jurnalistik.co.id – Latar pribadi dan dasar keyakinan
Fonagy juga berbicara dari pengalaman pribadinya. Ia menceritakan ia pernah menghadapi pergulatan kesehatan mental ketika remaja, termasuk pikiran untuk bunuh diri setelah pindah ke London dari Hongaria tanpa orang tuanya. Ia kemudian bersyukur mendapat terapi dari layanan lokal yang “saved his life”, dan peristiwa itu menjadi pendorong keinginannya membantu anak muda. “It’s harder to be young now,” kata Fonagy, menambahkan kajiannya “dismisses the idea of a snowflake generation”. Ia mengatakan dirinya “in awe of the way they have adjusted to an environment that is far more difficult than I ever had to face.” Dalam penjelasan lebih tajam, Fonagy menggambarkan remaja menghadapi tantangan serius yang tidak ia bayangkan akan mereka terima di usia yang sama seperti saat ia muda. Ia juga mengutarakan kritik pada orang dewasa: “Adults have let them down. We’re the first generation that probably collectively feels we had a better life than our children will have.” Ia lalu menutup tanggapannya untuk mereka yang menyebut remaja terlalu sensitif dengan kalimat, “So, to the person who says it’s a snowflake generation, just try living 24 hours as a 16-year-old.”Temuan kajian dan perdebatan data
Baca Juga:
NAHT Desak Hentikan Inspeksi Ofsted Berjenjang: Dikhawatirkan “risk to life” bagi Pimpinan Sekolah
Fonagy menjelaskan kajiannya disusun bersama lebih dari 100 ahli serta keluarga yang memiliki pengalaman menghadapi persoalan kesehatan mental. Ia menyatakan laporan itu menyimpulkan bahwa peningkatan masalah kesehatan mental sejak dekade 1990-an benar-benar terjadi.
Ia menyebut sekitar “one in four 16 to 24-year-olds” kini kesulitan. Namun, ia juga mengakui data tersebut diperebutkan, karena sebagian sumber mengandalkan laporan diri, sementara para skeptis berargumen bahwa meningkatnya kesadaran dan menurunnya stigma membuat lebih banyak orang berani menyampaikan kondisi yang mereka alami.
Ada pula pertanyaan apakah masyarakat kini sedang melakukan “over-medicalising” terhadap penderitaan. Dalam pandangan kritis ini, sebagian orang khawatir diagnosis diberikan ketika yang sesungguhnya sedang terjadi hanyalah stres sementara yang seharusnya dipelajari untuk dihadapi.
Fonagy merujuk bahwa BBC sebelumnya menemukan banyak dokter umum memiliki kekhawatiran mengenai over-diagnosis dan menilai stres normal dalam hidup menjadi terlalu dimedicalisasi.
Kondisi yang menonjol pada remaja
Berita Terkait
Suara dari remaja yang pernah kesulitan
Fonagy menuturkan pentingnya pemerintah menerapkan temuan laporan itu saat laporan resmi terbit. Omari, 22, menyampaikan bahwa ia melihat rencana kebijakan tidak cukup berhenti pada “flashy report”. “It’s all very well having this flashy report, but it’s useless if they don’t put that into practice,” ujar Omari. Ia menceritakan masa sulit di sekolah dan mengatakan guru tidak mendengarkan ketika ia mengalami masalah. Ia menambahkan, “I made an attempt on my life because I was really struggling with bullying. I was 15.” Omari menuturkan bahwa ketika akhirnya ia dirawat di rumah sakit, perhatian muncul dari pihak sekolah, tetapi ia menilainya terlambat: “Suddenly, when I did end up in hospital, they all wanted to care. But it’s like you’re a bit too little, too late here.” Mattea, 17, yang tinggal di hunian sosial sementara, juga mengaku bergulat dengan kecemasan dan depresi. Ia menyampaikan, “I don’t know what’s going to happen to my life,” sambil menilai bahwa orang dewasa tidak menolongnya sebagaimana mestinya. Ia mengatakan, “No one’s going to come and sort my life out for me. I have to do it on my own.”Kebutuhan dukungan dan langkah yang dianggap mendesak
Fonagy menilai dukungan untuk anak muda perlu ditingkatkan. Ia menyatakan layanan kesehatan “is simply not equipped to cope” dan “It’s not fit for purpose.” Ia menyinggung banyak orang tertinggal dalam antrean, seraya menyebut data bahwa “one in three people referred to mental health services are still waiting for help after a year.” Ia mengakui beberapa langkah positif sedang dijalankan, termasuk perluasan tim kesehatan mental yang bekerja dekat dengan sekolah. Namun, ia menekankan bahwa penanganan masalah ini membutuhkan tindakan lintas sektor: pendidikan, pekerjaan, perumahan, sampai keluarga itu sendiri. Sebagai contoh, Fonagy menilai pemotongan layanan untuk anak muda selama sekitar satu dekade terakhir membuat lebih sedikit tempat untuk mereka berkumpul, bertemu, dan membangun rasa memiliki. Ia menyatakan kebutuhan kesempatan partisipasi: “We need to have opportunities for them to participate, because participating in things… maintains good mental health.” Ia juga menekankan bahwa kesepian di kalangan anak muda meningkat sejak tahun 2000, yang ia kaitkan dengan makin luasnya penggunaan ponsel dan media sosial. Menurutnya, hal itu mengurangi kontak tatap muka serta mengganggu pola tidur, keduanya berdampak pada kesehatan mental. Meski begitu, Fonagy tidak membatasi solusi pada penggunaan ponsel. Ia menyebut keluarga dan teman juga bisa bertindak melalui cara sederhana, seperti memberi perhatian nyata saat melihat perubahan pada seseorang. “Saying to someone, ‘I notice you’re not quite the same as yesterday. Is there anything the matter?’ Knowing there is someone who knows makes an enormous difference.”Harapan Fonagy
Pada akhirnya, Fonagy berharap masyarakat bisa bekerja bersama agar perbaikan benar-benar terasa bagi remaja. “I want young people to hear that when they feel anxious, depressed or distressed, that it’s a real problem, but a problem we can do something about.” Ia menegaskan harapannya bukan hanya untuk sebagian orang, tetapi untuk semua: “When I needed help, I got it. I want everyone to have that chance.”











