jurnalistik.co.id – WASHINGTON—Laksamana Madya (Purn.) Angkatan Laut AS menilai kemampuan laut negaranya belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan. Penilaian itu disampaikannya dalam wawancara bersama Al Jazeera.
Menurut Miller, AS tidak memiliki “kekuatan Angkatan Laut yang memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan”. Ia menempatkan komentar tersebut pada konteks armada kapal induk yang selama ini kerap dipandang besar.
AS, lanjutnya, sudah memiliki 11 kapal induk. Namun, Miller menekankan bahwa angka tersebut tidak otomatis berarti kesiapan operasional yang menyeluruh pada waktu yang sama.
“Angka sebelas terdengar banyak,” ujar Miller kepada Al Jazeera. Meski demikian, ia mengatakan kesiapan pengerahan tidak bisa diukur hanya dari jumlah kepemilikan di atas kertas.
Di balik totalitas armada, Miller menyebut hanya sebagian kecil yang benar-benar siap beroperasi di waktu tertentu. Ia menyoroti bahwa pemeliharaan menjadi kendala utama yang memengaruhi kapan sebuah kapal induk dapat digunakan.
Menurut penjelasannya, biasanya setidaknya satu kapal induk sedang menjalani perombakan besar sekaligus pengisian ulang bahan bakar. Proses tersebut, kata Miller, dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Sementara satu kapal induk menjalani pekerjaan berat itu, kapal-kapal lain tidak otomatis dapat bergerak. Sebaliknya, sebagian di antaranya berada dalam perbaikan rutin dan pelatihan, sehingga belum bisa dikerahkan untuk operasi tertentu.
Untuk menggambarkan cara menghitung kesiapan, Miller mengatakan jumlah total armada perlu dibagi menjadi tiga bagian. Dengan pembagian itu, ia menyusun gambaran tentang bagaimana armada akan terbagi pada satu hari tertentu.
Berita Terkait
“Jika kita memiliki sembilan kapal induk yang tersedia pada hari tertentu, maka tiga kapal bisa dikerahkan, tiga baru saja kembali, dan tiga lainnya sedang bersiap untuk berangkat kembali,” kata Miller. Rumus tersebut dipakai untuk menilai ketersediaan yang realistis, bukan sekadar akumulasi unit.
Miller juga menyinggung perbandingan jumlah dengan negara lain. Ia menyatakan bahwa AS memiliki delapan kapal induk lebih banyak dibanding pesaing terdekatnya, China, yang disebut memiliki tiga kapal induk.
Meski demikian, ia berpendapat keunggulan jumlah tidak langsung menyelesaikan persoalan kesiapan operasional. Dengan pola pemeliharaan dan siklus latihan, sebagian unit selalu berada dalam fase yang berbeda—siap, baru pulang, atau sedang bersiap—pada waktu yang sama.
Dalam pandangannya, perbedaan fase itulah yang membuat angka “11” tidak selalu sejalan dengan kemampuan memenuhi seluruh kebutuhan. Ia menegaskan, kunci berada pada siapa yang benar-benar tersedia pada hari tertentu.
Konsekuensinya, ketika kebutuhan muncul di wilayah tertentu, Washington dapat terpaksa menyesuaikan penempatan armadanya. Miller menilai kondisi itu terlihat dari keputusan pengalihan kapal induk di kawasan Asia-Pasifik.
Dalam penuturannya, ia menyebut AS mengerahkan kembali satu-satunya kapal induk mereka di Asia-Pasifik, yakni USS George Washington. Pengalihan ini dilakukan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.
Setelah penggantian di Asia-Pasifik, USS George Washington kemudian bergabung dengan USS George H.W. Bush di Timur Tengah. Miller memaparkan rangkaian tersebut sebagai contoh bagaimana pembagian kesiapan armada memengaruhi keputusan di tingkat wilayah.
Dari sudut pandang Miller, argumen inti tetap sama: kepemilikan 11 kapal induk tidak berarti AS bisa memenuhi seluruh kebutuhan secara serentak. Ia menempatkan persoalan pada irama kerja kapal induk yang ditentukan oleh perombakan besar, pengisian ulang bahan bakar, perbaikan rutin, serta pelatihan.
Dengan kerangka tiga bagian, Miller ingin menegaskan bahwa ketersediaan yang dapat dipakai pada suatu hari merupakan ukuran yang lebih menentukan. Penilaian itu, menurutnya, membantu menjelaskan mengapa 11 kapal induk tidak otomatis dianggap “cukup” untuk semua kebutuhan strategis.












