff. And if me talking about it helps just one person then good, it will have been worth it.”
Selain itu, ia mengemukakan bahwa dampak dari kejadian tersebut tidak berhenti pada saat proses hukum berlangsung. Ia menulis, “What happened to me affected every facet of my life. I’d think about it every day, making it difficult to focus on anything else, including football… The trauma of what happened to me hasn’t gone away.”
Carroll menjelaskan bahwa apa yang menimpa dirinya memengaruhi berbagai sisi kehidupannya. Ia menyatakan bahwa ia terus memikirkan peristiwa itu setiap hari, sehingga sulit untuk sepenuhnya fokus pada hal lain, termasuk sepak bola.
Untuk konteks kariernya, Carroll dikenal sebagai mantan pemain Inggris yang pernah merasakan bermain di Premier League bersama beberapa klub besar. Ia pernah bermain untuk Liverpool dan West Ham, selain Newcastle.
Carroll juga pernah memperkuat timnas Inggris dan meraih sembilan caps. Setelah masa kariernya di liga profesional, ia kini terlibat dalam sepak bola non-liga.
Karier saat ini bersama Dagenham & Redbridge
Saat ini, Carroll bekerja sebagai pemain sekaligus co-owner di klub non-liga Dagenham & Redbridge. Ia bergabung dengan klub tersebut pada Juli 2025.
Dalam musim ini, Carroll telah mencatat enam penampilan di National League South. Dengan posisinya yang masih aktif di lapangan, pengakuan yang ia buat lewat autobiografi sekaligus menjadi sorotan di luar urusan olahraga.
Ia menegaskan bahwa meski telah berbicara dan membukakan bagian yang selama ini disimpannya, efek psikologis dari insiden itu tetap terasa. Carroll menyatakan bahwa trauma itu “hasn’t gone away”, yang menunjukkan bahwa proses pemulihannya bukan sesuatu yang selesai dalam waktu singkat.
Pengungkapan Carroll datang setelah ia menimbang keputusan untuk menuliskan kejadian itu dalam buku. Ia mengaku takut untuk membicarakannya, namun pada akhirnya memilih keterusterangan karena menilai cerita tersebut bisa bermanfaat bagi setidaknya satu orang.
Autobiografi yang dirilis Kamis itu, dengan demikian, tidak hanya menjadi catatan perjalanan karier Carroll, tetapi juga memuat kesaksian personal tentang kekerasan yang dialaminya pada 2021—di rumahnya, ketika ia berada di masa kedua bersama Newcastle, dan yang kemudian berujung pada hukuman penjara tiga tahun bagi pelaku.












