Pendidikan

Prof Peter Fonagy: Kesehatan mental remaja meningkat, bukan “generasi salju”

×

Prof Peter Fonagy: Kesehatan mental remaja meningkat, bukan “generasi salju”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Young people are not snowflakes, head of mental health review says
Prof Peter Fonagy menolak anggapan bahwa remaja masa kini adalah “generasi salju”. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC, ia menyebut ada kenaikan nyata dalam tekanan kesehatan mental pada anak dan remaja, disertai kecemasan, depresi, melukai diri sendiri, hingga gangguan makan. Fonagy, yang memimpin kajian independen mengenai kesehatan mental anak, ADHD, dan autisme, mengatakan diskursus tentang “generasi salju” hanya mengaburkan persoalan yang lebih luas. Ia menekankan bahwa tantangan yang dihadapi remaja saat ini bersifat serius dan berskala, bukan sekadar respons terhadap hal-hal kecil. Ia menjelaskan, “harder to be young” karena ketidakpastian ekonomi dan pekerjaan yang mereka hadapi, bersamaan dengan tekanan yang muncul dari media sosial. Menurutnya, kombinasi itu membentuk lingkungan yang “very toxic” bagi generasi muda. Kajian ini dipesan sembilan bulan lalu oleh Wes Streeting setelah pejabat kesehatan saat itu menyampaikan bahwa anak muda terlampau sering didiagnosis dan “written off”. Fonagy mengatakan keterangannya kepada BBC dilakukan sebelum publikasi laporan pekan ini, karena ia khawatir perdebatan seputar ADHD dan autisme akan menutup isu kesehatan mental yang lebih besar. Ada perdebatan lain di masyarakat: sebagian orang menilai peningkatan kasus terjadi karena kesadaran yang makin tinggi, lalu stres kehidupan sehari-hari keliru ditafsirkan sebagai gangguan mental. Fonagy mengakui bahwa peningkatan pengetahuan memang membuat lebih banyak orang mencari bantuan medis, tetapi ia tetap berpendapat pengalaman yang dialami anak muda mencerminkan kenaikan masalah kesehatan mental yang nyata.

jurnalistik.co.id – Latar pribadi dan dasar keyakinan

Fonagy juga berbicara dari pengalaman pribadinya. Ia menceritakan ia pernah menghadapi pergulatan kesehatan mental ketika remaja, termasuk pikiran untuk bunuh diri setelah pindah ke London dari Hongaria tanpa orang tuanya. Ia kemudian bersyukur mendapat terapi dari layanan lokal yang “saved his life”, dan peristiwa itu menjadi pendorong keinginannya membantu anak muda. “It’s harder to be young now,” kata Fonagy, menambahkan kajiannya “dismisses the idea of a snowflake generation”. Ia mengatakan dirinya “in awe of the way they have adjusted to an environment that is far more difficult than I ever had to face.” Dalam penjelasan lebih tajam, Fonagy menggambarkan remaja menghadapi tantangan serius yang tidak ia bayangkan akan mereka terima di usia yang sama seperti saat ia muda. Ia juga mengutarakan kritik pada orang dewasa: “Adults have let them down. We’re the first generation that probably collectively feels we had a better life than our children will have.” Ia lalu menutup tanggapannya untuk mereka yang menyebut remaja terlalu sensitif dengan kalimat, “So, to the person who says it’s a snowflake generation, just try living 24 hours as a 16-year-old.”

Temuan kajian dan perdebatan data

Fonagy menjelaskan kajiannya disusun bersama lebih dari 100 ahli serta keluarga yang memiliki pengalaman menghadapi persoalan kesehatan mental. Ia menyatakan laporan itu menyimpulkan bahwa peningkatan masalah kesehatan mental sejak dekade 1990-an benar-benar terjadi. Ia menyebut sekitar “one in four 16 to 24-year-olds” kini kesulitan. Namun, ia juga mengakui data tersebut diperebutkan, karena sebagian sumber mengandalkan laporan diri, sementara para skeptis berargumen bahwa meningkatnya kesadaran dan menurunnya stigma membuat lebih banyak orang berani menyampaikan kondisi yang mereka alami. Ada pula pertanyaan apakah masyarakat kini sedang melakukan “over-medicalising” terhadap penderitaan. Dalam pandangan kritis ini, sebagian orang khawatir diagnosis diberikan ketika yang sesungguhnya sedang terjadi hanyalah stres sementara yang seharusnya dipelajari untuk dihadapi. Fonagy merujuk bahwa BBC sebelumnya menemukan banyak dokter umum memiliki kekhawatiran mengenai over-diagnosis dan menilai stres normal dalam hidup menjadi terlalu dimedicalisasi.

Kondisi yang menonjol pada remaja

Di sisi lain, Fonagy tetap menegaskan bahwa apa yang dialami anak muda merupakan kenaikan nyata dalam masalah kesehatan mental. Ia juga menerima bahwa kesadaran yang lebih besar ikut mendorong lebih banyak orang mencari pertolongan. Ia mengatakan tren ini menyentuh anak laki-laki dan perempuan, tetapi terlihat lebih menonjol pada perempuan sejak usia sekitar 12 tahun. Fonagy menyebut kekhawatiran besar terkait agresi seksual dari anak laki-laki, namun ia juga menambahkan bahwa tekanan dan ekspektasi yang ditimpakan masyarakat pada perempuan dan perempuan muda turut menjadi faktor. “It’s very difficult to be a young woman now in secondary school.” Ia menguraikan bahwa remaja bergumul dengan berbagai kondisi. Dari gangguan makan dan kecemasan yang “that’s so powerful people avoid going to school”, hingga depresi yang “so strong people cannot sleep at night and lose their appetite and feel their life is not worth living”. Fonagy menyampaikan laporan itu juga akan menilai masalah diperburuk oleh pandemi, karena gangguan yang dialami kehidupan mereka.

Suara dari remaja yang pernah kesulitan

Fonagy menuturkan pentingnya pemerintah menerapkan temuan laporan itu saat laporan resmi terbit. Omari, 22, menyampaikan bahwa ia melihat rencana kebijakan tidak cukup berhenti pada “flashy report”. “It’s all very well having this flashy report, but it’s useless if they don’t put that into practice,” ujar Omari. Ia menceritakan masa sulit di sekolah dan mengatakan guru tidak mendengarkan ketika ia mengalami masalah. Ia menambahkan, “I made an attempt on my life because I was really struggling with bullying. I was 15.” Omari menuturkan bahwa ketika akhirnya ia dirawat di rumah sakit, perhatian muncul dari pihak sekolah, tetapi ia menilainya terlambat: “Suddenly, when I did end up in hospital, they all wanted to care. But it’s like you’re a bit too little, too late here.” Mattea, 17, yang tinggal di hunian sosial sementara, juga mengaku bergulat dengan kecemasan dan depresi. Ia menyampaikan, “I don’t know what’s going to happen to my life,” sambil menilai bahwa orang dewasa tidak menolongnya sebagaimana mestinya. Ia mengatakan, “No one’s going to come and sort my life out for me. I have to do it on my own.”

Kebutuhan dukungan dan langkah yang dianggap mendesak

Fonagy menilai dukungan untuk anak muda perlu ditingkatkan. Ia menyatakan layanan kesehatan “is simply not equipped to cope” dan “It’s not fit for purpose.” Ia menyinggung banyak orang tertinggal dalam antrean, seraya menyebut data bahwa “one in three people referred to mental health services are still waiting for help after a year.” Ia mengakui beberapa langkah positif sedang dijalankan, termasuk perluasan tim kesehatan mental yang bekerja dekat dengan sekolah. Namun, ia menekankan bahwa penanganan masalah ini membutuhkan tindakan lintas sektor: pendidikan, pekerjaan, perumahan, sampai keluarga itu sendiri. Sebagai contoh, Fonagy menilai pemotongan layanan untuk anak muda selama sekitar satu dekade terakhir membuat lebih sedikit tempat untuk mereka berkumpul, bertemu, dan membangun rasa memiliki. Ia menyatakan kebutuhan kesempatan partisipasi: “We need to have opportunities for them to participate, because participating in things… maintains good mental health.” Ia juga menekankan bahwa kesepian di kalangan anak muda meningkat sejak tahun 2000, yang ia kaitkan dengan makin luasnya penggunaan ponsel dan media sosial. Menurutnya, hal itu mengurangi kontak tatap muka serta mengganggu pola tidur, keduanya berdampak pada kesehatan mental. Meski begitu, Fonagy tidak membatasi solusi pada penggunaan ponsel. Ia menyebut keluarga dan teman juga bisa bertindak melalui cara sederhana, seperti memberi perhatian nyata saat melihat perubahan pada seseorang. “Saying to someone, ‘I notice you’re not quite the same as yesterday. Is there anything the matter?’ Knowing there is someone who knows makes an enormous difference.”

Harapan Fonagy

Pada akhirnya, Fonagy berharap masyarakat bisa bekerja bersama agar perbaikan benar-benar terasa bagi remaja. “I want young people to hear that when they feel anxious, depressed or distressed, that it’s a real problem, but a problem we can do something about.” Ia menegaskan harapannya bukan hanya untuk sebagian orang, tetapi untuk semua: “When I needed help, I got it. I want everyone to have that chance.”