Olahraga

Meski Mengalami Sakit di Perkemahan, Inggris Tetap Amankan Emas Team Pursuit Commonwealth Games 2026

×

Meski Mengalami Sakit di Perkemahan, Inggris Tetap Amankan Emas Team Pursuit Commonwealth Games 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Commonwealth Games 2026: England win team pursuit gold despite sickness in camp

jurnalistik.co.id – Inggris meraih medali emas nomor team pursuit Commonwealth Games 2026 meski kondisi di perkemahan tidak ideal. Skuad harus menghadapi situasi darurat sebelum balapan, namun tetap mampu mengunci kemenangan atas Australia.

Di velodrome, rangkaian kejadian pada pagi hari lebih dulu menimbulkan kegelisahan. Setelah penampilan kualifikasi yang berantakan, juara dunia Josh Charlton tiba-tiba muntah, tepat di momen yang membuatnya harus berurusan dengan posisi dan perlengkapan tim.

Insiden itu terjadi setelah Charlton “threw up over his team-mate’s bike” pada bagian awal hari. Efeknya langsung terasa: ada perubahan terlambat pada komposisi, bahkan untuk susunan yang belum pernah mereka jalankan bersama sebelumnya.

Will Tidball menggambarkan kondisi tersebut dengan nada yang menggambarkan campuran antara peluang dan risiko. “I wasn’t actually meant to be doing this event this evening,” ujarnya. Ia melanjutkan, “To get subbed in, having not done any efforts in this team, or in this track, or in this order, it was always going to be a bit of a gamble.”

Namun, tekanan tidak hanya datang dari perubahan line-up. Pada kualifikasi, Inggris justru tertinggal dari Australia dengan selisih dua detik. Karena itu, pilihan strategi menjadi lebih sempit: mereka membutuhkan ritme yang bersih sejak awal agar bisa mengejar lawan yang sudah memiliki momentum lebih rapi.

Dalam format team pursuit, para pembalap memulai balapan sebagai empat orang sebelum kemudian turun menjadi tiga saat satu pembalap di depan menyelesaikan bagiannya. Ketiga pembalap akhir seharusnya bisa melintas garis finis secara bersamaan, tetapi di kualifikasi, Charlton menjadi terpisah ketika tersisa empat putaran.

Charlton masih berada dalam fase pemulihan dari tikungan terakhir ketika Charlie Tanfield dan Ethan Vernon sudah lebih dulu melewati garis. Tanfield kemudian menjelaskan bahwa situasi seperti itu menuntut penyesuaian, terutama karena ada strategi dalam pengaturan tinggi dan urutan putaran. “There is strategy in play, different heights and orders,” kata Tanfield. Ia menambahkan, “Me and Ethan finished ahead of them [Australia’s qualifying time].”

Menurut Tanfield, kunci awalnya sederhana namun tegas: ada target untuk memastikan tidak ada celah saat ritme dipertahankan. “We knew if a clean ride we could beat them,” ujarnya. Ia juga mengungkap bahwa dalam suasana yang terus berubah, ia berusaha menjaga fokus skuad, “I just kept reminding the lads – even if you are behind things can change.”

Karena perubahan menjelang final, Tidball, Tanfield, dan Vernon tampil bersama Henry Hobbs. Pembalap berusia 19 tahun itu menjalani kejuaraan besar pertamanya, dan tetap harus masuk ke peran penting di tengah tekanan lomba yang ketat.

Vernon menekankan bahwa perubahan susunan tidak mengubah tanggung jawab dasar di dalam balapan. “You have just got to go through your own process,” katanya. “It didn’t change what I had to do. I had the same role, same turn lengths and went through my own rhythm.”

Ketika final dimulai, momentum sempat condong ke Inggris lewat keunggulan awal. Australia kemudian perlahan mendekat dan mengambil kendali tepat setelah separuh balapan, membuat situasi terasa bergantung pada detail ritme dan ketahanan.

Bagian yang menentukan datang ketika Hobbs mampu bertahan jauh lebih lama dari skenario yang biasanya diharapkan. Vernon menilai momen itu terjadi pada saat yang tepat. “Henry did way longer than he should have done on the front and so did Charlie,” ujarnya.

Vernon juga menggambarkan bagaimana ia merasakan keseimbangan antara menjaga jarak dan menjaga rekan setim tetap dalam posisi. “I could tell we were up [ahead of Australia] but we were also starting to fall apart a bit,” katanya. Ia menambahkan, “I was glancing across the track and trying to do enough to not drop my team-mate but also stay ahead of the Aussies.”

Di fase akhir, jarak antar roda Inggris sempat mulai melebar seiring suara penonton yang makin memuncak. Tanfield dan Vernon pernah berada di skuad yang kalah dari Australia pada final Paris Olympics, sehingga mereka memahami bahwa ruang untuk kesalahan nyaris tidak ada.

Bagi Charlton, yang harus menonton dari luar lintasan, momen itu menjadi ujian psikologis. “It was more nerve-wracking than being in it,” kata Charlton. Ia menutup dengan keyakinan yang ia simpan sepanjang balapan, “It was tight at times but I had faith they were going to pull away at the end and they did.”

Inggris pada akhirnya menuntaskan race dengan margin 1.131 detik. Catatan waktu 3 minutes 47.092 seconds sekaligus menjadi rekor Commonwealth Games yang baru, sementara Australia kehilangan status juara.

Vernon menilai kemenangan ini bukan sekadar soal kecepatan di trek, melainkan sinyal kesiapan Inggris menjelang event-event besar berikutnya. Dalam pandangannya, Australia selalu siap dengan paket perangkat yang lengkap. “The Aussies always turn up to Commonwealth Games,” katanya. “They go full equipment, good skinsuit, good equipment, everything.”

Ia kemudian membedakan pendekatan Inggris untuk dua agenda besar. “In England we go with a different mindset. We save stuff for the Olympics. We don’t have the best skinsuits. We are doing the best we can and to beat them without that is special,” ungkap Vernon.

Bagi Tanfield, kemenangan ini menjadi emas Commonwealth Games keduanya. Ia mencatat keberhasilan kedua delapan tahun setelah meraih emas pertamanya pada nomor individual. Vernon menambahkan bahwa ia sudah menambah koleksi dari berbagai level, “others in the national, European and World Championships,” dengan tujuan besar berikutnya adalah Olimpiade.

Charlton kini berharap bisa kembali fit untuk nomor individual pada Jumat. Sementara itu, Tidball dan Charlton sama-sama mendapatkan medali Commonwealth Games pertama mereka. Charlton menyatakan, “I wasn’t quite on the money today but we will see how it goes tomorrow,” lalu menegaskan tekadnya, “I will give it everything I have got in me.”

Bagi Hobbs, arti kemenangan terasa lebih personal. Ia menyebut momen ini adalah debutnya sebagai elite, dan langkahnya ke panggung kompetisi besar tidak pernah ia anggap biasa. “It is my first year as an elite. Even getting selected for this was a big surprise,” katanya. “To pull off the win is amazing.”