Entertainment

Tren Filler Penis pada Pria: Apakah Aman?

×

Tren Filler Penis pada Pria: Apakah Aman?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Men are turning to penis fillers, but are they safe?

jurnalistik.co.id – Tren penambahan volume penis menggunakan filler kini makin dibicarakan, meski perdebatan soal keamanannya belum mereda. Sejumlah pria mengatakan hasilnya memberi rasa percaya diri, sementara dokter justru mengingatkan dampak serius bila prosedur meleset.

Di Inggris, kisah “Jason” menggambarkan daya tarik dan harapan yang mendorong sebagian orang mencari perawatan ini. Ia menyebut penisnya diberi julukan “Coke can” karena bentuknya menyerupai kaleng minuman—sebutan yang muncul ketika filler terlalu banyak.

Jason mengatakan prosedurnya meningkatkan girth sebesar 16%, dan ia bersama pasangannya merasa puas. Ia juga menegaskan, “Everything still functions” seperti biasa, hanya dengan “that extra little bit of width”.

Namun, ketersediaan data yang rapi membuat gambaran skala praktik ini tidak jelas. Sebagian orang menilai tren filler penis tidak terlihat seperti popularitas lip filler, karena jumlah kasus yang terdokumentasi tidak mudah dipantau.

Masalah lain yang mengemuka adalah minimnya regulasi. Siapa pun dapat memulai penawaran prosedur ini, sehingga tidak ada catatan resmi yang benar-benar memetakan pelaku maupun pasien.

Filler penis bahkan sempat masuk ke teori konspirasi yang beredar pada Olimpiade Musim Dingin. Disebutkan bahwa atlet ski jump mungkin memakai filler untuk memperbesar luas permukaan pakaian agar bisa melompat lebih jauh.

Di sisi yang lebih kelam, ada kasus yang berakhir di A&E. Beberapa pria dilaporkan mengalami penis yang “turning black” serta kulit yang “sloughing off” setelah prosedur yang gagal.

Jason menggambarkan pertimbangannya sebelum memutuskan tindakan. Ia menolak opsi operasi karena ingin memperoleh “bit more symmetry” dan menambah girth untuk mendapatkan “that nice, balanced look”.

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan pilihan itu dengan rasa kurang yang menurutnya wajar: “If you feel like it’s a bit lacking,” Jason mengatakan, “then, why not?”

Ia memilih jenis filler berbasis asam hialuronat (hyaluronic acid) karena efeknya sementara. “that is temporary so he knew that even if he hated the look it would ‘eventually just dissolve’”, ujarnya.

Jason juga menegaskan ia tidak memosisikan keinginannya sebagai dorongan stereotip maskulinitas. Ia mengatakan, “I don’t subscribe to ‘how big your dick is, is how big of a man you are’”.

Menurutnya, ekspektasi terkait penampilan pria ikut bergeser. Ia menyebut, “It’s not just women that need to keep up, men need to keep up as well,” lalu menambahkan, “It’s literally just society changing. I think the way the media portrays everything has a massive impact on everyday life now,” dan “It’s like you can’t actually go anywhere without seeing some picture-perfect somebody.”

Proses yang ia jelaskan melalui kunjungan ke klinik mengikuti tahapan konsultasi terlebih dahulu. Diskusi mencakup kesehatan pasien, alasan ingin melakukan prosedur, ekspektasi hasil, hingga pembahasan risiko.

Pada hari tindakan, penis diinjeksikan dengan hyaluronic acid sebanyak tiga kali: di bagian atas dan di kedua sisi. Zat filler disalurkan lewat kanula yang masuk dari pangkal lalu berjalan sepanjang badan (shaft), kemudian diraba-pijat agar tampilan lebih rata dan pasien melanjutkannya di rumah.

Jason memaparkan biaya yang disebut bisa mencapai £3,500. Dalam informasi yang ia terima, pasien dapat mengharapkan 10% sampai 20% girth tambahan untuk periode sekitar enam hingga sembilan bulan.

Meski begitu, risiko tetap menjadi bagian dari perhitungan. Dampaknya bisa berupa keluhan relatif ringan seperti nyeri, memar, hingga filler yang tidak merata; namun pada kategori yang lebih serius, dapat berkembang menjadi infeksi.

Selain itu, ada kekhawatiran tentang kerusakan struktur vital dan pembuluh darah pada penis yang dibutuhkan untuk ereksi. Saat ditanya mengapa ia merasa nyaman menawarkan prosedur yang dipandang bermasalah oleh sebagian dokter, Hussain menyatakan ia memahami kegelisahan itu, “It comes from the right place, that nervousness,” tetapi ia juga mengklaim “more and more evidence is growing” serta adanya “there is a benefit” bagi pria.

Hussain menyebut adanya rencana cepat bila keadaan memburuk, termasuk obat untuk membantu melarutkan filler. Ia mengatakan, mereka punya “an immediate action plan” dan ia melaporkan “thankfully, we’ve never needed to”—meski laporan itu tidak bisa diverifikasi secara independen.

Ia justru mengingat satu pasien yang datang untuk konsultasi setelah tindakan di tempat lain “really gone wrong”. Menurutnya, tipe filler yang digunakan keliru, hingga “the shaft of the penis was starting to become black” karena prosedur merusak pembuluh darah dan kulit mulai mengalami kerusakan.

Pria tersebut kemudian dirujuk langsung ke A&E. Kisah ini menegaskan bahwa kehati-hatian bukan sekadar slogan, melainkan soal keselamatan struktur dan respons jaringan.

Prof Vaibhav Modgil, seorang andrologist dan konsultan bedah urologi untuk NHS di Manchester, juga melihat pasien yang kembali ke rumah sakit setelah prosedur yang gagal. Ia berkata, “When it does happen, it can be devastating for the patient,” dan mengingat kasus dengan “skin necrosis”, ketika area kulit mati menjadi sangat hitam lalu “it sort of sloughs off”.

Modgil menambahkan bahwa hasil yang dibayangkan bisa berbeda total dari kenyataan. “So, men will go in thinking, ‘Oh, it’s gonna be brilliant’, but they might come out actually being even more dissatisfied than when they went in.”

Alex, yang tidak ingin namanya dipakai, memberi contoh lain dari dunia perawatan pembesaran yang tidak selalu melulu soal filler. Ia melakukan prosedur berbeda di Jerman: operasi untuk memotong ligamen yang menempelkan penis ke tulang pubis agar terlihat lebih panjang, serta mengambil sel lemaknya sendiri lalu menginjeksikannya untuk menambah ukuran.

Alex mengatakan setelah prosedur, ia merasakan nyeri yang sangat berat hingga tidak bisa berdiri. Ia menyebut, “I sustained a lot of bruising and all my upper legs turned yellow,” dan ia tidak bisa berjalan dengan baik “for about a month.”

Ia kemudian dirawat di klinik Modgil, dan akhirnya dinyatakan pulih. “Many people do not get that luxury,” ujarnya, “I got off lucky.”

Alex juga mengaitkan keputusan itu dengan persepsi sosial dan pornografi. Ia mengatakan ia sebenarnya tidak merasa “small” sejak awal, tetapi masyarakat dan porn membuatnya percaya bahwa penis yang lebih besar adalah “masculine and the best”.

Sementara itu, Modgil menekankan minimnya data resmi. Meski tidak ada angka baku tentang jumlah prosedur pembesaran penis, ia menyatakan tren pencarian online, iklan, dan media sosial “points to the fact that the numbers are on the up”.

Situasi ini mendorong British Association of Urological Surgeons menerbitkan rekomendasi baru yang mengarah pada penolakan praktik semacam itu. Modgil menjelaskan, panduan yang mereka susun “essentially says we cannot recommend that any of these procedures should take place because the evidence is so poor”.

Ia menambahkan bahwa kajian tersebut meneliti 36 studi dengan total 3,750 pria, tetapi tetap “not clear what the ‘safety profile’” prosedur-prosedur tersebut. Menurutnya, ketidakjelasan ini juga terkait kurangnya data mengenai efek jangka panjang filler penis.

Modgil juga menyuarakan kekhawatiran soal kualifikasi pelaksana. Ia menyebut ada kemiripan dengan lip filler: “you do not need any qualifications to perform the procedure.”

Terkait solusi, Modgil menilai pelarangan menyeluruh “probably too severe”, namun jika praktik ini akan berlanjut, industri “massively needs regulation”. Ia menyerukan adanya registri nasional untuk mencatat kapan prosedur dilakukan, sekaligus pengumpulan data jangka panjang agar pria bisa menimbang risiko dan manfaat secara lebih informasi.

Di Manchester, Jason menyatakan kepuasannya dengan hasil saat ini. Ia berpikir ia akan mengulangi prosedur itu ketika filler yang sedang bekerja mulai hilang.