Olahraga

FIFA Paksa “Hening” di Piala Dunia 2026, Larang Vuvuzela

0
×

FIFA Paksa “Hening” di Piala Dunia 2026, Larang Vuvuzela

Sebarkan artikel ini
Piala Dunia 2026 Dipaksa 'Hening', FIFA Larang Penggunaan Vuvuzela Bola 7 Juni 2026
Ilustrasi: Piala Dunia 2026 Dipaksa

jurnalistik.co.id – FIFA kembali memperkenalkan kebijakan yang memicu reaksi dari pendukung sepak bola menjelang Piala Dunia 2026. Kali ini, aturan baru menarget kebiasaan di dalam stadion yang selama ini identik dengan atmosfer pertandingan.

Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan laga pembuka melibatkan Meksiko vs Afrika Selatan di Stadion Banorte pada Jumat (12/6/2026). Dengan waktu pertandingan yang kurang dari seminggu, sejumlah kebijakan FIFA membuat para suporter merasa aktivitas mereka di stadion menjadi lebih terbatas.

FIFA memastikan stadion “hening” dengan larangan vuvuzela FIFA memastikan suasana “hening” usai melarang penggunaan terompet vuvuzela di semua tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Terompet plastik ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai ciri yang melekat pada dukungan dari Afrika, khususnya yang muncul saat Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Dalam beberapa tahun setelah turnamen tersebut, vuvuzela sempat menjadi ikon Piala Dunia. Namun, kini FIFA memasukkannya ke dalam daftar barang yang dilarang untuk digunakan selama gelaran Piala Dunia 2026.

Barang lain yang dinilai terlalu berisik juga dilarang Selain vuvuzela, FIFA juga melarang sejumlah alat yang dinilai dapat menambah kebisingan selama pertandingan. Dalam ketentuan yang disebutkan, peluit, klakson udara, perangkat suara, serta perangkat lainnya termasuk dalam daftar barang yang tidak boleh digunakan.

Larangan ini membuat kebiasaan yang biasanya dilakukan pendukung sepak bola tidak lagi bisa diterapkan saat kompetisi berjalan. Suporter yang menilai vuvuzela sebagai elemen penting dalam budaya sepak bola pun bersinggungan dengan pandangan lain yang menganggap suara bisingnya terlalu mengganggu kenyamanan.

Vuvuzela dikenal menghasilkan suara dengungan yang terus-menerus, sehingga menjadi salah satu ciri yang paling melekat dari turnamen tersebut. Mengacu pada laporan yang dikutip dari World Soccer Talk, vuvuzela mampu mengeluarkan suara hingga 120 desibel.

Angka tersebut disebut setara dengan tingkat kebisingan gergaji mesin dan hampir mencapai ambang batas yang dapat menimbulkan rasa sakit pada pendengaran manusia. Karena itu, larangan menjadi bagian dari upaya FIFA membatasi penggunaan perangkat yang dinilai memicu gangguan suara selama pertandingan berlangsung.

Alasan larangan: komunikasi pemain-wasit dan siaran Berdasarkan regulasi FIFA, penerapan larangan ini berkaitan dengan potensi gangguan komunikasi antara pemain dan wasit. Selain itu, FIFA menyatakan penggunaan alat tersebut juga menyulitkan proses siaran pertandingan.

Dengan demikian, kebijakan yang sama tidak hanya berdampak pada pengalaman di tribun, tetapi juga pada kelancaran komunikasi di lapangan dan penyajian siaran kepada penonton.

FIFA juga melarang botol air yang bisa digunakan kembali Selain aturan terkait vuvuzela dan perangkat bising lainnya, FIFA juga melarang penggunaan botol air yang bisa digunakan kembali selama gelaran Piala Dunia 2026. Larangan ini mempertegas bahwa kebijakan di stadion tidak hanya menyasar “suara”, melainkan juga aspek perlengkapan yang biasa dibawa pendukung.

Dalam pemberitaan yang sama, pertandingan Piala Dunia 2026 disebut akan dimainkan di sejumlah venue, termasuk Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Stadion tersebut disebut menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan turnamen.

Kontroversi kebijakan ini muncul ketika Piala Dunia 2026 dinilai seharusnya menjadi ajang penuh kebahagiaan, tetapi aturan yang dibuat FIFA justru membuat pengalaman suporter terasa semakin terbatas. Bagi sebagian pendukung, larangan-larangan ini menutup ruang ekspresi yang sudah lama menjadi bagian dari identitas pertandingan.

Meski begitu, FIFA memilih menerapkan larangan menyeluruh untuk memastikan pertandingan tetap berjalan dengan komunikasi yang lebih terjaga dan siaran yang lebih teratur. Di bawah ketentuan itu, vuvuzela yang dulu populer pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kini harus ditinggalkan saat turnamen edisi 2026 berlangsung.