Olahraga

FIFA: “Nobody is selling football” saat lanjut rencana investasi Piala Dunia yang menuai kontroversi

×

FIFA: “Nobody is selling football” saat lanjut rencana investasi Piala Dunia yang menuai kontroversi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Fifa says 'nobody selling football' as in continues with controversial World Cup investment plan

jurnalistik.co.id – FIFA kembali menegaskan bahwa pihaknya tidak berniat “menjual sepak bola”, sambil melanjutkan proses yang dinilai kontroversial terkait rencana investasi pada ajang-ajang di bawah naungannya. Pernyataan ini muncul setelah UEFA memilih langkah tegas berupa boikot bila usulan tersebut tetap disetujui.

Dalam konteks konflik yang berkembang, FIFA—lewat presiden mereka Gianni Infantino yang menjabat sejak 2016—menyatakan bahwa proses konsultasi masih berjalan. FIFA juga menegaskan bahwa arah kebijakan yang dipersiapkan bukanlah bentuk penjualan yang mengubah tata kelola sepak bola seperti yang dituduhkan pihak tertentu.

UEFA ancam boikot Piala Dunia

UEFA, sebagai otoritas sepak bola Eropa, mengambil keputusan pada hari Kamis dengan menyatakan akan memboikot Piala Dunia apabila rencana FIFA tersebut diteruskan. Sikap ini menempatkan kedua pihak berada dalam eskalasi yang makin terbuka, terutama karena rencana investasi dinilai mengubah cara kompetisi dikelola.

FIFA disebut tengah melanjutkan rencana penjualan porsi kepemilikan pada kompetisi kepada investor swasta. Namun, FIFA membantah substansi tuduhan tersebut dan memilih menggunakan frasa “nobody is selling football” untuk merespons kritik.

CONCACAF ikut menolak proposal

Dari kawasan Amerika Utara dan Tengah serta Karibia, CONCACAF yang menaungi penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini juga menyatakan penolakannya. Organisasi itu menyebut bahwa 41 asosiasi anggotanya “rejected” proposal yang diajukan oleh Infantino.

Dengan struktur pengambilan keputusan di FIFA, rencana tersebut membutuhkan dukungan yang besar dari asosiasi-asosiasi anggotanya. FIFA menyebut bahwa Infantino harus memperoleh 106 suara dari total 211 anggota agar usulan tersebut bisa berjalan.

Dalam perhitungan tersebut, gabungan suara dari UEFA dan CONCACAF berada pada angka 96. Artinya, keputusan di luar kedua konfederasi tersebut akan menjadi penentu apakah rencana FIFA akan lolos pada tahap berikutnya.

FIFA klaim konsultasi terganggu pemberitaan keliru

Melalui pernyataan yang dirilis pada Jumat, FIFA menyebut bahwa proses konsultasi sempat “disrupted by incorrect media reports”. FIFA juga menegaskan bahwa mereka menghargai masukan serta kekhawatiran yang disampaikan di ruang publik.

Dalam pernyataan yang sama, FIFA mengatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen pada konsultasi yang terbuka dan demokratis. FIFA menegaskan bahwa proses yang dijalankan bertujuan memastikan tiap asosiasi anggota dapat menyampaikan suara berdasarkan fakta.

FIFA lalu mengulang penolakannya terhadap narasi penjualan sepak bola dengan kutipan yang sama dan tegas. “Nobody is selling football. This is not something Fifa would ever entertain.” Pernyataan itu diposisikan sebagai respons langsung terhadap interpretasi yang berkembang di luar tubuh FIFA.

Skema yang dipersoalkan: anak usaha komersial

Di balik perdebatan, rencana FIFA menitikberatkan pada pembentukan entitas komersial yang menjalankan agenda utama mereka, termasuk Piala Dunia. FIFA menyatakan ingin membuat sebuah perusahaan/anak usaha komersial untuk mengelola acara-acara utama dan membuka ruang bagi pihak eksternal.

FIFA menyebut bahwa pihaknya akan mengundang “third parties to make minority, non-controlling investments” pada sebuah entitas baru bernama Fifa Forward Enterprise (FFE). Istilah yang digunakan FIFA menandai bahwa investasi yang dimaksud adalah porsi minoritas dan tidak bersifat mengendalikan.

Dalam penjelasan FIFA, FFE diposisikan untuk memberi kesempatan kepada seluruh asosiasi anggota agar dapat memiliki kepemilikan yang “meaningful” terhadap peluang komersial sepak bola di negara masing-masing. FIFA menambahkan bahwa hal tersebut tidak boleh terjadi dengan mengorbankan “spirit” maupun tata kelola FIFA serta sepak bola itu sendiri.

Di sisi lain, UEFA menuduh FIFA menggunakan sepak bola untuk memperkaya diri mereka sendiri dan “friends”. Tuduhan tersebut menjadi bagian dari alasan UEFA untuk menempatkan boikot sebagai opsi bila usulan FIFA disetujui.

Insentif dukungan: USD 40 juta dan tenggat 19 September

Infantino sebelumnya mengirim surat kepada asosiasi anggota FIFA yang menyatakan bahwa mereka akan menerima USD 40 juta atau sekitar £30 juta apabila mendukung proposal tersebut. Surat tersebut juga memuat tenggat waktu 19 September sebagai batas bagi federasi untuk menerima rencana itu bila mereka ingin mengakses pembayaran awal sebesar USD 20 juta atau sekitar £15 juta.

Rincian insentif ini mempertegas bahwa proses konsultasi FIFA tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan paket dukungan finansial yang diproyeksikan bagi pihak yang menyatakan persetujuan. Bagi sejumlah otoritas, kaitan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperbesar kekhawatiran tentang arah pengambilan keputusan.

Thrive Eternal diperkirakan memimpin investor untuk FFE

Jika persetujuan diberikan, FIFA menyebut bahwa Thrive Eternal diperkirakan akan memimpin kelompok investor yang diusulkan untuk FFE. Thrive Eternal digambarkan sebagai firma modal ventura asal Amerika yang didirikan oleh Joshua Kushner.

FIFA juga menyebut hubungan Joshua Kushner dalam konteks keluarga politik AS, yaitu bahwa ia merupakan saudara dari Jared—yang merupakan menantu dari Presiden AS Donald Trump. Penyebutan ini menjadi bagian dari informasi yang menyoroti keterlibatan pihak eksternal yang ditargetkan dalam skema FFE.

Dengan kombinasi ancaman UEFA untuk boikot, penolakan dari 41 asosiasi anggota CONCACAF, serta kebutuhan suara 106 dari total 211 anggota, proses FIFA kini memasuki fase yang makin menentukan. Publik akan menunggu bagaimana asosiasi di luar UEFA dan CONCACAF merespons konsultasi, sekaligus apakah penjelasan FIFA tentang “investasi minoritas tanpa kontrol” mampu meredakan kekhawatiran yang muncul.

Di tengah ketegangan itu, FIFA memilih mempertahankan posisinya bahwa konsultasi tetap berada dalam jalur terbuka dan demokratis, sembari menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak akan melanjutkan langkah yang mereka sebut sebagai “penjualan sepak bola”. Pernyataan ulang ini menjadi penanda bahwa FIFA dan konfederasi-konfederasi besar masih berhadap-hadapan pada substansi tata kelola serta arah komersialisasi kompetisi internasional.