jurnalistik.co.id – Billy Hogan, CEO Liverpool dan Fenway Sports Group (FSG), menegaskan bahwa rencana investasi dan transisi di klub belum sepenuhnya selesai. Ia berbicara kepada BBC Sport di New York, menjelang laga pramusim Liverpool melawan Wrexham di Yankee Stadium pada Rabu malam pukul 19:30 waktu setempat (00:30 WIB).
Menurut Hogan, meski ada sorak-sorai soal era baru di lapangan, pembahasan terpenting justru berada di luar stadion. Liverpool menatap perubahan setelah musim yang dianggap sangat sulit, dipicu berbagai alasan yang berbeda.
FSG, yang memiliki Liverpool, pekan lalu mengonfirmasi adanya pembicaraan dengan sebuah konsorsium untuk investasi strategis berskala minoritas. Konsorsium tersebut dipimpin Amit Bhatia, pengusaha Britania-India, dan pembicaraan disebut terus berlangsung.
Hogan menyatakan bahwa posisi FSG pada dasarnya konsisten: bila ada pihak yang menawarkan investasi yang dapat membantu klub sepak bola, FSG akan mempertimbangkannya. Ia menegaskan bahwa pada titik ini ia tidak “mengatakan apa pun yang berbeda” dari pernyataan resmi terkait konsorsium yang dimotori dan diwakili Bhatia.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan ini tidak boleh dibaca sebagai sinyal FSG mundur dari proyek Liverpool. FSG juga memiliki waralaba Major League Baseball, Boston Red Sox, tetapi Hogan menegaskan komitmennya tetap kuat terhadap klub yang berlaga di Premier League.
Financial Times melaporkan bahwa kesepakatan dengan konsorsium yang dipimpin Bhatia dapat menilai Liverpool di atas 4,5 miliar poundsterling. “Masih ada peluang besar,” kata Hogan, mengaitkannya dengan besarnya olahraga dan posisi Liverpool sebagai salah satu klub paling populer di liga yang paling bergengsi.
Hogan menambahkan bahwa Premier League memiliki momentum besar, dan Liverpool tidak merasa sudah mencapai puncak. Ia menyebut klub berada pada posisi yang baik untuk terus tumbuh, dengan fokus menjalankan rencana bersama antara sisi sepak bola dan sisi bisnis.
Dalam penuturannya, target setiap musim di lapangan adalah memenangkan trofi. Di luar lapangan, prioritasnya adalah mendorong pendapatan secara keseluruhan serta membangun dan memperluas klub secara berkelanjutan.
Hogan menyebut bahwa Liverpool puas dengan arah klub, termasuk capaian di Deloitte Football Money League ketika mereka menempati peringkat kelima. Ia juga mengungkapkan angka pendapatan tertinggi di Premier League sebesar 702 juta poundsterling, serta menegaskan bahwa investasi yang dilakukan—sejak FSG mengambil alih—berputar kembali untuk klub.
Ia menyoroti bahwa pada dasarnya ini tentang pengelolaan jangka panjang dan keberlanjutan. Meski demikian, Hogan juga berbicara soal dinamika yang membuat “transisi” menjadi bagian tak terelakkan dalam sepak bola.
Transisi skuad, kepelatihan, dan stabilitas
Musim yang baru berakhir dinilai mengecewakan, sehingga Arne Slot dicopot pada akhir kampanye. Di saat yang sama, pemain-pemain senior seperti Mohamed Salah, Andy Robertson, dan Ibrahima Konate juga pergi dengan status bebas transfer.
Bagi Hogan, musim panas ini memang sarat perubahan, termasuk di level struktural. Michael Edwards disebut mundur sebagai CEO sepak bola FSG, terutama karena rencana kepemilikan multi-klub dibatalkan, sementara Richard Hughes dikaitkan dengan kemungkinan langkah ke Al Hilal di Arab Saudi.
Meski situasi itu memunculkan pertanyaan soal stabilitas, Hogan menegaskan bahwa transisi adalah hal yang wajar. Ia menyampaikan bahwa hadirnya pelatih baru membawa kegembiraan, terutama karena Andoni Iraola membawa mindset dan filosofi yang menurutnya akan disukai para pendukung.
Berita Terkait
Hogan mengakui transisi membutuhkan waktu, tetapi ia ingin memberi pesan bahwa klub berada pada kondisi sehat. Kepemimpinan dari pihak pemilik disebutnya stabil, dan Liverpool menatap musim berikutnya dengan optimisme.
Ia juga menekankan bahwa perubahan personel tidak mengubah model klub. Menurut Hogan, musim lalu memang ada investasi besar, namun di saat yang sama penjualan pemain juga menghasilkan pemasukan yang penting untuk keseimbangan.
Ia menyatakan bahwa selama masa FSG, investasi diarahkan pada kebutuhan untuk membawa klub pada kondisi yang tepat agar bisa memenangkan trofi. Hogan mencontohkan bahwa kadang keputusan memerlukan pengeluaran signifikan, sementara pada kesempatan lain langkahnya bisa berbeda, seperti musim panas 2024 yang hanya mendatangkan satu pemain, Federico Chiesa, dengan biaya 12,5 juta poundsterling.
Di bagian keputusan, Hogan menyebut Mike Gordon sebagai managing owner yang pada akhirnya menentukan arah dan pilihan saat perbaikan dibutuhkan. Ia ingin menggambarkan bahwa pengeluaran, penambahan, hingga strategi perbaikan mengikuti kebutuhan nyata klub.
Perhatian pada Liverpool Women
Hogan menyebut bahwa perhatian terhadap tim putri juga semakin meningkat. Ia mengingatkan bahwa Liverpool Women finis di posisi 11 klasemen WSL musim lalu dan belum meraih gelar liga tertinggi sejak 2014.
Untuk bagian itu, Hogan mengaku bersikap kritis terhadap apa yang selama ini kurang diperhatikan. Namun ia menegaskan ada perubahan, termasuk peningkatan fasilitas latihan di AXA Melwood dan rencana investasi untuk skuad.
Ia menyatakan pendekatan terhadap tim putri akan sama seperti tim putra, yaitu mengelolanya secara berkelanjutan. Hogan juga menilai permainan sepak bola putri memiliki pertumbuhan besar dan membuka peluang yang signifikan ke depan.
Membangun Anfield dan “pondasi” jangka panjang
Hogan menilai penting untuk mengingat perjalanan Liverpool sejak FSG mengambil alih pada 2010, ketika klub bahkan berada di ambang masalah besar. Ia menyebut bahwa proses tidak selalu berjalan mulus, termasuk langkah-langkah terkait tiket yang pernah memicu reaksi dari fans.
Ia mengungkap bahwa FSG sempat menyampaikan pandangan kepada pendukung terkait kenaikan harga tiket, lalu ukuran rencana kenaikan untuk beberapa musim berikutnya dipangkas setelah protes. Namun ia menegaskan bahwa di bawah FSG, Anfield mengalami transformasi nyata, dengan dua dari empat tribun dibangun dalam satu dekade terakhir.
Hogan menekankan satu fokus yang terus dikejar: memperbaiki area sekitar Anfield dan lingkungan sekitar klub. Ini mencakup infrastruktur maupun transportasi, agar orang bisa menikmati stadion pada hari non-laga, serta menjaga “jiwa” Anfield sambil memodernisasi fasilitas dengan cara yang sesuai identitas klub.
Ia berkata sepak bola tidak memberi waktu untuk berhenti dan merenung terlalu lama. Tetapi ia menyebut hal yang paling ia banggakan adalah klub memiliki fondasi yang benar sekarang, sesuatu yang dulu sangat jauh karena kondisi klub saat itu.
Pada akhirnya, Hogan kembali ke ukuran paling dasar: memenangkan trofi. Ia juga menaruh perhatian pada pengalaman pendukung, termasuk momen fan park ketika final Liga Champions, yang menurutnya memberi kegembiraan dan kenangan kolektif.
Ia menutup dengan keyakinan bahwa semua orang yang terhubung dengan Liverpool seharusnya merasa bangga, karena fan park, kenangan, dan keceriaan itu datang bersama-sama. Hogan menyampaikan harapannya agar klub terus menjadi yang terbaik di dunia.












