jurnalistik.co.id – Di balik dinding ruangan kecil tanpa jendela, suasana seperti ruang kendali. Estelle Morgan, pemimpin tim urusan hewan dari kemitraan Saving Wildcats, memantau kucing liar yang saat ini dibesarkan di penangkaran sebelum dilepas ke kawasan Cairngorms.
Pengawasan itu berlangsung melalui 72 kamera yang terus menangkap kondisi satwa di dalam kandang mereka. Morgan menjelaskan tujuan utama pemantauan bukan sekadar melihat dari jauh, tetapi menilai kesehatan sekaligus kemampuan perilaku yang dibutuhkan agar kucing-kucing ini bisa bertahan saat sudah berada di alam.
“Kami ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh kucing-kucing itu,” katanya. Menurutnya, pertanyaan yang diuji mencakup kemampuan memanjat, kemampuan menerkam, cara menghadapi struktur yang kompleks, serta apakah mereka tetap aktif pada waktu-waktu yang seharusnya dalam habitat aslinya.
Program ini juga menempatkan batas yang ketat pada kontak manusia. Mereka tidak ingin kucing-kucing tersebut menjadi terbiasa oleh kehadiran orang, sehingga interaksi dijaga seminimal mungkin. Morgan menekankan bahwa yang ingin dipastikan adalah bagaimana perilaku mereka ketika manusia tidak lagi berada di sekitar.
Untuk tahun ini, kemitraan Saving Wildcats bahkan untuk pertama kalinya berhasil merekam momen seekor kucing liar melahirkan melalui kamera. Bagi tim, kejadian tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang lebih luas mengenai bagaimana satwa beradaptasi dalam lingkungan baru sebelum dilepaskan.
Selain memeriksa kesiapan fisik, tim juga menilai kecenderungan perilaku sebelum pelepasan dilakukan. “Jika ada kucing-kucing yang cukup berani, apakah itu berarti mereka lebih mungkin mendekati jalan, atau pergi lebih dekat ke peternakan dan permukiman manusia?” kata Morgan, menautkan hasil pengamatan terhadap rencana pelepasan.
Upaya reintroduksi di Cairngorms sudah menunjukkan hasil. Saving Wildcats menyebut telah berhasil melepas 46 kucing liar ke dataran rendah dan perbukitan di wilayah tersebut, dan satwa yang dilepas juga sudah berhasil berkembang biak. Tim bekerja di proyek ini mengetahui setidaknya 20 anak kucing lahir di alam dari induk yang dilepas sejak 2024.
Namun, keberhasilan di satu lokasi dipandang hanya sebagai langkah awal. Dr Martin Gaywood, manajer proyek spesies di NatureScot, menyatakan program di Cairngorms telah meraih capaian besar, tetapi tetap merupakan awal dari rencana yang lebih panjang. Ia menekankan konservasi kucing liar sangat kompleks karena berbagai ancaman dan persoalan harus dikelola secara simultan, sehingga pemulihan populasi ke seluruh Skotlandia menuntut perencanaan jangka panjang dan skala yang lebih besar.
Gaywood juga menyatakan optimisme bahwa pemindahan satwa ke wilayah lain bisa mulai terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Ia menyebut peluang memulai proyek baru, bahkan kemungkinan satu atau dua proyek, dalam kurun waktu sekitar lima tahun ke depan, tergantung kesiapan dan rancangan program.
Strategi nasional, menurut rencana, tidak hanya memutuskan titik pelepasan baru. Fokusnya juga mencakup pemulihan dan penyambungan kembali habitat agar wilayah jelajah kucing liar dapat meluas. Di area yang kelak dipilih untuk pemindahan populasi, akan dilakukan langkah tambahan seperti microchipping, sterilisasi, dan vaksinasi untuk kucing peliharaan maupun kucing liar agar perkawinan silang dapat ditekan.
Berita Terkait
Perubahan iklim disebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan tempat reintroduksi. Dr Helen Senn, kepala konservasi dan sains di Royal Zoological Society of Scotland (RZSS), menyatakan pentingnya menemukan wilayah lain yang berpotensi memungkinkan kucing liar bertahan, karena beberapa kejadian iklim ekstrem terjadi di Strath dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyebut adanya badai besar dan kejadian banjir, serta—sayangnya—kebakaran hutan yang signifikan di bagian utara area pelepasan. Menurut Senn, seluruh peristiwa itu berpotensi memengaruhi populasi, sehingga ketahanan program perlu dirancang dengan cara yang tepat.
“Cara untuk menjadi tangguh menghadapi risiko adalah memiliki ukuran populasi yang lebih besar serta memastikan populasi hadir di beberapa wilayah,” ujarnya. Pendekatan ini bertujuan mengurangi dampak jika satu lokasi mengalami guncangan besar, sekaligus memperbesar peluang keberlanjutan populasi.
Kondisi kucing liar yang statusnya sangat terancam membuat pengawasan tetap menjadi bagian penting setelah pelepasan. Sejak 2018, ilmuwan memperingatkan bahwa populasi kucing liar Skotlandia secara fungsional telah punah. Karena dikategorikan sangat kritis (critically endangered), kucing yang kini berkeliaran di Cairngorms tetap dipantau secara saksama.
Tim menggunakan jaringan kamera jejak yang jumlahnya bisa mencapai 100 perangkat kapan pun. Kamera-kamera ini merekam pergerakan satwa dari waktu ke waktu, sementara kucing liar juga dipasangi kalung pelacak yang akan lepas setelah sekitar tujuh hingga sembilan bulan di alam. Kalung tersebut memancarkan sinyal dalam periode singkat setiap hari.
Louise Hughes, manajer operasional kemitraan Saving Wildcats, menjelaskan bahwa informasi yang dikumpulkan berharga, meski tidak selalu mudah dibaca. Ia menggambarkan variasi posisi satwa ketika sedang memanfaatkan ruang: bisa saja mereka berada di lubang, bersembunyi di akar pohon, atau melintasi perbukitan dan pegunungan.
Meski demikian, data membantu peneliti memahami pola pergerakan dan perilaku berburu kucing liar. Informasi itu juga mendukung pemahaman mengenai habitat yang digunakan oleh satwa selama mereka membangun wilayah baru.
Pendanaan dan dukungan dari pihak lokal turut berperan. Scottish Land and Estates disebut mendukung Scottish Wildcat Conservation Action Plan, dan sejumlah estate secara aktif membantu dengan menyediakan lokasi pelepasan, melakukan pemantauan, serta mencatat kemunculan satwa. Sebagian besar data juga berasal dari laporan kemunculan yang disampaikan masyarakat.
Dalam kunjungan itu, Louise membawa pengamat menelusuri wilayah tempat seekor kucing liar yang baru-baru ini terekam kamera, bernama Sully. Ia mengatakan Sully dilepas pada 2024 dan sempat terekam berenang melintasi River Spey melalui video.
“Kucing liar tidak pernah berhenti mengejutkan kami,” ujar Hughes. Estelle Morgan menambahkan bahwa kucing liar pernah tersebar luas di seluruh Inggris, dan pekerjaan yang dilakukan di Cairngorms diharapkan bisa memberi informasi bagi pelepasan di wilayah lain di Skotlandia.
Bagi Morgan, kucing liar merupakan satu-satunya kucing asli yang ditemukan hidup di alam di Inggris. Karena itu, menurutnya satwa tersebut “layak ada di sini” dan menjadi bagian dari bentang alam.












