jurnalistik.co.id – Aktivitas menyelam untuk berinteraksi dengan hiu dan mengabadikannya kini makin sering viral di media sosial, namun para pakar mengingatkan risikonya bisa meningkat ketika orang terlalu dekat atau mencoba menyentuh hewan tersebut.
Di tengah tren itu, Tayane Dalazen menjadi salah satu contoh yang menunjukkan bahwa momen “shot” terbaik tidak selalu berakhir aman.
Insiden Tayane Dalazen di pesisir Brasil
Tayane Dalazen, pengacara berusia 37 tahun dari Brasil dan figur media sosial, menceritakan pengalaman saat mengikuti trip diving di pesisir Brasil pada bulan April.
Ia sempat menyadari ada yang tidak beres karena, menurutnya, hiu-hiu berada di permukaan.
“I knew something was different because the sharks were on the surface,” kata Dalazen.
Ia menambahkan, “There were a lot of them,” sebelum akhirnya mengetahui bahwa penyelenggara tur memberi makan hiu agar hewan tersebut berinteraksi dengan wisatawan.
“Later, I discovered [the tour organisers] were feeding the sharks so that they would interact with the tourists.”
Dalazen mengatakan ia berasal dari Sao Paulo dan saat sedang menyelam ia tiba-tiba merasakan “strong pressure” di kakinya.
“Dalazen, from Sao Paulo, was on a shark-diving trip on the Brazilian coast in April when she suddenly felt “strong pressure” on her leg.”
Ketika hiu menggigitnya, rasa sakit yang ia rasakan sangat kuat.
“When the shark bit me, the pain was very strong,” ujarnya.
Ia memilih tetap tenang karena meyakini ia tidak bisa melawan hewan tersebut.
“I stayed calm because I knew I couldn’t fight the animal.”
Menurut ceritanya, seekor nurse shark—hiu yang berukuran lebih dari tujuh kaki atau sekitar dua meter—mengatupkan rahangnya pada paha Dalazen.
Hiu itu menahannya di bawah air selama beberapa detik sebelum akhirnya melepaskannya, dan Dalazen bisa melarikan diri.
Ia mengatakan kejadian itu sangat menakutkan, serta meninggalkan luka berupa sayatan di paha.
“…was “very frightening”.” dan “left her with lacerations to her thigh”, kata Dalazen dalam laporan tersebut.
Setelah insiden, Dalazen mengunggah rekaman gigitan itu, yang kemudian telah ditonton puluhan juta kali.
Ia juga menegaskan ia tidak datang dengan tujuan untuk mengejar perhatian media sosial, namun ia mengakui ia terlalu dekat dengan hewan-hewan tersebut.
“she says she “wasn’t there for social media” and didn’t touch or provoke the shark, she admits she was too close to the animals.”
Gambaran lebih luas: dari kasus influencer hingga kekhawatiran ilmuwan
Pakar menyebut insiden hiu menggigit manusia sebenarnya sangat jarang, tetapi dalam kurang dari setahun terakhir, setidaknya tiga influencer dilaporkan mengalami gigitan.
Di sisi ilmuwan, perhatian mereka mengarah pada meningkatnya video yang menunjukkan orang berenang terlalu dekat, menyentuh, bahkan “mengendarai” hiu demi konten.
Kristian Parton, ilmuwan hiu yang juga membawakan kanal YouTube “Shark Bytes”, mengatakan ia melihat pola yang makin intens.
“I’m seeing these videos every single week now and it’s way more than it ever used to be,” ujarnya.
“We’re going to see people ending up in really serious incidents with sharks,” tambah Parton.
Ia menyebut ada sejumlah kasus lain yang terekam, termasuk pada bulan Juli ketika seorang influencer bidang memancing hampir kehilangan kakinya setelah diserang reef shark saat spearfishing.
Selain itu, pada bulan Desember, kreator konten asal Tiongkok dilaporkan digigit hiu di Maladewa.
International Shark Attack File, lembaga yang mencatat interaksi manusia dan hiu di seluruh dunia, juga mengatakan mereka melihat peningkatan dalam tiga tahun terakhir terkait orang yang digigit saat mencoba mengambil rekaman atau gambar dengan hiu.
Studi yang menelaah ekspedisi “swim with wildlife” menemukan bahwa influencer dan fotografer lebih berisiko mengabaikan instruksi keselamatan dibandingkan peserta lain.
Contoh lain yang terekam video
Di Karibia, otoritas setempat melaporkan pada Februari tahun lalu seorang wisatawan mengalami kehilangan kedua tangannya setelah hiu menggigit saat ia mencoba mengambil foto hiu banteng dari area dangkal.
Laporan itu menyebut bahwa dua bulan setelahnya, seorang penyelam snorkel di Israel yang membawa “selfie stick” dilaporkan tewas akibat serangan hiu saat berupaya mendapatkan foto.
Berbagai kejadian tersebut memperlihatkan satu kesamaan: perilaku mendekat demi mendapatkan momen visual.
Risiko tetap rendah, tetapi tidak berarti aman
Berita Terkait
Meski demikian, tingkat risiko serangan hiu tetap sangat rendah.
BBC mencatat jumlah serangan hiu yang tidak diprovokasi secara global relatif stabil selama sekitar 30 tahun terakhir, yakni sekitar 70 gigitan per tahun.
Dalam kasus Dalazen, nurse shark dikenal sebagai spesies yang lebih “docile”, namun perilaku mendekat tetap bisa berujung pada cedera.
Sejumlah influencer lain bahkan sempat direkam saat menyentuh tiger sharks dan great whites.
Parton menegaskan masalah utamanya bukan sekadar jenis hiunya, melainkan karakter hewan yang hidup liar.
“We’re talking about a true apex predator, a very large wild animal,” katanya.
Ia memberi analogi agar publik memahami batas yang seharusnya tidak dilanggar, “You wouldn’t walk into the Serengeti and try and put your hand on the face of a lion.”
Menurutnya, hiu sering melakukan gigitan defensif atau “exploratory” ketika manusia dianggap mengganggu ruang personalnya.
Interaksi manusia juga dapat menimbulkan stres pada hewan.
Penelitian ilmiah menunjukkan pendekatan atau sentuhan pada hiu dapat memicu kadar hormon glucocorticoids yang tinggi.
Hormon itu dapat menyebabkan sistem imun melemah, kematian meningkat, hingga keturunan yang gagal berkembang.
“If you’re approaching the shark and stressing it out, whether it be in a nursery habitat, a breeding ground, or a feeding area, you’re depriving that shark of an area that’s important to it to survive,” jelas Parton, “and that’s definitely a problem.”
Perdebatan di balik konten hiu: Ocean Ramsey
Salah satu kreator konten hiu yang paling dikenal adalah Ocean Ramsey, perempuan berusia 38 tahun dan mantan model, yang meraih ketenaran pada 2019 setelah fotonya beredar saat berenang bersama salah satu great white shark terbesar.
Ia kerap memposting rekaman saat menyentuh hiu dan memegang bagian sirip punggungnya.
Ramsey berbicara kepada BBC dari sebuah perahu di Hawaii, tempat ia menjalankan tur “Dive with Ocean” bagi pelanggan berbayar.
“My intent with all of my content has never been to gain views, it’s to gain protection for sharks,” kata Ramsey.
Ia menambahkan, “I’ve contributed to research articles, data collection… all of my work stems down to education.”
Ramsey menolak anggapan bahwa mendekat dan menyentuh hiu merugikan hewan.
“Most of my work and what I share is respecting and observing from a distance,” ujarnya, “I observe their behaviour and they choose to interact with me. They always make the first approach.”
Ketika ditanya soal klaim ilmuwan bahwa video menyentuh hiu dapat mendorong orang mengambil risiko serupa, Ramsey menanggapi dengan penekanan pada akuntabilitas.
“You’ve got to give the general public some accountability,” tegas Ramsey.
“I think most people are observing what I’m sharing with an educational message and they’re not going out to just replicate that.”
Respons pakar: “ludicrous” dan alasan konservasi
BBC juga berbincang dengan beberapa kreator konten yang semuanya menolak menyebut mereka termotivasi oleh tayangan, klik, atau pendapatan, serta mengatakan mereka mendukung konservasi atau berupaya mengubah persepsi publik tentang hiu.
Namun, ahli hiu Dr Jack Cooper menyebut klaim-klaim tersebut sebagai “ludicrous”.
“I really cannot explain how going up to a shark and touching it or riding it is doing anything to aid conservation,” ujarnya.
“All you’re doing is showing a shark getting harassed by a human,” lanjutnya.
Ia menilai tindakan itu tidak mempromosikan kebijakan untuk mengurangi penangkapan berlebih atau memberi perlindungan tambahan, serta tidak menyumbang data ilmiah untuk menilai kondisi populasi hiu atau kebijakan yang benar-benar membantu konservasi.
“And that’s not promoting any policies about what we could do to reduce overfishing or to give more protections for sharks,” kata Cooper.
“And it’s certainly not providing scientific data that will tell us how the shark populations are doing or what policies might actually help conserve them.”
Mengapa jumlah insiden bertambah
Eric Clua, ahli biologi kelautan dari École Pratique des Hautes Études di Paris, yang meneliti motivasi di balik gigitan hiu, mengatakan kejadian karena orang terlalu dekat meningkat karena kini hiu dipandang kurang berbahaya dibanding sebelumnya.
“The message transmitted by influencers is ‘Look! Touch the shark, nothing will happen to you,'” ujarnya.
Clua juga menyoroti popularitas snorkeling dan diving yang terus tumbuh di berbagai negara.
Situs perjalanan TripAdvisor mencatat lebih dari 140 pengalaman serupa di Maladewa saja, dan beberapa daftar bahkan mempromosikan “the ultimate selfie” bersama hiu.
Meski daya tariknya besar, peringatan para ahli tetap sama: mengejar foto paling sempurna bisa berujung harga yang menyakitkan.












