jurnalistik.co.id – Fenomena penolakan akses terhadap pengunjung dengan disabilitas neurodivergen membuat perdebatan kembali memanas di dunia festival musik berskala besar. Sejumlah orang menilai, meski ada langkah perbaikan, kebutuhan sebagian penonton masih belum benar-benar terakomodasi.
Diskusi ini mengemuka setelah pengalaman pengguna X bernama Jas yang mengaku ditolak saat mencari ruang akses khusus di BBC Radio 1ās Big Weekend di Sunderland pada bulan lalu. Ia menyoroti bahwa tidak semua kondisi disabilitas terlihat dari luar.
āNot all disabilities are visible,ā tulis Jas, menggambarkan kesulitan yang kerap muncul ketika kondisi seperti autisme, ADHD, disleksia, dan dyspraxia tidak mudah dikenali tanpa pemahaman yang memadai. Situasi tersebut juga muncul di tengah perhatian yang lebih intens dari parlemen dan lembaga pengawas kesetaraan soal aksesibilitas acara festival.
Dalam konteks yang lebih luas, masalah aksesibilitas tidak dapat dipandang hanya dari ketersediaan fasilitas seperti toilet disabilitas. Komponen laināmulai dari infrastruktur di lokasi, keamanan, pelatihan staf, hingga proses tiketāikut menentukan apakah penonton bisa menikmati acara dengan nyaman.
Neurodivergen: tantangan yang sering tidak tampak
Sejumlah penonton menjelaskan bahwa āneurodiverseā berarti cara kerja otak berbeda dari yang dianggap tipikal. Di Inggris, lebih dari 15% orang digolongkan neurodivergen, sehingga pengalaman mereka terhadap keramaian, rangsangan suara, atau perubahan situasi dapat sangat bervariasi.
Beth Maybury menceritakan bahwa ia sempat kesulitan diperlakukan dengan serius oleh staf festival karena sifat disabilitasnya yang tidak terlihat. Ia akhirnya harus menyusun cara agar bisa āmengisi ulangā energi di sela-sela rangkaian kegiatan selama akhir pekan.
Ia mengatakan, istirahat dengan kembali ke tenda menjadi salah satu strategi untuk menghadapi kepadatan dan intensitas suasana. Meski ia menggambarkan festival memberi kesempatan untuk merasa ābebasā bagi pengidap ADHD yang sering āmaskingāāmenutupi atau menahan ekspresi neurodivergenāia juga mengaku mudah terdorong pada kondisi berlebihan.
āYou can sing at the top of your lungs, you can get emotional about who’s on stage, nobody’s going to judge you,ā kata Maybury. Akan tetapi, ia menambahkan bahwa sekalipun ia menyukainya, ia bisa āoverwhelmed very easily.ā
Kate Graham juga mengangkat persoalan yang serupa, terutama terkait rangsangan lingkungan. Ia menggambarkan dirinya sebagai ātriple threatā dengan ADHD, autisme, dan dyspraxia, yang membuat aktivitas festival dapat terasa terlalu padat dan menekan.
Graham menilai festival menyenangkan untuk mencoba hal baru, tetapi āloud with nowhere quiet to hide (except a portaloo!)ā dan bisa menjadi āoverwhelming if too many people are in a crowded area.ā Ia menuturkan bahwa setelah satu festival yang ia sebut sangat berat, ia akhirnya āpacked up and found a Travelodge.ā
Menurutnya, ada banyak kerumunan dan kondisi lapangan seperti lumpur juga ikut memengaruhi. Ia mengaku sangat peka ketika merasakan rangsangan itu āall over me.ā
Langkah perbaikan dan contoh di Download Festival
Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga merilis pedoman pada awal tahun ini sebagai upaya agar penyandang disabilitas lebih merasa dilibatkan dalam acara musik live. Rekomendasi yang disebutkan mencakup perbaikan infrastruktur di lokasi, keamanan, pelatihan, serta sistem tiket, dengan koordinasi antara pemerintah di Inggris dan mitra di negara-negara UK.
Berita Terkait
Komite juga menyarankan agar proses tersebut dikembangkan bersama organisasi yang dipimpin oleh penyandang disabilitas, termasuk Stay Up Late yang mendorong pelibatan penampilan ārelaxed performances.ā
Di Download Festival yang berlangsung pada bulan Juni, penyelenggara mengaku menyiapkan area khusus untuk pengunjung neurodivergen. Ruang tersebut mencakup headphone peredam kebisingan, mainan fidget, selimut berbobot, serta aktivitas tenang seperti mewarnai dan teka-teki.
Langkah itu mengikuti putusan Equality and Human Rights Commission yang menyebut Live Nationāpemilik Festival Republic yang menjalankan Reading and Leeds, Download, dan Wirelessāperlu membuat acara lebih mudah diakses. Dengan kata lain, perubahan diharapkan tidak berhenti pada akses formal, melainkan menyentuh kebutuhan nyata saat penonton berada di lapangan.
Menanggapi keluhan yang muncul, terutama terkait masalah aksesibilitas di Download pada 2023 dan Wireless pada 2022, juru bicara Live Nation menyatakan bahwa pihaknya ārecognise large-scale festivals can be intense environments, and that some fans may need additional support at different points during the weekendā.
Ia menambahkan, Live Nation menyiapkan ādedicated sensory calm spaces, a quiet campsite, welfare facilities and specialist wellbeing support.ā Pernyataan itu menggambarkan bahwa dukungan yang dimaksud tidak hanya bersifat ruang tenang, tetapi juga layanan kesejahteraan dan dukungan kesehatan mental.
Kebutuhan berbeda-beda, staf perlu pelatihan
Sejumlah pengunjung jangka panjang menilai festival tetap memiliki nilai besar, termasuk karena rutinitas dan suasananya. Alex Richardson, yang sudah menghadiri acara seperti Reading dan Leeds serta Truck selama satu dekade terakhir, mengatakan festival memberi struktur yang membantunya.
Ia menyebut, āI really like the atmosphere, I just love the whole event [of a festival], the 27-year-old says.ā Namun, ia juga mengakui bahwa kadang semuanya bisa terasa āa bit too much,ā sehingga ia perlu mencari area yang lebih tenang untuk bersantai.
Richardson mengaku menikmati bahwa ruang sensoris memang makin tersedia, tetapi ia masih ingat ketika awal kali datang ke festival dahulu āthere was none of that.ā Di masa sekarang, ia merasa festival āare becoming more inclusive,ā kendati ia menekankan masih ada pekerjaan rumah di pelatihan staf.
Ia menjelaskan, pelatihan dibutuhkan agar staf bisa membaca tanda ketika seseorang āis having a meltdown or struggling.ā Dalam penjelasan National Autistic Society, meltdown digambarkan sebagai respons intens terhadap situasi yang terasa melampaui batas, yaitu āan intense response to an overwhelming situation.ā
Richardson menyarankan staf yang sudah terlatih memakai pakaian yang mudah dikenali agar penonton yang membutuhkan bantuan dapat menemukannya lebih cepat. Ia menilai akses bukan hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi juga soal kemampuan orang di lokasi untuk merespons situasi dengan tepat.
Paul Hawkins, pimpinan organisasi Attitude is Everything yang bekerja meningkatkan pengalaman bagi penyandang disabilitas di konser dan acara publik, menekankan tantangan utama ada pada pengenalan kebutuhan individu. āDifferent neurodivergent people have very different experiences,ā katanya.
Hawkins setuju ruang tenang dan tenda-tenda sensoris berdampak besar selama beberapa tahun terakhir. Tetapi, ia juga menilai masih ada jarak yang perlu ditempuh, terutama dalam manajemen kerumunan dan penyediaan rute yang lebih sepi agar akses menuju area ramah penonton menjadi lebih mudah.
Ia menegaskan, āThere’s not really a lot of excuses for festivals not getting the basics right because the information is all out there and it’s quite easy to find.ā
Intinya, perbaikan aksesibilitas festival tidak cukup dengan satu jenis fasilitas, melainkan harus dipadukan dengan pemahaman atas kebutuhan neurodivergen yang beragam. Dari ruang sensoris hingga dukungan staf, pengunjung berharap perubahan yang konsisten agar pengalaman festival benar-benar bisa dinikmati tanpa harus terus mencari cara sendiri untuk bertahan.












