jurnalistik.co.id – Rencana FIFA yang membuka jalan bagi penjualan saham kompetisi kepada investor swasta memicu reaksi keras di Eropa. Sikap itu datang dari pertemuan darurat yang melibatkan para pemangku kepentingan sepak bola benua biru.
Dalam pernyataan resmi, UEFA menyebut ada 55 asosiasi anggota sepak bola Eropa yang sepakat mengambil langkah tegas. Ancaman yang disampaikan bersifat langsung: boikot Piala Dunia bila FIFA tetap melanjutkan rencana tersebut.
Gianni Infantino selaku Presiden FIFA dinilai berupaya mendorong proposal yang menjadi pemicu utama perdebatan. UEFA menempatkan isu ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan menyentuh prinsip pengelolaan kompetisi global di bawah FIFA.
Keputusan lewat rapat darurat
Menurut laporan dari BBC Sport yang dikutip Kompas, keputusan tersebut diputuskan melalui sebuah rapat darurat. Pertemuan itu digelar secara virtual pada Kamis (30/7/2026) dan dipimpin langsung oleh Presiden UEFA Aleksander Ceferin.
Suasana pertemuan dilaporkan intens, terutama setelah muncul penentangan dari berbagai konfederasi. UEFA menyatakan, penolakan itu juga sejalan dengan reaksi sebelumnya yang datang dari CONCACAF.
CONCACAF selaku konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia disebut telah menentang gagasan serupa. Konfederasi itu menaungi 41 asosiasi anggota, sehingga penolakan lintas kawasan mulai membentuk tekanan yang lebih luas terhadap FIFA.
Dalam rapat yang sama, pihak sepak bola Inggris ikut menyuarakan penolakan. Ketua FA Debbie Hewitt dan Kepala Eksekutif Mark Bullingham menyampaikan sikap mereka terhadap proposal yang dinilai kontroversial tersebut.
Inti keberatan: Piala Dunia bukan produk investasi
UEFA menegaskan bahwa para asosiasi berada dalam posisi bersatu untuk menolak komersialisasi berlebihan pada turnamen-turnamen major di bawah naungan FIFA. Pernyataan itu disertai kutipan yang menekankan watak Piala Dunia sebagai warisan olahraga.
“Piala Dunia tidak dapat diperlakukan sebagai produk investasi,” demikian pernyataan resmi UEFA dikutip dari BBC Sport, Jumat (31/7/2026).
“Ini adalah salah satu warisan olahraga sepak bola terbesar. Warisan ini telah dibangun selama beberapa generasi oleh para pemain, tim nasional, dan pendukung di setiap benua.”
Berita Terkait
UEFA juga menegaskan batas yang tidak bisa dilampaui terkait kepemilikan dan kontrol. Dalam kutipan lain, UEFA menyatakan, tidak ada bagian dari kompetisi tersebut yang boleh dialihkan kepada investor swasta.
“Tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta . Piala Dunia tidak untuk dijual.”
Selain menolak substansi rencana, UEFA juga menyoroti cara proses penyusunan proposal yang dinilai dilakukan secara tertutup. Bagi UEFA, aspek prosedural ini dianggap ikut memperparah persoalan.
Menolak transfer kepemilikan saham, mengecam proses yang tertutup
UEFA menyatakan bahwa mereka menolak pengalihan kepemilikan saham kompetisi kepada pihak swasta. Penolakan tersebut disampaikan secara tegas dan dikaitkan dengan konsekuensi bagi asosiasi nasional bila FIFA tetap melangkah.
“Kami dengan suara bulat dan tanpa ragu menolak proposal FIFA untuk mentransfer kepemilikan saham di Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta,” lanjut pernyataan tersebut.
UEFA juga mengecam proses penyusunan proposal yang dinilai tertutup. Dalam pernyataan itu, UEFA menilai tidak bertanggung jawab bahwa proposal penting bagi sepak bola dunia disusun secara rahasia.
“Ini bukan hanya kegagalan kepemimpinan yang mendalam, tetapi juga pengabaian tugas FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia.”
UEFA kemudian menyampaikan bahwa asosiasi nasional di seluruh dunia menghadapi pilihan yang bersifat ultimatum. Menurut UEFA, asosiasi akan diminta untuk menerima pengambilalihan permanen atau menghadapi konsekuensi yang menyertainya.
“Asosiasi nasional di seluruh dunia kini dihadapkan pada ultimatum: menerima pengambilalihan permanen kompetisi sepak bola terbesar atau menanggung konsekuensinya.”
Dari rangkaian pernyataan itu, ancaman boikot Piala Dunia diposisikan sebagai respons kolektif yang tidak hanya ditujukan untuk menolak mekanisme komersial baru, tetapi juga untuk mempertahankan karakter kompetisi global yang selama ini dibangun bersama oleh pemain, tim nasional, dan pendukung di berbagai benua.
Dengan dukungan 55 asosiasi anggota sepak bola Eropa, UEFA berupaya memperkuat posisi tawar di tengah rencana FIFA. Pada saat yang sama, suara penolakan dari konfederasi lain seperti CONCACAF ikut menambah tekanan agar FIFA meninjau kembali proposal tersebut.
Jika rencana penjualan saham kompetisi kepada investor swasta tetap berjalan, UEFA menyatakan sejumlah asosiasi telah menyiapkan langkah tegas. Ancaman boikot itu menjadi sinyal bahwa perdebatan di sepak bola dunia kini memasuki fase yang lebih konfrontatif di luar arena lapangan.











